Kring... Kring... Bunyi hujan diatas genting, bukan lagu deng, itu deskripsi suara alarm yang bangunin gue jam 5 pagi tadi, sebenernya sih udah bunyi 3 kali, soalnya gue snooze. hehe. Yaudah ulang
Kring... kring... Luwak white coffee, kopi enak nyaman di lamb.. Fakkkk
Jadi singkat aja, tadi pagi gue kebangun jam 5, tapi gak jam 5 amat sih, jam 5 lewat 55 menit lah. Terus gue cek hape ada notif dari goal.com, itu tentang Belanda yang tersingkir dari Piala Dunia 2018. Ya, itu Belanda men, Timnas idola gue setelah Inggris, Indonesia gimana? Iyalah guekan nasionalis, tapi dalam hal sepakbola bukan sisi nasionalisme cara gue menikmati permainan kulit bundar ini. Skip, jadi setelah Inggris gue emang jatuh cinta sama Timnas Belanda. Lalu ada pertanyaan lagi, apakah gue kaget setelah Timnas jagoan gue nomer dua itu tersingkir? Ga sama sekali.
Hubungan gue sama Timnas Belanda itu diawali ketika pada tahun 2010 yang lagi marak-maraknya Piala Dunia waka waka ehehe di Afsel sana, saat itu orang-orang pada ngomongin gokilnya permainan tiki-taka Spanyol, sebagai penikmat taktik sepakbola gue coba telusuri tiki taka, ternyata gue nemuin satu kata keren di salah satu artikel mengenai permainan Spanyol di PilDun "Tiki taka berawal dari total football." Total football men, coba bandingin Cetanaccio, Tiki Taka atau Samba, Total dan Football itu kata yang gak asing ditelinga gue, akhirnya sesimpel itu aja gue jadi mulai mempelajari secara bocah mengenai taktik ini, receh emang.
Prinsipnya, total football itu permainan paling atraktif menurut gue karna semua pemain yang berada di lapangan ikut bermain bola (passing, shooting, dribbling) dan aktif bergerak kesana kemari untuk menghidupkan permainan, bedanya dengan tiki-taka sih mungkin tiki-taka lebih mendewakan operan pendek dibanding total football sehingga gue kira dalam tiki taka tidak perlu yang namanya box to box karena gelandang hanya perlu mencari pemain terdekat untuk di oper, sementara total football merupakan formasi yang mendepankan bukan hanya kecerdasan pemain, selain itu juga kemampuan fisik karena pemain tetap dituntut untuk bertanggung jawab di posisi aslinya selagi membantu tim untuk mencetak skor.
Saat 2010, Timnas Belanda asuhan Bert van Marwijk merupakan tim dengan pemain generasi emasnya, disana ada Stekelenburg yang masih cekatan, bek tengah Mathijsen, Heitinga yang tangguh, bek sayap muda van Der Wiel dan kaptennya van Bronckhrost serta Robben, Sneijder yang lagi bagus bagusnya di Inter, van Persie dan manusia tanpa paru-parunya Liverpool, Dirk Kuyt di usia emasnya.
Namun ketika Belanda tersingkir kemarin, hanya tersisa Robben yang bermain dari generasi finalis Piala Dunia 2010, sisanya Ryan Babel dan Stekelenburg tidak dimainkan oleh Meneer Advocaat, sebagai tambahan Advocaat merupakan asisten dari Rinus Michels, pelatih penemu Total Football. Nah yang lebih ironis, kemenangan atas kegagalan Belanda melaju itu ditentukan oleh Robben itu sendiri.
KNVB (PSSI nya Belanda) bisa aja ngeles dengan mengatakan bahwa Skuat Belanda saat ini disiapkan untuk Piala Eropa 2020 dan Piala Dunia 2022, namun aneh ketika Timnas sebesar Belanda membuat gap regenerasi padahal hal tersebut bisa saja dihindari jika KNVB tidak melakukan banyak blunder yang mengganggu proses regen tersebut seperti membiarkan van Gaal yang membuat permainan Belanda kembali atraktif memilih melatih klub, lalu menggantinya dengan Danny Blind yang minim improvisasi, lalu menimbulkan kekacauan dengan pemilihan dini Guus Hiddink dan mengangkat Dick Advocaat ketika Belanda sedang diujung tanduk. Atas dasar itu gue dan mungkin para pecinta bola yang menyukai Timnas 'Raja tanpa mahkota' banyak yang underestimate sejak awal kualifikasi Piala Dunia 2018 mengenai langkah Belanda di even akbar 4 tahunan tersebut.
Selain Belanda gue juga gak kaget dengan pencapaian Islandia, negara berpenduduk terkecil sepanjang sejarah Piala Dunia yang berhasil masuk ke babak grup Piala Dunia 2018. Islandia sejak Piala Eropa 2016 kemaren emang gila, gimana engga dari negara kejutan yang berhasil melaju babak grup hingga hentikan langkah Inggris di babak 16 besar, dengan materi pemain seadanya, disana cuma ada Sigurdsson yang menjadi pemain mahal di Everton bahkan ketika salah satu pemain yang pernah main di klub sekelas Barca kaya Eidur Gudjonsen udah mulai uzur dan jarang tampil, sisanya pemain-pemain yang notabenenya bermain di klub medioker sekelas Reading atau Burnley di Inggris.
Islandia mengajarkan bahwa permainan sepakbola juga gak melulu soal skill, namun kolektif dan prinsip bermain yang sejak dini di tanamkan dalam tim sangat membantu kesiapan tim, Islandia dan Jerman merupakan contoh mengapa skill hanyalah anugerah, sementara anugerah jika tidak diarahkan maka akan sia sia apalagi tidak semua pemain diberikan anugerah dan kita sendiri harus tetap fight dalam hidup meski tidak diberi anugerah oleh Yang Maha Kuasa.
Lalu, gue juga mendapati fakta bahwa rata-rata pelatih sepakbola di Islandia termasuk tertinggi dibanding Inggris, sekali lagi ini menunjukan bahwa peran pelatih yang memperkenalkan prinsip dan taktik dalam bermain sepakbola merupakan unsur penting dalam mempersiapkan Tim menjadi lebih kuat.
Makanya tidak akan aneh jika Chile, Kosta Rika dan baru-baru ini Islandia selalu menggebrak event sekelas Piala Dunia, meski tanpa banyak pemain mahal didalamnya, karena prinsip penghargaan akan proses regenerasi yang selalu dimiliki mereka dan tidak akan aneh juga jika pusat kekuatan sepakbola dunia masih akan berada di tangan Timnas Jerman yang memiliki pemain kelas dunia dan ditopang oleh kesiapan DFB (PSSI-nya Jerman) yang sejak kegagalan 2010 manghadirkan kepercayaan tanpa henti terhadap proses untuk membentuk regenerasi tanpa gap.
Wednesday, 11 October 2017
Regenerasi Tanpa Gap
Subscribe to:
Post Comments (Atom)






0 comments:
Post a Comment