Showing posts with label Artikel LFC. Show all posts
Showing posts with label Artikel LFC. Show all posts

Wednesday, 7 October 2015

Cara Kerja Kebijakan Transfer Liverpool ( Komite Transfer )







Apa itu Komite Transfer Liverpool?
Komite transfer Liverpool adalah 6 orang yang berurusan dengan pemilihan dan pendatangan target transfer di Liverpool
Ini adalah proses dimana pemilik utama John W. Henry masuk kedalam persoalan tersebut untuk memastikan bahwa Manajer tidak memegang peranan total terhadap pencarian bakat, pembelian, penjualan dan pembaruan kontrak.
Siapa saja 6 orang tersebut?
1. Manajer
2. Kepala pencarian bakat: Barry Hunter
3. Kepala eksekutif: Ian Ayre
4. Direktur kinerja teknis (Ahli statistik dan analisa pemain): Michael Edwards
5. Kepala perekrutan: Dave Fallows
6. Presiden Fenway Sports Group (FSG): Mike Gordon
Kenapa Komite tersebut dibentuk?
Ketika FSG mengambil alih klub pada tahun 2010, waktu itu Mr. Henry menyelidiki tentang 'Mengapa Liverpool tidak lagi menjadi kekuatan sepakbola yang dominan?', lalu ia bertanya ke orang-orang sekitar klub untuk mendapatkan jawaban tersebut. 
Jawaban utama dari mereka ternyata hampir seragam: Terlalu banyak pembelian buruk. Karna Mr. Henry itu cukup baru dalam dunia sepakbola, dia terkejut bahwa di Inggris, manajer memiliki kontrol total dalam pembelian pemain tersebut, padahal di Eropa sudah memakai direktur sepakbola 
Lalu Mr. Henry menunjuk direktur sepakbola Liverpool, Damien Comolli, mantan pemandu bakat Arsenal bersama Edwards, sebagai penganalisa dan ahli statistik.
Edwards itu adalah penggila 'Moneyball' yang mana ketika dia melihat rata-rata statistik maka akan ada target pembelian baru yang tak terkira (alias bukan pemain bernama) dan harga semiring-miringnya. Hal tersebut sudah berlaku di dunia baseball, FSG tahu betul karna mereka juga memiliki Boston Red Sox di Amerika sana. 
Brendan RodgersGETTY
Namun Comolli dan Edwards gagal. Seperti pembelian FSG terhadap Andy Carroll, mereka langsung sadar bahwa mereka tidak dapatkan apapun dari bisnis Carroll tersebut. Carroll dianggap gagal memberi dampak performa klub secara signifikan dan uang yang dihasilkan dari bisnis tersebut merugikan FSG.
Comolli dipecat, lalu Edwards menetap di klub sebagai bagian dari 6 orang Komite Transfer setelah penunjukan Brendan Rodgers pada 2012.
Rodgers tidak ingin bekerja dengan direktur sepakbola namun akan setuju menjadi bagian dari komite selama ia memiliki hak menentukan keputusan akhir pemain.
Itulah yang dinamakan Komite Transfer, namun label tersebut ternyata dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu di Anfield, dimana mereka lebih menganggap itu sebagai tim perekrutan pemain baru
Andy CarrollGETTY

Bagaimana cara kerjanya?
Ada banyak cara mereka bekerja namun cara paling sederhana yang bisa saya sampaikan begini: Manajer akan menyoroti area atau pemain yang ia inginkan, pemandu bakat akan mencarikan pemain, Edwards akan buat analisanya, Ayre akan melihat dari sisi finansial alias keuangan klub. Nah hasilnya akan dirapatkan oleh orang-orang tersebut.
Setelah diambil keputusan, manajer akan mengatakan bahwa dia inginkan pemain tersebut. Namun dia juga memiliki hak veto untuk menolak pemain dari komite transfer, begitupun sebaliknya, komite bisa menolak pemain yang diinginkan Rodgers.
Rodgers telah memilih pemain yang ia yakini bisa bermain dengannya
Contohnya seperti Mario Balotelli, dan pemain lain yang ia desak Komite Transfer untuk didatangkan macam Dejan Lovren (yang badannya mirip saya), Joe Allen (yang kebetulan pemain favorit saya), Christian Benteke (yang mirip sama orang yang baca tulisan ini) dan Adam Lallana (yang mukanya mirip saya).
Pembaruan kontrak juga disortir oleh para komite tersebut dengan sistem yang sama.
Mario BalotelliGETTY

