Pages

Showing posts with label Artikel Bola. Show all posts
Showing posts with label Artikel Bola. Show all posts

Wednesday, 11 October 2017

Regenerasi Tanpa Gap

Kring... Kring... Bunyi hujan diatas genting, bukan lagu deng, itu deskripsi suara alarm yang bangunin gue jam 5 pagi tadi, sebenernya sih udah bunyi 3 kali, soalnya gue snooze. hehe. Yaudah ulang

Kring... kring... Luwak white coffee, kopi enak nyaman di lamb.. Fakkkk

Jadi singkat aja, tadi pagi gue kebangun jam 5, tapi gak jam 5 amat sih, jam 5 lewat 55 menit lah. Terus gue cek hape ada notif dari goal.com, itu tentang Belanda yang tersingkir dari Piala Dunia 2018. Ya, itu Belanda men, Timnas idola gue setelah Inggris, Indonesia gimana? Iyalah guekan nasionalis, tapi dalam hal sepakbola bukan sisi nasionalisme cara gue menikmati permainan kulit bundar ini. Skip, jadi setelah Inggris gue emang jatuh cinta sama Timnas Belanda. Lalu ada pertanyaan lagi, apakah gue kaget setelah Timnas jagoan gue nomer dua itu tersingkir? Ga sama sekali.

Hubungan gue sama Timnas Belanda itu diawali ketika pada tahun 2010 yang lagi marak-maraknya Piala Dunia waka waka ehehe di Afsel sana, saat itu orang-orang pada ngomongin gokilnya permainan tiki-taka Spanyol, sebagai penikmat taktik sepakbola gue coba telusuri tiki taka, ternyata gue nemuin satu kata keren di salah satu artikel mengenai permainan Spanyol di PilDun "Tiki taka berawal dari total football." Total football men, coba bandingin Cetanaccio, Tiki Taka atau Samba, Total dan Football itu kata yang gak asing ditelinga gue, akhirnya sesimpel itu aja gue jadi mulai mempelajari secara bocah mengenai taktik ini, receh emang.

Prinsipnya, total football itu permainan paling atraktif menurut gue karna semua pemain yang berada di lapangan ikut bermain bola (passing, shooting, dribbling) dan aktif bergerak kesana kemari untuk menghidupkan permainan, bedanya dengan tiki-taka sih mungkin tiki-taka lebih mendewakan operan pendek dibanding total football sehingga gue kira dalam tiki taka tidak perlu yang namanya box to box karena gelandang hanya perlu mencari pemain terdekat untuk di oper, sementara total football merupakan formasi yang mendepankan bukan hanya kecerdasan pemain, selain itu juga kemampuan fisik karena pemain tetap dituntut untuk bertanggung jawab di posisi aslinya selagi membantu tim untuk mencetak skor.

Saat 2010, Timnas Belanda asuhan Bert van Marwijk merupakan tim dengan pemain generasi emasnya, disana ada Stekelenburg yang masih cekatan, bek tengah Mathijsen, Heitinga yang tangguh, bek sayap muda van Der Wiel dan kaptennya van Bronckhrost serta Robben, Sneijder yang lagi bagus bagusnya di Inter, van Persie dan manusia tanpa paru-parunya Liverpool, Dirk Kuyt di usia emasnya.

Namun ketika Belanda tersingkir kemarin, hanya tersisa Robben yang bermain dari generasi finalis Piala Dunia 2010, sisanya Ryan Babel dan Stekelenburg tidak dimainkan oleh Meneer Advocaat, sebagai tambahan Advocaat merupakan asisten dari Rinus Michels, pelatih penemu Total Football. Nah yang lebih ironis, kemenangan atas kegagalan Belanda melaju itu ditentukan oleh Robben itu sendiri.

KNVB (PSSI nya Belanda) bisa aja ngeles dengan mengatakan bahwa Skuat Belanda saat ini disiapkan untuk Piala Eropa 2020 dan Piala Dunia 2022, namun aneh ketika Timnas sebesar Belanda membuat gap regenerasi padahal hal tersebut bisa saja dihindari jika KNVB tidak melakukan banyak blunder yang mengganggu proses regen tersebut seperti membiarkan van Gaal yang membuat permainan Belanda kembali atraktif memilih melatih klub, lalu menggantinya dengan Danny Blind yang minim improvisasi, lalu menimbulkan kekacauan dengan pemilihan dini Guus Hiddink dan mengangkat Dick Advocaat ketika Belanda sedang diujung tanduk. Atas dasar itu gue dan mungkin para pecinta bola yang menyukai Timnas 'Raja tanpa mahkota' banyak yang underestimate sejak awal kualifikasi Piala Dunia 2018 mengenai langkah Belanda di even akbar 4 tahunan tersebut.

Selain Belanda gue juga gak kaget dengan pencapaian Islandia, negara berpenduduk terkecil sepanjang sejarah Piala Dunia yang berhasil masuk ke babak grup Piala Dunia 2018. Islandia sejak Piala Eropa 2016 kemaren emang gila, gimana engga dari negara kejutan yang berhasil melaju babak grup hingga hentikan langkah Inggris di babak 16 besar, dengan materi pemain seadanya, disana cuma ada Sigurdsson yang menjadi pemain mahal di Everton bahkan ketika salah satu pemain yang pernah main di klub sekelas Barca kaya Eidur Gudjonsen udah mulai uzur dan jarang tampil, sisanya pemain-pemain yang notabenenya bermain di klub medioker sekelas Reading atau Burnley di Inggris.

Islandia mengajarkan bahwa permainan sepakbola juga gak melulu soal skill, namun kolektif dan prinsip bermain yang sejak dini di tanamkan dalam tim sangat membantu kesiapan tim, Islandia dan Jerman merupakan contoh mengapa skill hanyalah anugerah, sementara anugerah jika tidak diarahkan maka akan sia sia apalagi tidak semua pemain diberikan anugerah dan kita sendiri harus tetap fight dalam hidup meski tidak diberi anugerah oleh Yang Maha Kuasa.

Lalu, gue juga mendapati fakta bahwa rata-rata pelatih sepakbola di Islandia termasuk tertinggi dibanding Inggris, sekali lagi ini menunjukan bahwa peran pelatih yang memperkenalkan prinsip dan taktik dalam bermain sepakbola merupakan unsur penting dalam mempersiapkan Tim menjadi lebih kuat.

Makanya tidak akan aneh jika Chile, Kosta Rika dan baru-baru ini Islandia selalu menggebrak event sekelas Piala Dunia, meski tanpa banyak pemain mahal didalamnya, karena prinsip penghargaan akan proses regenerasi yang selalu dimiliki mereka dan tidak akan aneh juga jika pusat kekuatan sepakbola dunia masih akan berada di tangan Timnas Jerman yang memiliki pemain kelas dunia dan ditopang oleh kesiapan DFB (PSSI-nya Jerman) yang sejak kegagalan 2010 manghadirkan kepercayaan tanpa henti terhadap proses untuk membentuk regenerasi tanpa gap.

Wednesday, 7 October 2015

Cara Kerja Kebijakan Transfer Liverpool ( Komite Transfer )







