Wednesday, 18 October 2017

Bahaya Laten Mager

Gue gak ngerti sebelumnya kenapa gue kepikiran buat tulisan yang satu ini, awalnya sih karna disuruh buat daftar sikap tidak terpuji dari dosen gue, eh malah jadi curhat kaya gini. Gue kasian ke dosen gue, bisa nangis doi baca tulisan merembet ke artikel kaya gini. Daripada mubazir, gue taro artikel ini di blog, resumannya gue tulis tangan buat dikasih ke dosen.

Sebenarnya, gue punya banyak sikap tidak terpuji, mulai dari mudah emosi, terlalu mudah rewel, buruk dalam hal mengatur keuangan, teliti dalam detail namun ceroboh secara umum, hingga rajin tetapi hanya pada hal yang sepele, namun ada sikap tercela yang paling umum gue lakukan adalah MAGER.

People jaman now (Manusia jaman sekarang) memang memiliki karakter malas yang beragam, mager sendiri merupakan kepanjangan dari ‘malas gerak’, sementara diluar sana masih ada kawan-kawan yang menemani kata ‘malas’ seperti malas berpikir, malas baca, malas mandi (karna kulit badan sulit menerima suhu air yang dingin) bahkan malas makan hingga malas tidur merupakan contoh-contoh malas masa kini yang seringkali menghiasi status-status facebook, whatsapp hingga snapgram yang tujuan aslinya memperlihatkan kegiatan, malah tidak sedikit penggunanya yang mengupload kemalasannya.

Bokap gue pernah mengatakan, gue ingat banget hari itu merupakan hari bersih-bersih rumah, sementara gue sendiri merupakan anak yang paling anti kamar sendiri kotor, hingga terbawa sampai saat gue tinggal di kosan, saat itu bokap bilang “Kok kamu jadi males beresin kamar sih?”, disitu gue curiga dan langsung gue menyadari bahwa malas gerak dalam hal sikap merupakan bahaya laten, kita tidak akan menyadari seperti apa rajin kita, namun kita akan segera melihat ketika momennya tiba, saat itu hari minggu suhu Kota Bogor yang menyejukkan, cuacanya mendukung untuk tidur, ditambah handphone yang penuh dengan tulisan artikel panditfooball memang sulit untuk ditinggali, sehingga gue lupa bergerak untuk mendukung kegiatan bersih bersih di hari libur tersebut.

Ketika gue udah berada di kota berbeda dengan kedua orang tua, ternyata sikap laten MAGER masih membayangi hari gue, contohnya setelah mengerjakan tugas di malam hari gue shut down laptop, gue tidak menunggu laptop mati namun gue langsung lemparkan badan ke tempat tidur, namun nahas ternyata laptop gue tidak bisa mati karna ada file yang harus gue klik untuk setuju di close, rasanya kasur gue udah melekat erat di badan sehingga akibat MAGER tersebut tidak memungkinkan gue untuk membawa kasur gue sembari bangkit meraih dan paksa shut down laptop tersebut, jadi gue biarkan laptop tersebut menyala hingga pagi hari.

Untuk mengatasi sikap buruk tersebut gue selalu mengingat wejangan dari kedua orang tua gue, beliau mengatakan “Kamu di Semarang jangan males, tinggal Belajar sama urusin hidup sendiri aja kok males.” Kata-kata tersebut walaupun tidak didukung dengan EBI, namun cukup ampuh untuk melawan sikap MAGER tersebut, bagi gue orang tua merupakan figur penting dan salah satu motivasi kenapa gue harus sukses dan bahagiakan mereka. Sehingga gak aneh kalo kata-kata itu gue bikin jadi motivasi supaya sikap tidak terpuji gue itu ilang.

2 comments: