Sunday, 15 February 2015

Profil: Alexander Meier - Striker Klasik Raksasa

Akhir akhir ini kasta tertinggi sepakbola Jerman atau yang lebih beken disebut Bundesliga sedang panas oleh salah satu pesepakbola dari Waldstadion, homebase dari kontestan Bundesliga, Eintract Frankfurt.

Ya, salah satu klub papan tengah Bundesliga ini sedang berada dalam status aman untuk terus bertahan di Liga, ya setidaknya untuk musim ini. Dengan materi pemain yang cukup bernama dan bertalenta seperti ex-Chelsea Lucas Piazon, bintang Timnas Jepang Makoto Hasabe atau pemuda yang telah menjadi andalan Timnasnya seperti Haris Seferovic. Namun tercatat ada yang lebih melejit dari ketiga nama tersebut saat ini. Nama ini yang akan menjadi topik bahasan pada tulisan saya terkini.



Sesuai judul diatas, saya akan mencoba membahas Alexander Meier, nama yang akhir akhir ini sering diributkan oleh berberapa situs olahraga dalam tema Sepakbola Jerman.

Alexander Meier, sang striker bertalenta unik yang lahir di kota kecil Jerman, Buchholz pada tanggal 17 Januari 32 tahun silam. Ya saya katakan unik karna dirinya adalah seorang striker bertubuh raksasa dengan tinggi 196cm dan bobot 96kg! supaya dramatis saya ulangi lagi, 96kg pemirsa!

Tidak mengherankan seorang striker harus memiliki tubuh yang ideal untuk berlari cepat dan lincah, karna hal itu agar dapat membantu mereka untuk melewati lawan yang menjaganya, dan apalagi di sepakbola modern aspek tersebut adalah modal utama agar mendapat sukses diposisi sebagai lumbung gol utama klub. Namun siapa sangka jika seorang striker berbobot 96kg berhasil mematahkan seluruh prediksi dengan mencetak 14 gol dari 19 pertandingannya bersama Frankfurt sepanjang musim ini!



Mulai dari awal, ketika seorang Meier lahir di Buchholz - Jerman Barat, kota yang terpisah sejauh 320km dari Ibukota Berlin. Langsung ke kehidupan sepakbolanya. Karir juniornya dimulai dari klub lokal JSG Rosengarten (1988–1989), TuS Nenndorf (1989–1990), TSV Buchholz 08 (1990–1995) lalu Hamburger SV (1995–1998). Meier langsung mencoba peruntungan sejauh 32km ke salah satu klub sepakbola berbasis dekat Hamburg, St. Pauli - Saat itu Meier baru berusia 18 tahun.



Setelah 2 tahun mencicipi bermain bersama St. Pauli bakatnya langsung tercium tim scout dari rival sekota St. Pauli, Hamburg SV. Namun nasibnya tidak lebih baik ketimbang di St. Pauli. Di Hamburg, Meier lebih banyak bermain bersama tim muda atau yang bekennya disebut reserves Hamburg SV.
Tak menyerah dengan keadaan. Meier tidak bunuh diri, tidak juga bunuh karir sepakbolanya. Justru dirinya langsung memutuskan untuk pindah ke klub promosi Eintracht Frankfurt, disitulah awal karir sepakbolanya dimulai. Pada musim debutnya 2004/05 ia langsung bawa Frankfurt untuk promosi di Bundesliga,



Dari data diatas saya simpulkan, selain ketajaman dan kekuatan, Meier juga memiliki kedisiplinan yang tinggi! Bayangkan jika pemain sekekarnya bisa hanya tercatat 2 kali mendapatkan pengusiran dari lapangan dan nihil kartu merah langsung! Sangat membuktikan bahwa Meier pun menjadi salah satu pemain yang paling bisa diandalkan di Frankfurt.

Saya akui bahwa saya kekurangan referensi data visual untuk menilai pemain ini. Youtube yang biasanya saya jadikan acuan malah tidak ada, cuman ada video proses terjadi golnya, bukan penampilan 90 menitnya. Namun situs data terpercaya saya whoscored.com menilai bahwa Meier memiliki karakter bermain yang cukup positif dan dianggap pula sebagai salah satu striker komplet dikelasnya.



(+)Aerial Duels

Dengan postur menjulang dan badan yang kekar maka tidak salah jika koresponden whoscored menilai kekuatan terbaiknya berada dalam hal ini.

(+)Finishing

Saya setuju sekali dengan penilaian ini, sebagai salah satu modal utama sebagai striker. Untuk masalah kecepatan memang kalah, namun tunjangan dari pemain dibelakang striker untuk lakukan finishing setelah dibantu dibuka ruang tembaknya, itu bisa menutupi kelemahannya.

(+)Heading Attemps

196cm masbrooo

(+)Holding on to the ball

96kg masbrooo

(+)Longshoot

Well, sejalan dengan awal pemikiran saya bahwa dirinya bukanlah tipe yang suka meliuk-liuk. Meier bisa dibilang tipe striker klasik, ada kans lalu tembak.

(-)Passing

Jangan berkecil hati um, ahli passing bukanlah kebutuhan utama untuk menjadi seorang striker.

Sepakbola adalah salah satu cabang olahraga terunik, kita hampir mustahil untuk menumpas tuntas habis dari permainan yang ditemukan di China dan baru dikenal ketika dimainkan oleh buruh di Inggris ini. Sejarahnya sangat panjang dan penuh dengan warna-warni dari segala aspek. Salah satu warna sepakbola adalah seorang Alexander Meier, striker klasik yang sukses di kehidupan sepakbola modern. Semoga pemain sepertinya akan terus tersedia secara berkesinambungan sehingga warna dalam sepakbola tidak akan berkurang, sedikitpun.

Wednesday, 4 February 2015

Si Kampret Culun yang Masuk Forum Blogger - Jamban Blogger.

Sejak si Xeryz (Laptop kesayangan gue yang ribet aneudt namanya) kembali kepelukan, kini gue lebih aktif lagi blogging. Nah, buat supaya kehidupan blogging gue ga terlalu datar, gue gabung ke salah satu forum untuk para blogger, namanya Jamban Blogger.



Awal ketemu sih sebenernya udah lama, udah lama tau kemudian terlupakan - gilak mirip banget sama kisah gue sama si gebetan yang mungkin emang beneran lupa sama gue sekarang. Si anjer curhat lagi. Balik ke topik, nah si forum ini sempet gue lupain padahal waktu pertama tama denger udah buru buru pengen gabung, namun karna ya-lu-tau-ke-sibukan-gue-lah-stalk-gebetan akhirnya baru sejak 2 februari 2015 pukul 22.30 WIB, gue dengan username farhanmaulana RESMI bergabung dengan salah satu forum blogger ternama di tanah air.



Sedikit informasi buat kalian yang mungkin belum tau atau yang ingin bergabung. Jamban Blogger adalah salah satu forum yang menjadi wadah bagi para blogger untuk seorang user terdaftarnya mendapatkan informasi dan untuk TS (Thread Starter) agar dapat membagikan informasi yang tentunya kurang lebih bermanfaat.

Jamban Blogger didirikan pada tanggal 10 januari 2013 oleh Hena Wirasatya. Nah mas Hena ini juga punya blog, lucu juga sih kalo doi pendiri forum blogger tapi gapunya blog *tepok jidat*.  Blog mas Hena gue tandai warna biru di nama. Nah, sesuai dengan tema blog dan jargonnya 'fun with food' doi spesialis pengamat makanan atau yang suka wisata kuliner gitu, nah doi pengamat tapi bukan cuma diliatin doang, makanannya juga dicicipi lalu di deskripsikan rasanya, namun doi lebih dikenal luas sebagai comic.

Sebagai seorang blogger yang bener bener kampret bin culun yang bahkan masih bingung cara buat replies atau buat thread di forum begituan dengan demikian merasa perlu banget nih nimba ilmu ke master master disono. Kali aje dengan semakin membaiknya blog yang sejalan dengan arus visitornya gue bisa diangkat terbang kembali sebagai pangeran khayangan yang tentunya abis dapetin kamu oh gebetan.

Udah itu aja.

Tuesday, 3 February 2015

No Signing, No Problem.

RESMI: Liverpool tidak mendatangkan satupun pemain (lagi) di jendela transfer musim dingin. Seperti yang mereka lakukan pada musim lalu.

Fakta diatas cukup mencengangkan karna kenyataan bahwa seharusnya Liverpool menambah amunisi baru setelah tampil cukup terseok seok dari awal musim sampai pertengahan musim kali ini. Cuma mencetak 29 angka dan berhak menduduki posisi atas PAPAN TENGAH klasemen 20 laga awal, cukup kontras dibanding musim lalu.


Itulah alasan pentingnya untuk Liverpool melakukan pergerakan pada jendela transfer musim dingin ini. Namun yang terjadi justru Liverpool cukup aktif dalam menjual pemain, winger Oussama Assaidi dan pemuda potensial Suso Fernandez jadi korban kebijakan manajemen. Oke kedua pemain tersebut memang dinilai tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Rodgers, namun apakah Rodgers tidak berpikir bahwa dirinya mesti mengganti kedua pemuda 'buangan'nya tersebut dengan wajah baru yang sesuai dengan ekspetasinya? Dengan keadaan tim yang awal musim mendatangkan 9 pemain dengan bandrol fantastis £100 Juta!

Yasudah, seperti halnya aku dan mantanku, kalau waktu bisa diulang kembali mungkin kamu gak akan aku biarkan disebut mantanku saat ini, namun waktu tidak bisa diulang, nasi yang diberi kecap dan di goreng telah menjadi nasi goreng dan tidak bisa menjadi padi seperti semula, winter transfer window telah ditutup, Liverpool gagal mendaratkan satupun pemain.

Oke, gue bukan tipe fans kacangan yang kalo situasi tim yang awalnya dibela seburuk ini langsung hopeless, sebagai fans gue ga kaya gitu namun sebagai cowo gue bukan tipe yang gampang nyerah, soalnya gue g... *Curhat lg gue timpuk lu an.

Yup. Dalam artian gue gaakan hilang harapan dengan gagalnya Liverpool di awal musim ini, justru gue yakin dengan starting XI yang gue susun dan perkirakan ini bakal membantu Liverpool kembali ke 4 besar (sesuai target awal) dan kembali duduk manis di Liga Champions. Yeaas! Ini adalah pemain dan formasi pilihan terbaik gue sejak gue perhatiin LFC dari awal musim sampe tulisan ini dibuat.





Dengan rasa tanggung jawab tinggi agar para reader ngerti, gue jelasin bagaimana formasi ini berjalan. Gue jelasin satu persatu peran di sektor pemain masing-masing.

1. Kiper, Simon Mignolet
Ah udahlah, ibarat lu minum air dibotol Aqua, tinggal buka tutup botol langsung srupppp... Pengisi posisi ini gampang banget ditebak! Apalagi pas Brad Jones cedera dan Mignolet kembali membuat kepercayaan seluruh pihak klub meningkat akibat performa aslinya kembali.

Jangan tersinggung buat fansnya Brad Jones atau Danny Ward bahwa kiper Belgia tersebut sampai saat ini belum mendapatkan pelapis ketat yang setidaknya dapat dipercaya penuh diajang lain atau ketika Mignolet kembali ke performa jeblok *paiit paiit*.

Selain itu gue juga mau komentarin tentang tipe bermainnya yang berkarakter kiper 'kekinian banget'. Ya, kemampuan seperti yang dimiliki berberapa kiper terbaik dieranya seperti Oliver Kahn, Pepe Reina dan Manuel Neuer, yaitu sebagai Ball-Playing-Keeper. Mereka yang gue sebutin punya kemampuan kaki yang luar biasa bagi kiper. Mignolet menjadi aset berharga milik Liverpool saat ini jadi sepantasnya manajemen berbijak dengan baik menanganinya.

2. Bek, Can - Skrtel - Sakho
Kalo posisi ini ya semi-heavy lah milihnya, apalagi kalo untuk pemilihan bek disektor Can, karna saat ini Liverpool bisa dibilang memiliki 2 bek yang baru saja menunjukan sinarnya, dan bisa dibilang telat bagus.

Yang gue maksud adalah duo muslim Sakho dan Toure. Kedua pemain ini sama-sama datang di musim lalu dan baru menunjukan sinarnya pada keduanya di Liverpool. Nah, sejak Rodgers memakai formasi 3 bek sejajar, mereka dengan berberapa penampilan apik di awal musim ini berhasil masuk sebagai pemain penting di lini depan, bahkan Sakho berhasil menggusur manusia £20 Juta, Dejan Lovren.

Lovren yang digadang-gadang sebagai pengganti Daniel Agger sebagai duet dengan Martin Skrtel. Namun dengan formasi 2 bek sentral Liverpool gagal total dimusim ini, lalu ketika memakai 3 bek sejajar dengan masih adanya Lovren sebagai starter Liverpool tidak tampil membaik. Akhirnya setelah masalah kedisiplinan Sakho dengan Rodgers kelar, Lovren perlahan-lahan tergusur dari skuat reguler main. Puncaknya ketika kekalahan 3-0 atas MU di Old Trafford.

Sementara Toure sih sebenarnya bagus, namun gue sebenernya kurang sreg gimana gitu, ya mungkin  faktor umur jadi pembeda dalam pemilihan gue. Kita punya masa depan Liverpool dalam diri Emre Can, si ganteng agak mirip gue yang berusia 20 tahun. Jelas Toure sudah kehilangan kelincahannya dan Can menang banyak soal reflek, apalagi sejak Toure absen akibat membela negaranya di Piala Afrika, kepercayaan diri Can dalam skuat semakin bertumbuh. Namun tetap pengalaman dan emosi masih susah untuk dikelabui Can atas Toure - seperti soal untuk mencari jalan terbaik dalam meredam serangan lawan dimana itulah yang menentukan seberapa besar skill dan dewasanya seorang bek.

Jadi, Rodgers patut bijak ketika kembalinya Toure ke skuat. Namun gue prefer Can karna jelas, selain ganteng dirinya juga belum punya masalah besar dalam bermain. Sementara Kolo mulai kehilangan fokus. Sekali lagi faktor U menjadi pembeda.

Posisi yang didiami Sakho cukup rentan serangan balik, apalagi jika Liverpool memakai Wing-back berkarakter lebih menyerang seperti Lallana, maka gue kira Sakho mesti lebih teliti dalam berganti posisi dengan cepat, dari posisi full back hingga ketika membantu menggalang pertahanan bersama Skrtel.

Tugas Skrtel sepertinya gampang-susah karna pekerjaannya sebagai pelindung gawang Mignolet yang terakhir atau biasa disebut tembok terakhir, namun mudahnya karna selain dirinya hanya fokus bertahan (doi masih sering maju dalam situasi bola mati untuk Liverpool), ia juga banyak dibantu oleh 2 bek lainnya.

Sementara Can memiliki tugas yang relatif berat karna disini dia berusaha menjadi 2 figur, yaitu penyuplai bola dari samping, pemotong alur serangan samping juga sebagai bek yang bertahan. Semua tugasnya itu mesti memiliki totalitas yang tinggi jika tidak skema bertahan atau serangan balik yang diusung Rodgers diwaktu yang bersamaan bisa gagal.

3. Gelandang Sentral, Henderson - Lucas
Agak sulit memilih posisi ini, LFC punya Gerrard yang akan hengkang akhir musim dan Joe Allen yang cukup fenomenal. Namun yang paling realistis adalah memasukan nama Lucas dan yang pasti Henderson.

Mengganti Gerrard dalam skuat utama disisa musim ini agaknya layak dilakukan, hal tersebut agar bisa membuat tim terbiasa bermain apik walau tanpa seorang karismatik Gerrard yang resmi meninggalkan LFC pada akhir musim nanti, gue juga gak masukin Joe Allen disini, oshi gue belum jadi yang terbaik antara Lucas atau Henderson. Allen memang seorang yang fenomenal, visi operan yang luas, lugas dan tepat menjadi sisi fenomenalnya sejak didatangkan Rodgers 2012 lalu, namun konsistensi permainan serta masalah cedera bener bener ganggu oshi gue ini untuk menunjukan kemampuannya yang lebih baik lagi.

Henderson yang diplot sebagai kapten akan memegang peranan paling sibuk. Gue gadangkan dirinya bakal menjalani 3 posisi sekaligus! Yaitu sebagai cover posisi Lucas sebagai gelandang pengatur alur bola dari sektor pertahanan, cover posisi wingback kanan serta menjadi pemain pengatur tempo. Ya jelas, untuk mengatur tempo permainan adalah yang sangat sulit, tugas tersebut memerlukan kemampuan Allen dalam hal mengoper dan kelugasan dalam bermain seperti Gerrard. Namun dengan stamina yang dimiliki Hendo serta kemampuannya yang terus berkembang maka tugas ini bukan hal yang terlampau berat baginya.

Sementara Lucas seperti yang udah gue deskripsikan diatas bahwa tugasnya sebagai istilahnya jembatan antar lini sekaligus pemotong alur serangan pertama dalam skema serangan musuh. Kemampuan tekelnya dan uluran kaki Henderson bisa menjadi hal untuk memudahkan dirinya dalam melakukan tugas ini.

4. Gelandang Sayap, Lallana - Coutinho
Gue agak bertaruh ya dengan keputusan ini, memakai 2 gelandang sayap atau yang biasa disebut wing back bertipe menyerang seperti Lallana dan Cou. Tapi dengan cara Liverpool bermain yaitu menunjung tinggi pressing dan menyalakan alarm bertahan sejak lawan memegang bola di tengah lapangan namun tetap memiliki kecepatan atau agresifitas dalam menyerang maka gue nilai kedua pemain ini cocok abis!

Dalam foto formasi diatas cukup menjelaskan bahwa tugas Lallana adalah sebagai wingback yang membantu serangan serta membantu Lucas ketika Hendo sedang telat turun bantu Lucas ketika dalam situasi diserang balik. Sementara Coutinho dengan segala kemampuan dan lemahnya, doi hanya fokus nyerang dan akan sering swipe posisi dengan Henderson. Kadang doi bisa jadi gelandang dibelakang striker tunggal, sehingga Hendo yang bisa mengisi pos gelandang sayapnya. Enaknya punya seorang seperti Hendo begitu. Doi dengan hebatnya gak fokus dalam satu posisi, gatel buat terus bergerak mencari posisi yang bisa di back up gak salah kalo total assistnya sampai saat ini sudah sebanyak 6 assist. Kreatif!

Sebenernya Lallana bersaing ketat dengan Moreno yang akhir akhir ini juga mainnya mulai klop dan keliatan bagusnya. Namun dengan kekurangannya dalam hal transisi bermain takutnya doi sering kalah duel dan miss komunikasi sama Sakho. formnya belum terllau konsisten pula.

5. Striker, Sterling - Sturridge - Ibe
Posisi striker ini bisa dibilang posisi yang mesti banyak memiliki chemistry tinggi. Karna Rodgers memiliki 3 striker didepan dan skema akhir serangan Liverpool juga bagaimana ketiga pemain ini bekerja, bagaimana pula cara membongkar pertahanan lawan mereka mesti memiliki jawaban tersebut.

Tanpa adanya sang mantan indah, Luis Suarez maka praktis di lini depan, Sterling dan Ibe mesti membantu Sturridge dalam bermain, karna sesuai dengan kapabilitas, Sturridge tidak memiliki banyak kemampuan untuk seperti Suarez, yang dalam satu sisi bisa sebagai striker yang tajam namun dilain sisi bisa memberikan ruang untuk pemain lain. Sesuai pengalaman, Sturridge tidak terlalu bugar dalam melakukan kedua hal ini secara bersamaan. Cukup sebagai striker pencetak gol yang ditopang duet padunya Sterling dan Ibe. We have triple beast in the front!

Saturday, 31 January 2015

Dadah Me and Liverpool FC, Welcome Kata Farhan!

Halo pembaca blog yang abis kena sial gara-gara baca-baca di blog ini. Terhitung mulai akhir Januari ini atau tepatnya 31 januari 2015. Me and Liverpool FC berubah menjadi 'Kata Farhan'. YEAH! Tepuk tangan sodara sodara...

Alasannya karna selama ini gue merasa visitor yang-banyak-di-blog-ini (1 orang tiap harinya-itu gue sendiri) rata-rata mungkin tidak semuanya adalah Kopite atau nama lain fans Liverpool. Gue siap buat rangkaian kata-kata yang subjeknya gak stagnan tentang LFC, selama ini gue cukup kesulitan buat nulis karya gak penting gue karna berdasarkan tema blog ini adalah Liverpool FC, namun karna gue itu tipe orang yang cukup aktif berbaur dengan hal lain maka segalanya mulai berubah sejak Bekasi buat negara serikat. Haha no offense buat viewer dari Bekasi. Engga mulai hari ini berubah maksudnya.

Dan mau terimakasih buat viewer yang sudah menyempatkan diri berkunjung ke blog datar ini. Semoga diberi kebahagiaan selalu dan kejang kejang setelahnya. YNWA!

Wednesday, 28 January 2015

3 Hal Yang Menjadi Ujung Jendela Transfer Januari Idaman

Jendela transfer Januari benar-benar menarik perhatian, jendela transfer ini diadakan tiap pertengahan musim, namun perpindahan pemain secara konsisten selalu terjadi dan tidak sedikit transfer besar pun pernah terjadi dalam periode ini, termasuk Liverpool.

Liverpool sendiri pada musim-musim yang lalu pernah merasakan bagaimana tim melakukan pergerakan lincah dan besar di pasar untuk mencari berberapa pemain yang berkualitas yang utamanya dinilai mampu menutup berberapa kelemahan yang kurang mampu ditutupi berberapa pemain di awal musim.

Namun, Liverpool saat ini sedang terpuruk, benar-benar terpuruk. Setelah masih tertahan di sektor tengah klasemen sementara Liga Primer, mereka juga harus tersingkir awal di Liga Chhampions setelah Basel mampu menunjukan penampilan yang menakjubkan untuk melengserkan Liverpool dan membawa mereka ke fase final, sementara baru baru ini mereka juga tersingkir secara menyakitkan di tangan Chelsea dalam semi final Piala Liga.

Setelah terpuruk di klasemen dan gugur di dua ajang penting, sebenarnya mereka masih menyimpan kans untuk juara di Liga Eropa dan Piala FA. Namun dengan keadaan skuad seperti saat ini, kayaknya skuad mesti diperkuat.

Rodgers mengakui bahwa beban pembelian pemain pada Januari ini membuat dirinya stress, karena sulitnya mendatangkan bisnis mayor untuk tim menabuh kembali genderang perang pada sisa musim ini.

James Pearce dari Liverpool Echo menyampaikan kembali point penting yang dikatakan Rodgers pada konferensi pers Senin lalu.

Rodgers tentang rencana pergerakan pada jendela transfer Januari: "Saya tidak berpikir bahwa kami akan (lakukan transfer). Kecuali jika sesuatu yang dramatis terjadi maka kami akan berikan yang kami bisa berikan." (@JamesPearceEcho - 26 Januari 2015).

Sesuatu dramatis dan juga realistis, mungkin itulah maksud dari Rodgers. Menunjukan bahwa klub sedang dalam kesulitan transfer saat ini. Namun berberapa saran dari saya dibawah ini mungkin bisa setidaknya meringankan beban klub dan membuat Liverpool bertahan di papan atas klasemen dan memenangkan berberapa Piala dimusim ini.

1. Kiper yang Berpengalaman


Saat ini Liverpool telah mendaftarkan secara reguler 3 kiper untuk mengarungi musim 2014/15, adalah pemuda didikan akademi Liverpool Danny Ward, Brad Jones dan sang kiper utama Simon Mignolet.

Salah satu masalah pada awal musim ini adalah di sektor penjaga gawang dan saya yakin bahwa semua responden setia sepakbola Inggris mengakuinya. Liverpool memiliki Danny Ward, kiper yang bahkan belum pernah merasakan tegangnya menjadi penjaga gawang salah satu klub tersukses Eropa, lalu diatasnya ada Brad Jones sebagai kiper pelapis utama, lalu kiper utama sejak matchday pertama adalah Simon Mignolet. Namun kiper ini justru menunjukan down-performance di awal musim dan menjadikannya sebagai salah satu masalah yang cukup serius diperiode ini.

Ngomongin kiper yang berpengalaman, Liverpool memang memiliki itu dari Brad Jones, menilik dari usianya yang sudah menginjak 32 tahun. Namun Jones bukanlah kiper pelapis terbaik dan saya nilai kemampuannya pun tidak bisa menempel Mignolet agar bisa memperebutkan tempat utama. Ya, Jones memang sempat menjadi kiper utama pasca ketetapan Rodgers untuk mengistirahatkan kiper utama Mignolet dan memberikan amanah tersebut pada kiper Australia. Namun kemampuan yang ditunjukan Jones pun tidak terlalu spesial sebagai kiper pelapis. Maka dari itu ada berberapa daftar kiper potensial yang memiliki pengalaman segudang dalam sepakbola dan diharapkan mampu membuat opini saya ini menjadi realita yang indah untuk klub.

Brad Friedel, 43, Tottenham Hotspur
Nicolas Douchez, 34, Paris Saint-Germain
Timo Hildebrand, 35, Eintracht Frankfurt
Wayne Hennessey, 28, Crystal Palace
Marco Storari, 38, Juventus

Saya daftarkan 5 kiper diatas setelah mendapati penampilan dan pengalaman mereka yang mungkin sedikit bisa membantu Liverpool kembali ke jalur yang sebenarnya. Mereka akan tersedia untuk penampilan jangka pendek.

2. Pinjamkan Mario Balotelli


Saya rasa saat ini Balo adalah salah satu beban Rodgers. Banyak kalangan Kopite yang mengharapkan magisnya diawal kedatangan dan Rodgers pun dipercaya penuh untuk menuntun si bengal ini agar bisa mengeluarkan kemampuan terbaik diperiode keduanya bermain di Liga Inggris. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Balo malah menunjukan performa dibawah standar dan membuat Kopites kecewa.

Akhirnya Rodgers membuat kebijakan dengan menomor duakan Balo dan membuat berberapa perbedaan untuk lini depan pasca lengsernya Balo sebagai striker utama. Sampai lawan Chelsea Rabu (28/1) lalu, posisi eks-AC Milan tersebut belum berganti.

Berberapa pihak menyayangkan hal tersebut terjadi, bahkan sampai membuat Rodgers seperti selalu 'terpaksa' memakai kembali jasa Balo yang jelas-jelas tidak 'kompitable' dengan skema permainannya.

Rodgers mengatakan pada Balotelli: "Jika anda tidak bisa menekan, maka anda tidak bisa menyatu kedalam tim. Itu berlaku untuk siapapun dalam tim." (24 Januari 2015)

Namun bagaimana lagi? Semua orang yakin dan mungkin juga Balo sudah berharap bahwa Liverpool adalah klub yang bisa menyelamatkan karirnya, namun sekarang situasi semakin rumit. Satu satunya yang bisa Liverpool lakukan untuk menghilangkan sedikit rasa tertekan itu tanpa menghancurkan karir sang pemain adalah meminjamkannya ke klub lain pada deadline day sekalipun.

Sang agen, Mino Raiola mengatakan bahwa kliennya tidak akan pindah pada Januari ini dan diamini oleh Rodgers, namun opsi lain yaitu peminjaman dengan kurun waktu 6 bulan ke klub lain adalah pilihan yang bijak, saya kira.

3. Ambil Berberapa Pemain Akademi


Keputusan saya yang satu ini mungkin kontra bagi sebagian besar pembaca (padahal cuma 2 orang doang yang baca). Disaat Liverpool memerlukan kebangkitan secara instan yang idealnya dilakukan dengan berberapa suntikan berberapa pemain baru yang top. Namun coba berfikir objektif tentang keadaan tim yang cukup mendesak ini. Dan sampai saat ini Rodgers sudah lakukan pada penarikan Jordon Ibe dari masa peminjamannya di Derby.

Berberapa pemain akademi yang sudah memiliki banyak waktu di Tim Reserves Liverpool mungkin mesti dicoba, siapa tau berhasil. Karna kita semua tau bahwa pemain akademi dididik sebuah klub agar bisa bermain dengan cara klub masing-masing yang jelas berbeda, maka Tim Muda Liverpool juga berpotensi memberikan impact instan untuk klub.

Berberapa talenta muda mesti dilindungi, apalagi setelah perginya salah satu calon masa depan cerah Timnas Spanyol Suso ke AC Milan, itu adalah sebuah kehilangan yang cukup mahal. Maka bijaknya manajemen tidak lakukan penjualan seperti Suso terulang kembali. Saat ini Sheyi Ojo sudah mulai menunjukan nafasnya di Tim Utama Liverpool setelah mencetak berberapa penampilan cemerlang, sementara pemain berkarakter menyerang lainnya seperti Jerome Sinclair yang sudah berlarut-larut setia bersama Tim Akademi Liverpool belum juga mendapatkan kesempatan bermain di pertandingan resmi.

Namun, kabar terbaru manajemen Liverpool ingin Ojo agar bermain dulu bersama tim lain seperti Ryan McLaughlin atau Brad Smith yang sedang dipinjamkan ke klub lain untuk menambah jam terbang. Ojo sendiri belum pernah bermain di pertandingan formal, sementara talenta berumur 17 tahun in terus menunjukan sinarnya.

Tuesday, 28 October 2014

Quick Analys: Mengapa Diego Costa Begitu Melempem di Timnas Spanyol ?

Timnas Spanyol si Juara Dunia 2010 ini menjadi salah satu kiblat sepakbola dunia pada masanya, bayangkan jika puluhan pemain terbaik dunia berkumpul dalam satu tim yang dikomandoi pelatih kawakan seperti mendiang Luis Aragones yang menghantarkan Spanyol juara Piala Eropa 2008 hingga  Vicente del Bosque menjadi sorotan setelah membuat penampilan luar biasa di Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 lewat permainan cantik dan atraktif.

Spanyol Si Raja Sepakbola 2010
Semua figur bekerja saat itu, mulai dari kiper yang memiliki kemampuan bukan sekedar menangkap dan menghentikan laju bola seperti Iker Casillas, Victor Valdes atau Pepe Reina, bek tangguh yang cerdik dan cepat seperti Carles Puyol, Sergio Ramos atau Gérard Pique, gelandang yang seolah olah memiliki otak yang berada di kaki-kakinya seperti Xavi, Xabi dan Iniesta hingga penyerang yang juga memiliki ketajaman dengan kemampuan serba bisa seperti Cecs Fabregas, David Villa atau Fernando Torres.

Sebelum kekecewaan pada Piala Dunia 2014 lalu, Spanyol serasa berada di atas angin menyusul bergabungnya sang pencetak gol terbaik nomor 3 di La Liga musim lalu bernama Diego Costa. Namun, realita berkata lain. Di Piala Dunia, Cerita seperti bertolak belakang. Costa gagal menampilkan permainan baik dan tidak mencetak sebiji gol pun untuk Timnas pilihannya di event 4 tahunan itu dan La Furia Roja yang berangkat dengan label juara bertahan pulang dengan label pecundang.

Datang sebagai ancaman, pulang sebagai pecundang.

Ada berberapa hal yang menurut saya mempengaruhi penampilan Diego Costa selama ini di Timnas Spanyol. Salah satunya adalah ketidakcocokan taktik

Timnas Spanyol dikenal memiliki deretan penyerang tajam yang sangat sukses dan cukup melegenda, sebut saja Marcos Senna, David Villa, Fernando Torres dan kini semua berpikir Diego Costa adalah kelanjutan dari mereka.

Namun, perbedaan mendasar dan salah satu yang paling riskan untuk seorang penyerang adalah cocok atau tidaknya taktik yang dimainkan oleh sang juru taktik. Rasanya untuk Vicente del Bosque, Diego Costa bukanlah penyerang yang diimpikannya.

Ada yang salah dengan Costa?

Atletico Madrid, klub yang membesarkan namanya hingga di panggil ke Timnas Spanyol saat itu dinilai memiliki permainan yang jauh dari kata Spanyol, mereka bermain ala Amerika Latin yang mengandalkan ketahanan tubuh untuk bermain sepakbola, Diego Costa begitu nyetel dengan permainan itu dan kinipun ia dilatih oleh juru taktik yang memainkan filosofi Non-Spanyol dan bermain di liga sekeras Liga Primer dan tampaknya dirinya tidak perlu banyak waktu untuk menyesuaikan diri disana.

Perbedaaan tajam antara jersey merah dengan biru Ch*lsea
Sementara di Timnas Spanyol yang memainkan sepakbola tiki-taka yang kental seakan bertolak belakang dengan kemampuan alami yang dimiliki Costa, David Villa memang seorang striker, namun kecepatan dan kejeniusannya dalam bermain bola adalah nilai plus yang belum dimiliki Diego Costa, Fernando Torres hampir sama dengan Costa, namun Torres adalah Spainard alami, dia mengerti sepakbola Spanyol walaupun dirinya tidak memiliki atribut segesit David Villa.

El Nino and El Costa. Same but Different
Solusi? Sepertinya menanggalkan Tiki-taka, taktik yang sudah terlalu kuno untuk tuntutan sepakbola jama sekarang adalah sebuah keharusan untuk menggapai mimpi terkini. Namun, sepertinya akan sulit bagi Vicente del Bosque (yang akan melepas masa kerjanya di Timnas Spanyol seusai Piala Eropa 2016) melakukan solusi yang terbilang tadi. Jadi, juara atau tinggalkan tiki taka?

Mendedah Kelayakan (Andai) Klopp ke Liverpool

Oleh Dominico Zekhonya

Liverpool kembali menjalani masa muram yang beberapa tahun terakhir lekat dengan mereka. Setelah menjalani periode baik semusim lalu, kini mereka seperti lupa bagaimana caranya untuk mengulangi performa apik tersebut. Brendan Rodgers pun seperti kehilangan maginya. Jika musim lalu ia sukses menginspirasi anak asuhannya, tidak dengan musim ini. Berada di undakan ketiga Grup B Liga Champion--dalam tiga laga awal—dan tampil tak bagus-bagus amat di Liga Inggris, Rodgers mesti sadar bahwa posisinya terancam. Beberapa alternatif mungkin sedang dipertimbangkan oleh manajemen serta direksi. Nama Juergen Klopp pun menyeruak dan disebut sebagai salah satu kandidat juru racik anyar.


Dari segi taktik, Klopp adalah jaminan mutu. Meski kiprahnya belum teruji di liga mayor Eropa lainnya--karena baru Dortmund-lah klub terbesar yang ia tangani, sederet titel yang berhasil ia persembahkan bagi klub dari lembah Ruhr itu setidaknya menjadi justifikasi bahwa dirinya layak untuk berdiri di tepi lapangan Anfield, tentu saja di kubu Si Merah. Lima titel bergengsi, dua di antaranya juara Bundesliga, dan penghargaan individu sebagai Pelatih Terbaik Jerman pada 2011 dan 2012, merupakan rekam jejak sekaligus bekal bagi pria yang sempat menjadi pandit di salah satu televisi Jerman ini untuk meredam panasnya kursi manajer tim Merseyside Merah. Belum lagi, ia sempat membawa Dortmund mencatatkan 28 laga tanpa kalah pada 2011/2012. Impresif.

Klopp juga dikenal sebagai sosok yang adaptif terhadap situasi dan kondisi yang ia hadapi. Pada awal kedatangannya di Dortmund, eksbos Mainz ini sempat mencoba skema tiga bek. Sayangnya, skema tersebut tak begitu sukses. Ia kemudian memutuskan untuk mengubah formasi dengan empat bek sejajar, dua poros ganda, tiga gelandang serang, dan satu ujung tombak. Hasilnya? Seperti yang Anda bisa lihat di laman Wikipedia dirinya, ia sukses besar. Andaikata ia sukses meraih trofi Liga Champions musim 2012/2013 lalu, mungkin kini ia bisa pensiun dengan tenang atau mencoba melatih sebuah tim nasional.

Sesungguhnya, apa yang ia terapkan di Dortmund bukanlah hal baru mengingat sudah banyak tim lain yang sukses mengimplementasikan skema tersebut. Namun, intensitas yang ia tularkan kepada para pemainnya membuat skema milik Dortmund terlihat lebih mematikan dan memiliki daya rusak yang luar biasa. Meski pembawaannya dingin, ia amat andal dalam mengeluarkan kemampuan terbaik seluruh pemainnya.
“Ia mampu membuat kami semua menyadari bahwa jika ingin sukses, kami harus bekerja dan berusaha lebih keras ketimbang orang lain di lapangan. Tentu saja dengan berlari lebih banyak,” kata Robert Lewandowski, eksujung tombak Dortmund yang kini berseragam Bayern Munich itu satu ketika seperti dikutip dari Bild. “Hasrat yang kami miliki, semua kami kerahkan untuk kepentingan tim, dan Klopp-lah yang membuatnya demikian,” masih kata pemain timnas Polandia itu.
Borussia Dortmund's coach Juergen Klopp (rear) hugs Robert Lewandowski after losing their German Cup (DFB Pokal) final soccer match against Bayern Munich in Berlin May 17, 2014. REUTERS/Ina Fassbender (GERMANY - Tags: SPORT SOCCER) DFB RULES PROHIBIT USE IN MMS SERVICES VIA HANDHELD DEVICES UNTIL TWO HOURS AFTER A MATCH AND ANY USAGE ON INTERNET OR ONLINE MEDIA SIMULATING VIDEO FOOTAGE DURING THE MATCH.Borussia Dortmund's coach Juergen Klopp (rear) hugs Robert Lewandowski after losing their German Cup (DFB Pokal) …