Apa itu Komite Transfer Liverpool?
Komite transfer Liverpool adalah 6 orang yang berurusan dengan pemilihan dan pendatangan target transfer di Liverpool
Ini adalah proses dimana pemilik utama John W. Henry masuk kedalam persoalan tersebut untuk memastikan bahwa Manajer tidak memegang peranan total terhadap pencarian bakat, pembelian, penjualan dan pembaruan kontrak.
Siapa saja 6 orang tersebut?
1. Manajer
2. Kepala pencarian bakat: Barry Hunter
3. Kepala eksekutif: Ian Ayre
4. Direktur kinerja teknis (Ahli statistik dan analisa pemain): Michael Edwards
5. Kepala perekrutan: Dave Fallows
6. Presiden Fenway Sports Group (FSG): Mike Gordon
Kenapa Komite tersebut dibentuk?
Ketika FSG mengambil alih klub pada tahun 2010, waktu itu Mr. Henry menyelidiki tentang 'Mengapa Liverpool tidak lagi menjadi kekuatan sepakbola yang dominan?', lalu ia bertanya ke orang-orang sekitar klub untuk mendapatkan jawaban tersebut. 
Jawaban utama dari mereka ternyata hampir seragam: Terlalu banyak pembelian buruk. Karna Mr. Henry itu cukup baru dalam dunia sepakbola, dia terkejut bahwa di Inggris, manajer memiliki kontrol total dalam pembelian pemain tersebut, padahal di Eropa sudah memakai direktur sepakbola 
Lalu Mr. Henry menunjuk direktur sepakbola Liverpool, Damien Comolli, mantan pemandu bakat Arsenal bersama Edwards, sebagai penganalisa dan ahli statistik.
Edwards itu adalah penggila 'Moneyball' yang mana ketika dia melihat rata-rata statistik maka akan ada target pembelian baru yang tak terkira (alias bukan pemain bernama) dan harga semiring-miringnya. Hal tersebut sudah berlaku di dunia baseball, FSG tahu betul karna mereka juga memiliki Boston Red Sox di Amerika sana. 
Brendan RodgersGETTY
Namun Comolli dan Edwards gagal. Seperti pembelian FSG terhadap Andy Carroll, mereka langsung sadar bahwa mereka tidak dapatkan apapun dari bisnis Carroll tersebut. Carroll dianggap gagal memberi dampak performa klub secara signifikan dan uang yang dihasilkan dari bisnis tersebut merugikan FSG.
Comolli dipecat, lalu Edwards menetap di klub sebagai bagian dari 6 orang Komite Transfer setelah penunjukan Brendan Rodgers pada 2012.
Rodgers tidak ingin bekerja dengan direktur sepakbola namun akan setuju menjadi bagian dari komite selama ia memiliki hak menentukan keputusan akhir pemain.
Itulah yang dinamakan Komite Transfer, namun label tersebut ternyata dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu di Anfield, dimana mereka lebih menganggap itu sebagai tim perekrutan pemain baru
Andy CarrollGETTY

Bagaimana cara kerjanya?
Ada banyak cara mereka bekerja namun cara paling sederhana yang bisa saya sampaikan begini: Manajer akan menyoroti area atau pemain yang ia inginkan, pemandu bakat akan mencarikan pemain, Edwards akan buat analisanya, Ayre akan melihat dari sisi finansial alias keuangan klub. Nah hasilnya akan dirapatkan oleh orang-orang tersebut.
Setelah diambil keputusan, manajer akan mengatakan bahwa dia inginkan pemain tersebut. Namun dia juga memiliki hak veto untuk menolak pemain dari komite transfer, begitupun sebaliknya, komite bisa menolak pemain yang diinginkan Rodgers.
Rodgers telah memilih pemain yang ia yakini bisa bermain dengannya
Contohnya seperti Mario Balotelli, dan pemain lain yang ia desak Komite Transfer untuk didatangkan macam Dejan Lovren (yang badannya mirip saya), Joe Allen (yang kebetulan pemain favorit saya), Christian Benteke (yang mirip sama orang yang baca tulisan ini) dan Adam Lallana (yang mukanya mirip saya).
Pembaruan kontrak juga disortir oleh para komite tersebut dengan sistem yang sama.
Mario BalotelliGETTY

Apa hal positif yang bisa diambil dari sistem transfer ini?
Hal positifnya jelas. Ada berberapa uji kelayakan yang dilakukan sebelum investasi tersebut dilakukan.
Pemain akan di tonton oleh sejumlah pemandu bakat, statistiknya akan dianalisa dan yang lain akan melihat karakternya yang bakal cocok di klub atau tidak.
Hal tersebut akan mendapatkan sedikit desakan dari manajer yang tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama untuk melihat target dan menentukan kontraknya.
Apa sisi negatifnya?
Saya pernah mendengar sebuah pepatah: terlalu banyak koki bisa merusak bumbunya, namun bukan hanya itu masalahnya.
Salah satu yang utama adalah pertanggung jawaban. Ketika perekrutan tersebut gagal, maka ada 6 orang yang memiliki kesalahan. Berberapa dari mereka akan memilih untuk menyalahkan kepada orang lain yang dapat menyebabkan friksi diantaranya.
Proses juga akan memakan waktu lama, jadi ketika tiba tiba pemain incaran tersedia untuk direkrut, Liverpool harus lakukan proses terlebih dahulu ketika klub lain mendekatinya dengan cara yang lebih kenaluriahan alias kira kira untuk merekrutnya.
Ketika Liverpool lakukan pendekatan, eh ternyata terlambat, pemain tersebut sudah tanda tangan dengan tim lain, contohnya seperti Alexis Sanchez atau Victor Valdes.
Jadi kadang membuat manajer harus menerima pilihan pemain lain, namun manajer akan merasa terdesak oleh pilhan tersebut dan juga memaksa pemain harus sesuai dengan rancangannya.
Kesimpulan
Sederhana saja, Liverpool telah mengahabiskan £291 Juta dalam 3 tahun oleh Komite Transfer dan hasilnya hampir tak membaik.
Itu artinya komite tidak bekerja, namun bisa jadi juga bahwa orang-orang di komite sekarang bukanlah orang yang cocok untuk manajer.
FSG mesti merangkai kembali kebijakan transfernya dan juga pada orang-orang yang terlibat dalam 3 tahun sistem transfer tersebut.

Sunday, 2 August 2015

Mendedah BIG 4 Untuk 2015-2016

Udah lama gak nulis nulis lagi di blog ini, dari sejak sebelum puasa hingga selesai lebaran dan sampe sekarang akhir dari liburan panjang... Atas nama segenap admin Blog Kata-Farhan, yaitu gue sendiri, cie sendiri. Mengucapkan... Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, terutama buat mantan, mantan gebetan dan para jomblo yang terhina karna sempet disebuti di blog ini. Maaf membuat nama kalian kotor... Sama kaya sikap kalian ke saya ntan, kotorrr... Oke maap sekali lagi saya maapin.

Oiya, tepat hari ini, 2 Agustus 2015, yang artinya pembukaan Liga Primer Inggris tinggal menghitung hari lewat jari! Tepatnya 6 hari lagi, yap! 8 Agustus 2015 opening kick off dari liga paling menarik, kaya dan yang gue paling senengin, apalagi ada klub tercinta gue di dalamnya, ya gausah di sebutin lagi, karna gue kasih kisi kisinya bahwa itu klub bakal kesebut di artikel ini. Yaudah gue minta maap juga sama klub kecintaan gue karna kesebut lagi :(

Sedikit intermezzo, Big 4 adalah peringkat yang menjadi target mutlak tim papan atas Liga Primer Inggris mulai dari Chelsea, ke Liverpool hingga tim black horse alias kuda hitam yaitu Southampton pun menargetkan tempat 4 besar yang artinya masuk kompetisi bergengsi Liga Champions. Namun walau begitu, klub seperti Chelsea, Arsenal, City atau United memiliki target mutlak 3 besar agar mereka tidak menghabiskan Pramusim untuk melakoni playoff, sementara sisanya "Bodo amat yang penting masuk UCL".

Oke bagaimana gambaran Big 4 untuk musim depan menurut saya? Cekidot!

1. Chelsea

Tidak berubah dari musim lalu, Chelsea menurut gue tetap menjadi tim terkuat EPL musim 2015/16, dengan tidak terlalu banyak bongkar pasang skuat karna memang sudah mahal serta di set untuk kuat juara dalam 2 musim berturut-turut dan formasi yang tidak banyak berubah karna emang Mourinho sih formasinya gitu-gitu aja, kalo gak parkir bus ya serangan balik. Hehe yg terakhir bercanda.

Pembeliannya pada musim panas kali ini cuma di posisi kiper yang sebelumnya ditinggal Petr Cech ke Arsenal, Asmir Begovic datang dari Stoke City.

Raportnya di pramusim sih lumayan, walaupun gak bagus bagus amat, 2 kali menang, 2 kali seri dan sekali kalah menjadi modal berharga untuk menghadapi kerasnya EPL musim depan dan tentu FA Community Shield 2 Agustus (hari ini).

2.  Manchester United

Dengan berat hati saya tempatkan tim ini diposisi 2, jangankan posisi 2, bertahan di Liga Primer aja saya masih berat hati buat dukung, tapi saya buat artikel ini dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme tinggi. Yap banyak alasan kenapa saya tempatka tim setan.... merah ini diposisi dibawah sang juara.

Pembelian musim panas kali ini mereka sangat luar biasa, dengan keuangan yang kuat dan efek lobby direktur klub mereka, Ed Woodward berhasil merekrut Memphis Depay di awal pramusim lalu Bastian Schweinstesadmvghsbdjvs (aduh namanya susah amat) dan Morgan Schdfghjjkl dalam tempo 1-2 hari, selanjutnya pembelian Mateo Darmian hingga yang terkini Sergio Romero dengan free transfer. Lengkap sih, cuma posisi bek tengah ini yang menjadi masalah serius United pada musim lalu belum ada tambalannya untuk musim depan.

Raport laga pramusim mereka cukup menjanjikan walaupun hasilnya tidak selalu menang, penampilan berberapa pilar baru yang dipadukan muka familiar cukup baik dengan hasil 3 kali menang dan sekali kalah, itupun di Final ICC 2015. Bahkan mereka sempat mengalahkan tim treble musim lalu. Mereka memiliki modal kuat untuk liga musim depan.

3. Arsenal

Bukan musim ini, Gun! Tiap awal musim mereka menargetkan juara, tengah musim turun target jadi 4 besar, akhir musim baru bangkit lagi buat incer posisi setinggi-tingginya ketika gelar juara udah hampir pasti ketangan klub lain. Begitulah Arsenal tiap musim.

Beda kaya MU dan sama kaya Chelsea, pembelian mereka hanya di posisi Kiper yaitu Petr Cech  yang akhirnya meminjamkan Wofghjkl Sczhsdny ke AS Roma. Mereka seperti lupa bahwa banyak posisi yg mesti ditambal apalagi badai cedera bulanan kerap menggangu target mereka sepanjang musim.

Pramusim mereka di Emirates Cup sangat mulus, sangat. Mereka membantai calon juara dari Prancis, Olympique Lyon dan mengalahkan tim nomor 2 terbaik Jerman, Wolfburg, Tapi semulus-mulusnya pramusim mereka kayaknya bakal sama kaya pramusim di tahun-tahun sebelumnya, gak bisa menjadi pijakan kuat untuk sejauh mana mereka bisa bertahan di posisi 4 besar.

4. Liverpool

Ciee... Yang belum bisa juara musim ini cie... Iye... Liverpool masih belum saya yakini bisa kuat musim ini, tapi dipastikan, untuk menempati posisi ini mereka wajib bisa meminimalisir kesalahan-kesalahan bodoh diawal musim dan terus kuat hingga Desember, lalu push pemain agar memaksimalkan sisa kompetisi.

Banyak faktor yang membuat mereka saya yakini masih sulit beratahan di 4 besar. Walaupun mereka mesti bongkar -pasang skuat akibat kekacauan musim lalu, mereka cukup kesulitan dari faktor pembelian, dari 7 pembelian untuk tim utama, 3 diantaranya adalah free-transfer. Pembelian mereka juga terkesan masih prematur, pemain-pemain muda yang belum benar-benar matang sehingga klub seperti hanya menargetkan 4 besar untuk Rodgers.

Dimanapun Posisi Liverpool, Fansnya bakal tetap lancang nge-chants seperti Liverpool akan juarai Liga
Ketika tim pesaing lain memilih untuk mengikuti turnamen seperti ICC 2015 atau Emirates Cup 2015, Bang Ipul, eh Liverpool malah asik jalan-jalan ke Asia, masalahnya sih gak ke Indonesia. Hasilnya mentok dikata 'cukup', rata-rata mereka hanya mencetak 1-2 gol ke gawang tim yang bisa dibilang jauh dari level mereka. Jadi gue masih belum yakin sama pijakan mereka untuk menempuh sukses musim 2015/16. Dengan prombaka dari sisi manajerial yang cukup signifikan juga bisa mengganjal langkah mereka, karnna nama-nama baru masih perlu beradaptasi dengan tekanan EPL.

Klasemen akhir:
5. Manchester City
6. Tottenham Hotspurs
7. Stoke City
8. Crystal Palace
9. Swansea City
10. Southampton
11. Newcastle
12. Aston Villa
13. Everton
14. West Ham
15. West Brom
16. Norwich City
17. Leicester City
18. Sunderland
19. Bournemouth
20. Watford

Thursday, 19 February 2015

Saya, Jack Watson dan Pengharapnya Mungkin Sedang Salah

Aktivitas transfer Liverpool pada musim panas kemarin cukup menarik, menjual sang megabintang Luis Suarez dan bek karismatik Daniel Agger, lalu 'menambal' penjualan tersebut dengan membeli pemain 'rata' disetiap posisi. 3 striker yaitu Rickie Lambert, Mario Balotelli  dan Divock Origi (dipinjamkan semusim ke Lille), lalu 3 gelandang yaitu Emre Can, Lazar Markovic dan Adam Lallana, sementara posisi bek merekrut Alberto Moreno, Javi Manquillo dan Dejan Lovren.

Khusus untuk Dejan Lovren, Rodgers dengan percaya diri membeli mahal sang bek yang saat itu dianggap sebagai salah satu bek terbaik di Liga Primer, mereka mendaratkan Lovren dengan mahar lebih dari £22 Juta atau sekitar 36% dari dana yang dikeluarkan untuk membeli 9 pemain baru tersebut. Ya memang tidak salah Rodgers membeli mahal sang bek. Berdasarkan statistik di bawah ini, secara kuantitas dan kualitas Rodgers tidak terlalu berjudi dengan harganya.

Lovren di Southampton (2013/14) - Squawka


Bahkan Jack Watson dalam kolomnya di Squawka mengatakan bahwa Lovren bersama Skrtel akan menjadi salah satu duet bek terbaik jika performa Lovren di Liverpool seperti ketika dirinya di Southampton.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya, memang Lovren di 12 laga awal Liga Primer selalu starting, namun sejak kekalahan memilukan dari Crystal Palace - sebagai kekalahan yang ke 6 diperiode tersebut, Rodgers langsung sadar lalu merotasi beknya dengan memasukan Kolo Toure sejak menit awal pertandingan dan menyimpan si manusia £22 Juta tadi di bench. Hasilnya lumayan, mencetak sebiji gol untuk kemenangan walaupun lebih berbau 'hoki' dari pada upaya pemain secara keseluruhan. Pertandingan v Stoke menjadi awal down-nya karir Lovren di Liverpool pada musim ini.

Setelah menempatkan Lovren di bench (vs Stoke City), Liverpool tidak pernah kalah dalam 3 laga (2 menang 1 imbang), tetapi dengan kepercayaannya Rodgers memberikan kesempatan Lovren langsung dipertandingan besar lawan MU, hasilnya Lovren bermain 90 menit dan rata-rata tiap 30 menit Liverpool kebobolan menjadikan hasil akhir 3-0 untuk sang rival abadi. Lovren kembali terlempar ke bench.

Sejak kekalahan lawan MU, Liverpool tak terkalahkan di 9 laga Liga Primer, disaat yang bersamaan Lovren tidak lagi menjadi pilihan utama setelah Rodgers memantapkan formasi 3 bek sejajar dan memasukan nama Emre Can (sejak Toure tugas di Timnas) dan Sakho sebagai pilihan utama. Lovren tidak memiliki tempat disana selain jika ada kebutuhan yang mendesak akibat absennya salah satu pemain di skema baru Rodgers tersebut.
Apa yang salah dari Dejan Lovren yang pada awal musim begitu menggebrak dengan mencetak gol debut non-resmi lawan Borrusia Dortmund? Mari kita lihat statistik Lovren pada musim ini di Liverpool.



Dejan Lovren (Liverpool - 2014/15)
Jelas terlihat bagaimana Lovren bermain sepanjang musim ini, sangat jauh diluar ekspetasi, dari 17 kali bertanding saja sudah membuat 6 kali kesalahan fatal yang berujung petaka untuk tim. Disitu hampir jelas jika konsentrasi pemain 26 tahun ini terlampau mudah goyah di Anfield. Padahal musim lalu di Southampton, Lovren begitu rapih dalam bermain sehingga hanya mencatatkan 1 kali error, itupun gol bunuh diri. Dan parahnya lagi, perentase upaya ambil bola dari musuh pun sangat kontras dibanding musimnya bersama Southampton, 100% sukses di Soton, 100% gagal di Liverpool.

Jadi apa masalahnya?

Pasti berberapa dari kalian pernah melihat dong tayangan Liverpool ketika duet Lovren dan Skrtel bekerja bersama? Keduanya terlihat sama sama panik dan seperti memiliki karakter bermain yang sama, artinya kedua pemain ini tidak mampu menutupi kelemahan satu sama lain. Oke mungkin berberapa dari kalian belum sadar atau tidak mendukung hipotesa saya tadi. Saya akan jabarkan.

Lovren memiliki perentase sukses duel heading yang sama sama baik dengan Skrtel, 72% berbanding Skrtel 70%. Lovren dengan rata-rata melakukan lebih dari 4 kali duel heading. sementara Skrtel rata-rata lebih dari 5 kali heading. Dan jika kita bandingkan dengan Sakho (55% sukses) dan Toure (42% sukses). Skrtel dan Lovren memiliki karakteristik dalam bertahan yang hampir selaras, memiliki kemampuan heading yang sama sama baik dan selalu mengandalkannya.

Sakho musim ini
Toure musim ini
  Itu samanya, sepele namun mendasar, bukan?

Skrtel musim ini


Memangnya salah ya pakai 2 pemain yang memiliki karakter sama dalam satu posisi di satu pertandingan?

Anda mempertanyakan itu ke saya, maka anda bisa bertanya pada seluruh pemerhati sepakbola FA atau suruh Fabio Capello atau Roy Hodgson mengaku bahwa Timnas Inggris tidak bisa memakai jasa Frank Lampard dan Steven Gerrard secara bersamaan dalam satu pertandingan. Kedua pangeran Inggris itu memiliki karakter bermain yang sama sehingga dalam istilah mereka bisa 'saling bertubrukan'. Alhasil, tim yang sama-sama mereka bela mesti susah payah untuk bermain berkembang.

Namun setelah melihat banyak kenyataan diatas Rodgers sepertinya belum ingin bertaruh memakai Lovren tanpa Skrtel dalam skuad. Padahal sudah jelas, memakai 2 playmaker sekaligus saja tim bisa hancur, apalagi 2 bek tengah berkarakter sama? Dijamin, lini belakang tim memberikan deretan kesalahan mendasar yang tak perlu yang tentunya sangat merugikan tim.

Argumen diatas menjelaskan bahwa segalanya memang bukan salah Lovren, Rodgers memiliki andil besar untuk memberikan perubahan penting dalam Lovren yang mungkin akan lebih berguna untuk klub. Sekali lagi, waktu akan terus berjalan dan periode yang akan menjawab ekspetasi maupun keraguan. Yang jelas, saat ini ekspetasi saya, Watson dan fans lain terhadapanya mungkin sedang salah.

Hehe... Sori boss

Sunday, 15 February 2015

Profil: Alexander Meier - Striker Klasik Raksasa

Akhir akhir ini kasta tertinggi sepakbola Jerman atau yang lebih beken disebut Bundesliga sedang panas oleh salah satu pesepakbola dari Waldstadion, homebase dari kontestan Bundesliga, Eintract Frankfurt.

Ya, salah satu klub papan tengah Bundesliga ini sedang berada dalam status aman untuk terus bertahan di Liga, ya setidaknya untuk musim ini. Dengan materi pemain yang cukup bernama dan bertalenta seperti ex-Chelsea Lucas Piazon, bintang Timnas Jepang Makoto Hasabe atau pemuda yang telah menjadi andalan Timnasnya seperti Haris Seferovic. Namun tercatat ada yang lebih melejit dari ketiga nama tersebut saat ini. Nama ini yang akan menjadi topik bahasan pada tulisan saya terkini.



Sesuai judul diatas, saya akan mencoba membahas Alexander Meier, nama yang akhir akhir ini sering diributkan oleh berberapa situs olahraga dalam tema Sepakbola Jerman.

Alexander Meier, sang striker bertalenta unik yang lahir di kota kecil Jerman, Buchholz pada tanggal 17 Januari 32 tahun silam. Ya saya katakan unik karna dirinya adalah seorang striker bertubuh raksasa dengan tinggi 196cm dan bobot 96kg! supaya dramatis saya ulangi lagi, 96kg pemirsa!

Tidak mengherankan seorang striker harus memiliki tubuh yang ideal untuk berlari cepat dan lincah, karna hal itu agar dapat membantu mereka untuk melewati lawan yang menjaganya, dan apalagi di sepakbola modern aspek tersebut adalah modal utama agar mendapat sukses diposisi sebagai lumbung gol utama klub. Namun siapa sangka jika seorang striker berbobot 96kg berhasil mematahkan seluruh prediksi dengan mencetak 14 gol dari 19 pertandingannya bersama Frankfurt sepanjang musim ini!



Mulai dari awal, ketika seorang Meier lahir di Buchholz - Jerman Barat, kota yang terpisah sejauh 320km dari Ibukota Berlin. Langsung ke kehidupan sepakbolanya. Karir juniornya dimulai dari klub lokal JSG Rosengarten (1988–1989), TuS Nenndorf (1989–1990), TSV Buchholz 08 (1990–1995) lalu Hamburger SV (1995–1998). Meier langsung mencoba peruntungan sejauh 32km ke salah satu klub sepakbola berbasis dekat Hamburg, St. Pauli - Saat itu Meier baru berusia 18 tahun.



Setelah 2 tahun mencicipi bermain bersama St. Pauli bakatnya langsung tercium tim scout dari rival sekota St. Pauli, Hamburg SV. Namun nasibnya tidak lebih baik ketimbang di St. Pauli. Di Hamburg, Meier lebih banyak bermain bersama tim muda atau yang bekennya disebut reserves Hamburg SV.
Tak menyerah dengan keadaan. Meier tidak bunuh diri, tidak juga bunuh karir sepakbolanya. Justru dirinya langsung memutuskan untuk pindah ke klub promosi Eintracht Frankfurt, disitulah awal karir sepakbolanya dimulai. Pada musim debutnya 2004/05 ia langsung bawa Frankfurt untuk promosi di Bundesliga,



Dari data diatas saya simpulkan, selain ketajaman dan kekuatan, Meier juga memiliki kedisiplinan yang tinggi! Bayangkan jika pemain sekekarnya bisa hanya tercatat 2 kali mendapatkan pengusiran dari lapangan dan nihil kartu merah langsung! Sangat membuktikan bahwa Meier pun menjadi salah satu pemain yang paling bisa diandalkan di Frankfurt.

Saya akui bahwa saya kekurangan referensi data visual untuk menilai pemain ini. Youtube yang biasanya saya jadikan acuan malah tidak ada, cuman ada video proses terjadi golnya, bukan penampilan 90 menitnya. Namun situs data terpercaya saya whoscored.com menilai bahwa Meier memiliki karakter bermain yang cukup positif dan dianggap pula sebagai salah satu striker komplet dikelasnya.



(+)Aerial Duels

Dengan postur menjulang dan badan yang kekar maka tidak salah jika koresponden whoscored menilai kekuatan terbaiknya berada dalam hal ini.

(+)Finishing

Saya setuju sekali dengan penilaian ini, sebagai salah satu modal utama sebagai striker. Untuk masalah kecepatan memang kalah, namun tunjangan dari pemain dibelakang striker untuk lakukan finishing setelah dibantu dibuka ruang tembaknya, itu bisa menutupi kelemahannya.

(+)Heading Attemps

196cm masbrooo

(+)Holding on to the ball

96kg masbrooo

(+)Longshoot

Well, sejalan dengan awal pemikiran saya bahwa dirinya bukanlah tipe yang suka meliuk-liuk. Meier bisa dibilang tipe striker klasik, ada kans lalu tembak.

(-)Passing

Jangan berkecil hati um, ahli passing bukanlah kebutuhan utama untuk menjadi seorang striker.

Sepakbola adalah salah satu cabang olahraga terunik, kita hampir mustahil untuk menumpas tuntas habis dari permainan yang ditemukan di China dan baru dikenal ketika dimainkan oleh buruh di Inggris ini. Sejarahnya sangat panjang dan penuh dengan warna-warni dari segala aspek. Salah satu warna sepakbola adalah seorang Alexander Meier, striker klasik yang sukses di kehidupan sepakbola modern. Semoga pemain sepertinya akan terus tersedia secara berkesinambungan sehingga warna dalam sepakbola tidak akan berkurang, sedikitpun.

Tuesday, 3 February 2015

No Signing, No Problem.

RESMI: Liverpool tidak mendatangkan satupun pemain (lagi) di jendela transfer musim dingin. Seperti yang mereka lakukan pada musim lalu.

Fakta diatas cukup mencengangkan karna kenyataan bahwa seharusnya Liverpool menambah amunisi baru setelah tampil cukup terseok seok dari awal musim sampai pertengahan musim kali ini. Cuma mencetak 29 angka dan berhak menduduki posisi atas PAPAN TENGAH klasemen 20 laga awal, cukup kontras dibanding musim lalu.


Itulah alasan pentingnya untuk Liverpool melakukan pergerakan pada jendela transfer musim dingin ini. Namun yang terjadi justru Liverpool cukup aktif dalam menjual pemain, winger Oussama Assaidi dan pemuda potensial Suso Fernandez jadi korban kebijakan manajemen. Oke kedua pemain tersebut memang dinilai tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Rodgers, namun apakah Rodgers tidak berpikir bahwa dirinya mesti mengganti kedua pemuda 'buangan'nya tersebut dengan wajah baru yang sesuai dengan ekspetasinya? Dengan keadaan tim yang awal musim mendatangkan 9 pemain dengan bandrol fantastis £100 Juta!

Yasudah, seperti halnya aku dan mantanku, kalau waktu bisa diulang kembali mungkin kamu gak akan aku biarkan disebut mantanku saat ini, namun waktu tidak bisa diulang, nasi yang diberi kecap dan di goreng telah menjadi nasi goreng dan tidak bisa menjadi padi seperti semula, winter transfer window telah ditutup, Liverpool gagal mendaratkan satupun pemain.

Oke, gue bukan tipe fans kacangan yang kalo situasi tim yang awalnya dibela seburuk ini langsung hopeless, sebagai fans gue ga kaya gitu namun sebagai cowo gue bukan tipe yang gampang nyerah, soalnya gue g... *Curhat lg gue timpuk lu an.

Yup. Dalam artian gue gaakan hilang harapan dengan gagalnya Liverpool di awal musim ini, justru gue yakin dengan starting XI yang gue susun dan perkirakan ini bakal membantu Liverpool kembali ke 4 besar (sesuai target awal) dan kembali duduk manis di Liga Champions. Yeaas! Ini adalah pemain dan formasi pilihan terbaik gue sejak gue perhatiin LFC dari awal musim sampe tulisan ini dibuat.





Dengan rasa tanggung jawab tinggi agar para reader ngerti, gue jelasin bagaimana formasi ini berjalan. Gue jelasin satu persatu peran di sektor pemain masing-masing.

1. Kiper, Simon Mignolet
Ah udahlah, ibarat lu minum air dibotol Aqua, tinggal buka tutup botol langsung srupppp... Pengisi posisi ini gampang banget ditebak! Apalagi pas Brad Jones cedera dan Mignolet kembali membuat kepercayaan seluruh pihak klub meningkat akibat performa aslinya kembali.

Jangan tersinggung buat fansnya Brad Jones atau Danny Ward bahwa kiper Belgia tersebut sampai saat ini belum mendapatkan pelapis ketat yang setidaknya dapat dipercaya penuh diajang lain atau ketika Mignolet kembali ke performa jeblok *paiit paiit*.

Selain itu gue juga mau komentarin tentang tipe bermainnya yang berkarakter kiper 'kekinian banget'. Ya, kemampuan seperti yang dimiliki berberapa kiper terbaik dieranya seperti Oliver Kahn, Pepe Reina dan Manuel Neuer, yaitu sebagai Ball-Playing-Keeper. Mereka yang gue sebutin punya kemampuan kaki yang luar biasa bagi kiper. Mignolet menjadi aset berharga milik Liverpool saat ini jadi sepantasnya manajemen berbijak dengan baik menanganinya.

2. Bek, Can - Skrtel - Sakho
Kalo posisi ini ya semi-heavy lah milihnya, apalagi kalo untuk pemilihan bek disektor Can, karna saat ini Liverpool bisa dibilang memiliki 2 bek yang baru saja menunjukan sinarnya, dan bisa dibilang telat bagus.

Yang gue maksud adalah duo muslim Sakho dan Toure. Kedua pemain ini sama-sama datang di musim lalu dan baru menunjukan sinarnya pada keduanya di Liverpool. Nah, sejak Rodgers memakai formasi 3 bek sejajar, mereka dengan berberapa penampilan apik di awal musim ini berhasil masuk sebagai pemain penting di lini depan, bahkan Sakho berhasil menggusur manusia £20 Juta, Dejan Lovren.

Lovren yang digadang-gadang sebagai pengganti Daniel Agger sebagai duet dengan Martin Skrtel. Namun dengan formasi 2 bek sentral Liverpool gagal total dimusim ini, lalu ketika memakai 3 bek sejajar dengan masih adanya Lovren sebagai starter Liverpool tidak tampil membaik. Akhirnya setelah masalah kedisiplinan Sakho dengan Rodgers kelar, Lovren perlahan-lahan tergusur dari skuat reguler main. Puncaknya ketika kekalahan 3-0 atas MU di Old Trafford.

Sementara Toure sih sebenarnya bagus, namun gue sebenernya kurang sreg gimana gitu, ya mungkin  faktor umur jadi pembeda dalam pemilihan gue. Kita punya masa depan Liverpool dalam diri Emre Can, si ganteng agak mirip gue yang berusia 20 tahun. Jelas Toure sudah kehilangan kelincahannya dan Can menang banyak soal reflek, apalagi sejak Toure absen akibat membela negaranya di Piala Afrika, kepercayaan diri Can dalam skuat semakin bertumbuh. Namun tetap pengalaman dan emosi masih susah untuk dikelabui Can atas Toure - seperti soal untuk mencari jalan terbaik dalam meredam serangan lawan dimana itulah yang menentukan seberapa besar skill dan dewasanya seorang bek.

Jadi, Rodgers patut bijak ketika kembalinya Toure ke skuat. Namun gue prefer Can karna jelas, selain ganteng dirinya juga belum punya masalah besar dalam bermain. Sementara Kolo mulai kehilangan fokus. Sekali lagi faktor U menjadi pembeda.

Posisi yang didiami Sakho cukup rentan serangan balik, apalagi jika Liverpool memakai Wing-back berkarakter lebih menyerang seperti Lallana, maka gue kira Sakho mesti lebih teliti dalam berganti posisi dengan cepat, dari posisi full back hingga ketika membantu menggalang pertahanan bersama Skrtel.

Tugas Skrtel sepertinya gampang-susah karna pekerjaannya sebagai pelindung gawang Mignolet yang terakhir atau biasa disebut tembok terakhir, namun mudahnya karna selain dirinya hanya fokus bertahan (doi masih sering maju dalam situasi bola mati untuk Liverpool), ia juga banyak dibantu oleh 2 bek lainnya.

Sementara Can memiliki tugas yang relatif berat karna disini dia berusaha menjadi 2 figur, yaitu penyuplai bola dari samping, pemotong alur serangan samping juga sebagai bek yang bertahan. Semua tugasnya itu mesti memiliki totalitas yang tinggi jika tidak skema bertahan atau serangan balik yang diusung Rodgers diwaktu yang bersamaan bisa gagal.

3. Gelandang Sentral, Henderson - Lucas
Agak sulit memilih posisi ini, LFC punya Gerrard yang akan hengkang akhir musim dan Joe Allen yang cukup fenomenal. Namun yang paling realistis adalah memasukan nama Lucas dan yang pasti Henderson.

Mengganti Gerrard dalam skuat utama disisa musim ini agaknya layak dilakukan, hal tersebut agar bisa membuat tim terbiasa bermain apik walau tanpa seorang karismatik Gerrard yang resmi meninggalkan LFC pada akhir musim nanti, gue juga gak masukin Joe Allen disini, oshi gue belum jadi yang terbaik antara Lucas atau Henderson. Allen memang seorang yang fenomenal, visi operan yang luas, lugas dan tepat menjadi sisi fenomenalnya sejak didatangkan Rodgers 2012 lalu, namun konsistensi permainan serta masalah cedera bener bener ganggu oshi gue ini untuk menunjukan kemampuannya yang lebih baik lagi.

Henderson yang diplot sebagai kapten akan memegang peranan paling sibuk. Gue gadangkan dirinya bakal menjalani 3 posisi sekaligus! Yaitu sebagai cover posisi Lucas sebagai gelandang pengatur alur bola dari sektor pertahanan, cover posisi wingback kanan serta menjadi pemain pengatur tempo. Ya jelas, untuk mengatur tempo permainan adalah yang sangat sulit, tugas tersebut memerlukan kemampuan Allen dalam hal mengoper dan kelugasan dalam bermain seperti Gerrard. Namun dengan stamina yang dimiliki Hendo serta kemampuannya yang terus berkembang maka tugas ini bukan hal yang terlampau berat baginya.

Sementara Lucas seperti yang udah gue deskripsikan diatas bahwa tugasnya sebagai istilahnya jembatan antar lini sekaligus pemotong alur serangan pertama dalam skema serangan musuh. Kemampuan tekelnya dan uluran kaki Henderson bisa menjadi hal untuk memudahkan dirinya dalam melakukan tugas ini.

4. Gelandang Sayap, Lallana - Coutinho
Gue agak bertaruh ya dengan keputusan ini, memakai 2 gelandang sayap atau yang biasa disebut wing back bertipe menyerang seperti Lallana dan Cou. Tapi dengan cara Liverpool bermain yaitu menunjung tinggi pressing dan menyalakan alarm bertahan sejak lawan memegang bola di tengah lapangan namun tetap memiliki kecepatan atau agresifitas dalam menyerang maka gue nilai kedua pemain ini cocok abis!

Dalam foto formasi diatas cukup menjelaskan bahwa tugas Lallana adalah sebagai wingback yang membantu serangan serta membantu Lucas ketika Hendo sedang telat turun bantu Lucas ketika dalam situasi diserang balik. Sementara Coutinho dengan segala kemampuan dan lemahnya, doi hanya fokus nyerang dan akan sering swipe posisi dengan Henderson. Kadang doi bisa jadi gelandang dibelakang striker tunggal, sehingga Hendo yang bisa mengisi pos gelandang sayapnya. Enaknya punya seorang seperti Hendo begitu. Doi dengan hebatnya gak fokus dalam satu posisi, gatel buat terus bergerak mencari posisi yang bisa di back up gak salah kalo total assistnya sampai saat ini sudah sebanyak 6 assist. Kreatif!

Sebenernya Lallana bersaing ketat dengan Moreno yang akhir akhir ini juga mainnya mulai klop dan keliatan bagusnya. Namun dengan kekurangannya dalam hal transisi bermain takutnya doi sering kalah duel dan miss komunikasi sama Sakho. formnya belum terllau konsisten pula.

5. Striker, Sterling - Sturridge - Ibe
Posisi striker ini bisa dibilang posisi yang mesti banyak memiliki chemistry tinggi. Karna Rodgers memiliki 3 striker didepan dan skema akhir serangan Liverpool juga bagaimana ketiga pemain ini bekerja, bagaimana pula cara membongkar pertahanan lawan mereka mesti memiliki jawaban tersebut.

Tanpa adanya sang mantan indah, Luis Suarez maka praktis di lini depan, Sterling dan Ibe mesti membantu Sturridge dalam bermain, karna sesuai dengan kapabilitas, Sturridge tidak memiliki banyak kemampuan untuk seperti Suarez, yang dalam satu sisi bisa sebagai striker yang tajam namun dilain sisi bisa memberikan ruang untuk pemain lain. Sesuai pengalaman, Sturridge tidak terlalu bugar dalam melakukan kedua hal ini secara bersamaan. Cukup sebagai striker pencetak gol yang ditopang duet padunya Sterling dan Ibe. We have triple beast in the front!

Saturday, 31 January 2015

Dadah Me and Liverpool FC, Welcome Kata Farhan!

Halo pembaca blog yang abis kena sial gara-gara baca-baca di blog ini. Terhitung mulai akhir Januari ini atau tepatnya 31 januari 2015. Me and Liverpool FC berubah menjadi 'Kata Farhan'. YEAH! Tepuk tangan sodara sodara...

Alasannya karna selama ini gue merasa visitor yang-banyak-di-blog-ini (1 orang tiap harinya-itu gue sendiri) rata-rata mungkin tidak semuanya adalah Kopite atau nama lain fans Liverpool. Gue siap buat rangkaian kata-kata yang subjeknya gak stagnan tentang LFC, selama ini gue cukup kesulitan buat nulis karya gak penting gue karna berdasarkan tema blog ini adalah Liverpool FC, namun karna gue itu tipe orang yang cukup aktif berbaur dengan hal lain maka segalanya mulai berubah sejak Bekasi buat negara serikat. Haha no offense buat viewer dari Bekasi. Engga mulai hari ini berubah maksudnya.

Dan mau terimakasih buat viewer yang sudah menyempatkan diri berkunjung ke blog datar ini. Semoga diberi kebahagiaan selalu dan kejang kejang setelahnya. YNWA!

Tuesday, 28 October 2014

Quick Analys: Mengapa Diego Costa Begitu Melempem di Timnas Spanyol ?

Timnas Spanyol si Juara Dunia 2010 ini menjadi salah satu kiblat sepakbola dunia pada masanya, bayangkan jika puluhan pemain terbaik dunia berkumpul dalam satu tim yang dikomandoi pelatih kawakan seperti mendiang Luis Aragones yang menghantarkan Spanyol juara Piala Eropa 2008 hingga  Vicente del Bosque menjadi sorotan setelah membuat penampilan luar biasa di Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 lewat permainan cantik dan atraktif.

Spanyol Si Raja Sepakbola 2010
Semua figur bekerja saat itu, mulai dari kiper yang memiliki kemampuan bukan sekedar menangkap dan menghentikan laju bola seperti Iker Casillas, Victor Valdes atau Pepe Reina, bek tangguh yang cerdik dan cepat seperti Carles Puyol, Sergio Ramos atau Gérard Pique, gelandang yang seolah olah memiliki otak yang berada di kaki-kakinya seperti Xavi, Xabi dan Iniesta hingga penyerang yang juga memiliki ketajaman dengan kemampuan serba bisa seperti Cecs Fabregas, David Villa atau Fernando Torres.

Sebelum kekecewaan pada Piala Dunia 2014 lalu, Spanyol serasa berada di atas angin menyusul bergabungnya sang pencetak gol terbaik nomor 3 di La Liga musim lalu bernama Diego Costa. Namun, realita berkata lain. Di Piala Dunia, Cerita seperti bertolak belakang. Costa gagal menampilkan permainan baik dan tidak mencetak sebiji gol pun untuk Timnas pilihannya di event 4 tahunan itu dan La Furia Roja yang berangkat dengan label juara bertahan pulang dengan label pecundang.

Datang sebagai ancaman, pulang sebagai pecundang.

Ada berberapa hal yang menurut saya mempengaruhi penampilan Diego Costa selama ini di Timnas Spanyol. Salah satunya adalah ketidakcocokan taktik

Timnas Spanyol dikenal memiliki deretan penyerang tajam yang sangat sukses dan cukup melegenda, sebut saja Marcos Senna, David Villa, Fernando Torres dan kini semua berpikir Diego Costa adalah kelanjutan dari mereka.

Namun, perbedaan mendasar dan salah satu yang paling riskan untuk seorang penyerang adalah cocok atau tidaknya taktik yang dimainkan oleh sang juru taktik. Rasanya untuk Vicente del Bosque, Diego Costa bukanlah penyerang yang diimpikannya.

Ada yang salah dengan Costa?

Atletico Madrid, klub yang membesarkan namanya hingga di panggil ke Timnas Spanyol saat itu dinilai memiliki permainan yang jauh dari kata Spanyol, mereka bermain ala Amerika Latin yang mengandalkan ketahanan tubuh untuk bermain sepakbola, Diego Costa begitu nyetel dengan permainan itu dan kinipun ia dilatih oleh juru taktik yang memainkan filosofi Non-Spanyol dan bermain di liga sekeras Liga Primer dan tampaknya dirinya tidak perlu banyak waktu untuk menyesuaikan diri disana.

Perbedaaan tajam antara jersey merah dengan biru Ch*lsea
Sementara di Timnas Spanyol yang memainkan sepakbola tiki-taka yang kental seakan bertolak belakang dengan kemampuan alami yang dimiliki Costa, David Villa memang seorang striker, namun kecepatan dan kejeniusannya dalam bermain bola adalah nilai plus yang belum dimiliki Diego Costa, Fernando Torres hampir sama dengan Costa, namun Torres adalah Spainard alami, dia mengerti sepakbola Spanyol walaupun dirinya tidak memiliki atribut segesit David Villa.

El Nino and El Costa. Same but Different
Solusi? Sepertinya menanggalkan Tiki-taka, taktik yang sudah terlalu kuno untuk tuntutan sepakbola jama sekarang adalah sebuah keharusan untuk menggapai mimpi terkini. Namun, sepertinya akan sulit bagi Vicente del Bosque (yang akan melepas masa kerjanya di Timnas Spanyol seusai Piala Eropa 2016) melakukan solusi yang terbilang tadi. Jadi, juara atau tinggalkan tiki taka?

Mendedah Kelayakan (Andai) Klopp ke Liverpool

Oleh Dominico Zekhonya

Liverpool kembali menjalani masa muram yang beberapa tahun terakhir lekat dengan mereka. Setelah menjalani periode baik semusim lalu, kini mereka seperti lupa bagaimana caranya untuk mengulangi performa apik tersebut. Brendan Rodgers pun seperti kehilangan maginya. Jika musim lalu ia sukses menginspirasi anak asuhannya, tidak dengan musim ini. Berada di undakan ketiga Grup B Liga Champion--dalam tiga laga awal—dan tampil tak bagus-bagus amat di Liga Inggris, Rodgers mesti sadar bahwa posisinya terancam. Beberapa alternatif mungkin sedang dipertimbangkan oleh manajemen serta direksi. Nama Juergen Klopp pun menyeruak dan disebut sebagai salah satu kandidat juru racik anyar.


Dari segi taktik, Klopp adalah jaminan mutu. Meski kiprahnya belum teruji di liga mayor Eropa lainnya--karena baru Dortmund-lah klub terbesar yang ia tangani, sederet titel yang berhasil ia persembahkan bagi klub dari lembah Ruhr itu setidaknya menjadi justifikasi bahwa dirinya layak untuk berdiri di tepi lapangan Anfield, tentu saja di kubu Si Merah. Lima titel bergengsi, dua di antaranya juara Bundesliga, dan penghargaan individu sebagai Pelatih Terbaik Jerman pada 2011 dan 2012, merupakan rekam jejak sekaligus bekal bagi pria yang sempat menjadi pandit di salah satu televisi Jerman ini untuk meredam panasnya kursi manajer tim Merseyside Merah. Belum lagi, ia sempat membawa Dortmund mencatatkan 28 laga tanpa kalah pada 2011/2012. Impresif.

Klopp juga dikenal sebagai sosok yang adaptif terhadap situasi dan kondisi yang ia hadapi. Pada awal kedatangannya di Dortmund, eksbos Mainz ini sempat mencoba skema tiga bek. Sayangnya, skema tersebut tak begitu sukses. Ia kemudian memutuskan untuk mengubah formasi dengan empat bek sejajar, dua poros ganda, tiga gelandang serang, dan satu ujung tombak. Hasilnya? Seperti yang Anda bisa lihat di laman Wikipedia dirinya, ia sukses besar. Andaikata ia sukses meraih trofi Liga Champions musim 2012/2013 lalu, mungkin kini ia bisa pensiun dengan tenang atau mencoba melatih sebuah tim nasional.

Sesungguhnya, apa yang ia terapkan di Dortmund bukanlah hal baru mengingat sudah banyak tim lain yang sukses mengimplementasikan skema tersebut. Namun, intensitas yang ia tularkan kepada para pemainnya membuat skema milik Dortmund terlihat lebih mematikan dan memiliki daya rusak yang luar biasa. Meski pembawaannya dingin, ia amat andal dalam mengeluarkan kemampuan terbaik seluruh pemainnya.
“Ia mampu membuat kami semua menyadari bahwa jika ingin sukses, kami harus bekerja dan berusaha lebih keras ketimbang orang lain di lapangan. Tentu saja dengan berlari lebih banyak,” kata Robert Lewandowski, eksujung tombak Dortmund yang kini berseragam Bayern Munich itu satu ketika seperti dikutip dari Bild. “Hasrat yang kami miliki, semua kami kerahkan untuk kepentingan tim, dan Klopp-lah yang membuatnya demikian,” masih kata pemain timnas Polandia itu.
Borussia Dortmund's coach Juergen Klopp (rear) hugs Robert Lewandowski after losing their German Cup (DFB Pokal) final soccer match against Bayern Munich in Berlin May 17, 2014. REUTERS/Ina Fassbender (GERMANY - Tags: SPORT SOCCER) DFB RULES PROHIBIT USE IN MMS SERVICES VIA HANDHELD DEVICES UNTIL TWO HOURS AFTER A MATCH AND ANY USAGE ON INTERNET OR ONLINE MEDIA SIMULATING VIDEO FOOTAGE DURING THE MATCH.Borussia Dortmund's coach Juergen Klopp (rear) hugs Robert Lewandowski after losing their German Cup (DFB Pokal) …


Berbicara soal Lewandowski, terlepas dari kepergiannya yang tak memberi tambahan sesen pun dalam catatan buku pemasukan klub, ia merupakan satu dari sekian nama dalam daftar belanja sukses klub karena intuisi kelas satu pria religius ini. Selain Lewy, ada nama-nama asing yang juga mencuat di bawah arahan Klopp, antara lain: Neven Subotic, Mats Hummels, Lukasz Piszczek, Marco Reus, dan Sven Bender. Jangan pula lupakan pemain lincah dari Jepang, Shinji Kagawa, yang direkrut hanya dengan biaya 350.000 euro, tapi berhasil dilego dengan keuntungan 4.800%! Belakangan, pria jepun itu memutuskan kembali ke klub yang membesarkannya karena merana di Inggris bersama raksasa sakit, Manchester United.

Jika dibandingkan dengan manuver Rodgers selama di Liverpool, khususnya musim terakhir, Klopp tentu lebih unggul--dengan mengabaikan variabel absennya Liverpool di kompetisi antarklub paling bergengsi di tatanan Eropa yang membuat pemain-pemain bintang enggan merapat. Bagi para penggemar Liverpool, dosa terbesar pria Irlandia Utara itu adalah “hanya” mendatangkan pemain semodel Rickie Lambert dan Mario Balotelli untuk menggantikan peran Luis Suarez yang hengkang ke Liga Spanyol. Memboyong ekspemain Inter Milan dan AC Milan itu adalah repetisi dari apa yang dilakukan oleh Raja Liverpool, Kenny Dalglish, ketika mendatangkan Andy Carroll beberapa musim silam. Kehadiran Klopp di Liverpool tentu saja memicu peluang bagi pemain-pemain Dortmund untuk mengikuti jejak mentor mereka. Hal ini adalah efek domino yang diharapkan oleh mayoritas penggemar Liverpool.

Salah satu nilai plus dari suami Ulla Sandrock itu adalah, ketimbang Rodgers yang lebih banyak diam dan memilih bicara diplomatis nan normatif ketika berada di hadapan awak media, Klopp lebih apa adanya, tanpa menanggalkan kesan dingin yang dimiliki. Gaya bicaranya yang sopan semakin khas dengan suara rendah nan berat yang amat pria. Ia gemar mengungkapkan gagasan-gagasan yang membanjiri kepalanya, hingga terkesan ekspresif. Terkadang, ia kerap mengeluarkan lelucon atau pun parodi yang mampu mengundang gelak tawa di ruang konferensi pers. Hal tersebut tentu menjadi modal penting untuk menghadapi pers Negeri Ratu Elizabeth yang dikenal kurang kerjaan.


Dari gaya berpakaian, ia bukan sosok pria yang peduli soal citra dan lebih memilih untuk tampil senyaman mungkin. Hal itu kemudian membuatnya dikenal sebagai manajer sepak bola yang bergaya sportif berbalut celana olahraga dan jaket hangat--meski belakangan mulai mengalah dengan mengenakan jas di kompetisi antarklub Eropa. Ulrich Hesse, salah seorang pewarta berita di Jerman, menyebutnya sebagai Bon Jovi di lapangan hijau. Konon, ia sempat memainkan beberapa lagu rock ketika merayakan kesuksesan tim pada 2011/2012 dalam sebuah penerbangan.
Dortmund's head coach Juergen Klopp waves to supporters after his team lost the German first division Bundesliga soccer match between 1.FC Cologne and BvB Borussia Dortmund in Cologne, Germany, Saturday, Oct. 18, 2014. (AP Photo/Frank Augstein)Dortmund's head coach Juergen Klopp waves to supporters after his team lost the German first division Bundesliga …


Aksinya di lapangan--ketika berteriak lantang memerintahkan para pemainnya untuk mundur--memancarkan keanggunan yang membalut ketegasan. Ia adalah jawaban dari pertanyaan atas asal-usul keberanian yang ditunjukkan oleh para pemain Dortmund ketika berlaga. Bagi pendukung Mainz dan Dortmund, ia adalah pujaan. Dari aspek apa pun, ia adalah sosok ideal bagi Liverpool. Keberhasilan Dortmund untuk kembali menjulang setelah hampir gulung tikar tak lepas dari andil pria yang tak berhasrat untuk menghabiskan seluruh hidupnya dengan menjadi manajer sepak bola. 

Jika pada 2008 ia memanjat pagar tribun untuk berpamitan kepada para penggemar Mainz, cara serupa mungkin akan ia ulang--sembari menyanyikan satu atau dua buah lagu rock--ketika berpamitan kepada para penggemar Dortmund sebelum melatih Liverpool (semoga saja).


Wednesday, 25 June 2014

Dimanakah Masa Depan El Pistolero Akan Berakhir?

El Pistolero, itulah julukan dari Luis Suarez, sang penyerang tajam milik Liverpool yang kini sedang memicu kontroversi di Piala Dunia 2014 Brazil.



Luis Suarez tertangkap kamera sedang melakukan pergerakan tak biasa ketika dijaga ketat Chiellini

Ya, dia kembali melakukan hal tak lazim lainnya, Suarez kembali menggigit pemain lawan, kali ini korbannya adalah Giorgio Chiellini, ketika pertandingan lanjutan Piala Dunia 2014 lawan Italia, pada selasa (24/6) malam WIB.




Hasil gigitan Luis Suarez yang ditunjukkan Chiellini kepada wasit


Insiden ini adalah kejadian ulangan yang sebelumnya membuat Suarez di banned 10 pertandingan oleh FA ketika menggigit pemain Chelsea Brasnilav Ivanovic pada akhir musim 2012/13 lalu.



Insiden gigitan Luis SUarez kepada pemain Chelsea Brasnilav Ivanovic 

Hal tersebut mungkin akan membuat berberapa pihak yang merasa bertanggung jawab dengan Luis Suarez menjadi kesal, bahkan kabarnya CEO klub Merseyside Merah akan berunding dengan manajer Brendan Rodgers untuk menentukan sikap terbaik yang akan diberikan kepada Suarez pada berberapa hari kedepan.

Sementara disana, berberapa klub papan atas dunia macam Real Madrid dan Barcelona berebut tanda tangannya dan terlihat tidak akan mundur seiring insiden tersebut.

Bahkan, menurut berberapa sumber terdekat para klub peminat Suarez, mereka akan membuat tawaran raksasa sekalipun jika itu bisa membuat Liverpool melepas Suarez.

Jika saya hitung-hitung, untuk mendatangkan Luis Suarez, berberapa tim raksasa tersebut juga harus memberikan uang raksasa pula jika tanpa opsi lain.

Saat ini menurut transfermarkt, Suarez memiliki harga sekitar £45,76 Juta. Harga tersebut belum termasuk harga pelepasan sebelum habis kontrak yang masih menyisakan 4 tahun lagi, bonus, pajak hingga gaji hitungan permusimnya yang cukup besar. Maka harga £45,76 Juta yang tercantum sebelumnya bisa meningkat hingga hampir sekitaran £75,5 Jutaan!

Namun, sepertinya Liverpool saat ini sedang tidak peduli dengan uang raksasa, klub sepertinya sedang mempertimbangkan untuk setidaknya mempertahankan capaian yang telah hampir mencapai puncak pada musim lalu, maka opsi mempertahankan atau melakukan sistem tukar tambah dengan pemain bintang klub lain menjadi pilihan terbaik untuk klub saat ini.

Namun, saya berharap bintang kita ini bisa bertahan di LFC dan lolos sanksi FIFA maupun klub. Seiring kontroversi yang ia lakukan ini dalam pertandingan yang diselenggarakan oleh FIFA. Saya ingin melihat kejayaan yang ia berikan kepada klub pada musim depan maupun dimasa yang akan datang!

Diluar ini semua, kita mesti tetap mendukung Luis Suarez, bagaimanapun kelakuannya, bagaimanapun kontroversinya dia adalah pemain THE REDS, menghujatnya bukanlah cara yang tepat untuk membicarakan tentang dirinya saat ini. Jangan pernah biarkan ia berjalan sendirian jika kita tidak ingin dirinya pergi!




#SaveSuarez

Salam semerah dan You'll Never Walk Alone!

ME AND LIVERPOOL FC!

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam Sejahtera bagi kita semua.

Pertama-tama... ahsudahlah kaya mau pidato aja.

Hallo semua, ini adalah entri pertama gue di blog ini. Sebelumnya gue juga pernah mengoperasikan salah satu blog saya yang cukup sukses di kalangan pelajar ganteng, tampan, dan menawan *terbilang ketika jaman manusia Homo Sapien*.

->Ini blognya | Namun sayang, karna didunia ini juga tercipta istilah 'lupa' diantara 'orang ganteng lainnya'. Maka tentunya gue yg termasuk 'orang ganteng lainnya'. Iya, gue lupa kata kunci buat masuk ke blog tersebut. Selain itu, alasan gue gak mau ngelanjutin mosting di blog itu juga karna gue mau vakum dari dunia per-blogger-an *kosakatanya ribet ya*. Sekarang, setelah blog tersebut gue tinggali. Di blog ini gue mau buat tema lain yang lebih presh, maklum org sunda gabisa ngomong fresh *HAHA*. Sorry gue pernah kok lebih garing dr itu. Ya, mungkin blogger yang isinya penuh tentang klub yang paling seneng bentangin 5 jari didepan para bagian dari Emyu itu. Siapa lagi kalo bukan Elepce.


Ya, kalo kalian tertarik sama cerita cinta gue sama Elepce, sini biar gue ceritain...

Dahulu kala... Semua negara hidup dengan damai... *abaikan*

Jadi dulu itu awal-awal gue suka LFC karna pernah liat pertandingan LFC v Arsenal dimusim 2006/07. Wktu itu LFC emg kalah telak 3-0, awalnya sih karna emg gue itu remaja penganut paham 'Ke-Anti-Mainstream-an', sementara saat itu, sodara-sodara gue yg pada ngejagoin tim yang saat itu make jersey warna merah-putih itu, alhasil gue milih klub yang pake jersey kuning dan berlogo warna merah.



Dari situ, gue terus jaga jarak sama LFC, hampir gak pernah ketinggalan info ttg LFC di koran BOLA/OLE yang saat itu lagi marak-maraknya dan terkenalnya dengan poster. Ah, gak lama, gue punya poster LFC yang isinya ada Kuyt, Riise, Reina, Alonso, Jami Carragher, Bellamy dan Gerrard tentunya. Itu gue dapet dari koran BOLA itu. Dan sampai sekarang, disetiap musim EPL, setiap jam, waktu, keadaan sekalipun, gue tetap mentasbihkan diri sebagai Kopites. Yeah!



Sampai sini dulu postingan gue tentang LFC. Setelah postingan ini, selebihnya gue bakal kasih artikel tentang LFC yang semoga bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Akhir kata... Semoga kalian bisa terhibur, supaya nyenyak saat tidur, seperti org abis dikubur. Wassalamualaikum. Wr. Wb. YNWA!