Berbicara soal Lewandowski, terlepas dari kepergiannya yang tak memberi tambahan sesen pun dalam catatan buku pemasukan klub, ia merupakan satu dari sekian nama dalam daftar belanja sukses klub karena intuisi kelas satu pria religius ini. Selain Lewy, ada nama-nama asing yang juga mencuat di bawah arahan Klopp, antara lain: Neven Subotic, Mats Hummels, Lukasz Piszczek, Marco Reus, dan Sven Bender. Jangan pula lupakan pemain lincah dari Jepang, Shinji Kagawa, yang direkrut hanya dengan biaya 350.000 euro, tapi berhasil dilego dengan keuntungan 4.800%! Belakangan, pria jepun itu memutuskan kembali ke klub yang membesarkannya karena merana di Inggris bersama raksasa sakit, Manchester United.

Jika dibandingkan dengan manuver Rodgers selama di Liverpool, khususnya musim terakhir, Klopp tentu lebih unggul--dengan mengabaikan variabel absennya Liverpool di kompetisi antarklub paling bergengsi di tatanan Eropa yang membuat pemain-pemain bintang enggan merapat. Bagi para penggemar Liverpool, dosa terbesar pria Irlandia Utara itu adalah “hanya” mendatangkan pemain semodel Rickie Lambert dan Mario Balotelli untuk menggantikan peran Luis Suarez yang hengkang ke Liga Spanyol. Memboyong ekspemain Inter Milan dan AC Milan itu adalah repetisi dari apa yang dilakukan oleh Raja Liverpool, Kenny Dalglish, ketika mendatangkan Andy Carroll beberapa musim silam. Kehadiran Klopp di Liverpool tentu saja memicu peluang bagi pemain-pemain Dortmund untuk mengikuti jejak mentor mereka. Hal ini adalah efek domino yang diharapkan oleh mayoritas penggemar Liverpool.

Salah satu nilai plus dari suami Ulla Sandrock itu adalah, ketimbang Rodgers yang lebih banyak diam dan memilih bicara diplomatis nan normatif ketika berada di hadapan awak media, Klopp lebih apa adanya, tanpa menanggalkan kesan dingin yang dimiliki. Gaya bicaranya yang sopan semakin khas dengan suara rendah nan berat yang amat pria. Ia gemar mengungkapkan gagasan-gagasan yang membanjiri kepalanya, hingga terkesan ekspresif. Terkadang, ia kerap mengeluarkan lelucon atau pun parodi yang mampu mengundang gelak tawa di ruang konferensi pers. Hal tersebut tentu menjadi modal penting untuk menghadapi pers Negeri Ratu Elizabeth yang dikenal kurang kerjaan.


Dari gaya berpakaian, ia bukan sosok pria yang peduli soal citra dan lebih memilih untuk tampil senyaman mungkin. Hal itu kemudian membuatnya dikenal sebagai manajer sepak bola yang bergaya sportif berbalut celana olahraga dan jaket hangat--meski belakangan mulai mengalah dengan mengenakan jas di kompetisi antarklub Eropa. Ulrich Hesse, salah seorang pewarta berita di Jerman, menyebutnya sebagai Bon Jovi di lapangan hijau. Konon, ia sempat memainkan beberapa lagu rock ketika merayakan kesuksesan tim pada 2011/2012 dalam sebuah penerbangan.
Dortmund's head coach Juergen Klopp waves to supporters after his team lost the German first division Bundesliga soccer match between 1.FC Cologne and BvB Borussia Dortmund in Cologne, Germany, Saturday, Oct. 18, 2014. (AP Photo/Frank Augstein)Dortmund's head coach Juergen Klopp waves to supporters after his team lost the German first division Bundesliga …


Aksinya di lapangan--ketika berteriak lantang memerintahkan para pemainnya untuk mundur--memancarkan keanggunan yang membalut ketegasan. Ia adalah jawaban dari pertanyaan atas asal-usul keberanian yang ditunjukkan oleh para pemain Dortmund ketika berlaga. Bagi pendukung Mainz dan Dortmund, ia adalah pujaan. Dari aspek apa pun, ia adalah sosok ideal bagi Liverpool. Keberhasilan Dortmund untuk kembali menjulang setelah hampir gulung tikar tak lepas dari andil pria yang tak berhasrat untuk menghabiskan seluruh hidupnya dengan menjadi manajer sepak bola. 

Jika pada 2008 ia memanjat pagar tribun untuk berpamitan kepada para penggemar Mainz, cara serupa mungkin akan ia ulang--sembari menyanyikan satu atau dua buah lagu rock--ketika berpamitan kepada para penggemar Dortmund sebelum melatih Liverpool (semoga saja).