Apa hal positif yang bisa diambil dari sistem transfer ini?
Hal positifnya jelas. Ada berberapa uji kelayakan yang dilakukan sebelum investasi tersebut dilakukan.
Pemain akan di tonton oleh sejumlah pemandu bakat, statistiknya akan dianalisa dan yang lain akan melihat karakternya yang bakal cocok di klub atau tidak.
Hal tersebut akan mendapatkan sedikit desakan dari manajer yang tidak ingin menghabiskan waktu terlalu lama untuk melihat target dan menentukan kontraknya.
Apa sisi negatifnya?
Saya pernah mendengar sebuah pepatah: terlalu banyak koki bisa merusak bumbunya, namun bukan hanya itu masalahnya.
Salah satu yang utama adalah pertanggung jawaban. Ketika perekrutan tersebut gagal, maka ada 6 orang yang memiliki kesalahan. Berberapa dari mereka akan memilih untuk menyalahkan kepada orang lain yang dapat menyebabkan friksi diantaranya.
Proses juga akan memakan waktu lama, jadi ketika tiba tiba pemain incaran tersedia untuk direkrut, Liverpool harus lakukan proses terlebih dahulu ketika klub lain mendekatinya dengan cara yang lebih kenaluriahan alias kira kira untuk merekrutnya.
Ketika Liverpool lakukan pendekatan, eh ternyata terlambat, pemain tersebut sudah tanda tangan dengan tim lain, contohnya seperti Alexis Sanchez atau Victor Valdes.
Jadi kadang membuat manajer harus menerima pilihan pemain lain, namun manajer akan merasa terdesak oleh pilhan tersebut dan juga memaksa pemain harus sesuai dengan rancangannya.
Kesimpulan
Sederhana saja, Liverpool telah mengahabiskan £291 Juta dalam 3 tahun oleh Komite Transfer dan hasilnya hampir tak membaik.
Itu artinya komite tidak bekerja, namun bisa jadi juga bahwa orang-orang di komite sekarang bukanlah orang yang cocok untuk manajer.
FSG mesti merangkai kembali kebijakan transfernya dan juga pada orang-orang yang terlibat dalam 3 tahun sistem transfer tersebut.

Sunday, 2 August 2015

Mendedah BIG 4 Untuk 2015-2016

Udah lama gak nulis nulis lagi di blog ini, dari sejak sebelum puasa hingga selesai lebaran dan sampe sekarang akhir dari liburan panjang... Atas nama segenap admin Blog Kata-Farhan, yaitu gue sendiri, cie sendiri. Mengucapkan... Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, terutama buat mantan, mantan gebetan dan para jomblo yang terhina karna sempet disebuti di blog ini. Maaf membuat nama kalian kotor... Sama kaya sikap kalian ke saya ntan, kotorrr... Oke maap sekali lagi saya maapin.

Oiya, tepat hari ini, 2 Agustus 2015, yang artinya pembukaan Liga Primer Inggris tinggal menghitung hari lewat jari! Tepatnya 6 hari lagi, yap! 8 Agustus 2015 opening kick off dari liga paling menarik, kaya dan yang gue paling senengin, apalagi ada klub tercinta gue di dalamnya, ya gausah di sebutin lagi, karna gue kasih kisi kisinya bahwa itu klub bakal kesebut di artikel ini. Yaudah gue minta maap juga sama klub kecintaan gue karna kesebut lagi :(

Sedikit intermezzo, Big 4 adalah peringkat yang menjadi target mutlak tim papan atas Liga Primer Inggris mulai dari Chelsea, ke Liverpool hingga tim black horse alias kuda hitam yaitu Southampton pun menargetkan tempat 4 besar yang artinya masuk kompetisi bergengsi Liga Champions. Namun walau begitu, klub seperti Chelsea, Arsenal, City atau United memiliki target mutlak 3 besar agar mereka tidak menghabiskan Pramusim untuk melakoni playoff, sementara sisanya "Bodo amat yang penting masuk UCL".

Oke bagaimana gambaran Big 4 untuk musim depan menurut saya? Cekidot!

1. Chelsea

Tidak berubah dari musim lalu, Chelsea menurut gue tetap menjadi tim terkuat EPL musim 2015/16, dengan tidak terlalu banyak bongkar pasang skuat karna memang sudah mahal serta di set untuk kuat juara dalam 2 musim berturut-turut dan formasi yang tidak banyak berubah karna emang Mourinho sih formasinya gitu-gitu aja, kalo gak parkir bus ya serangan balik. Hehe yg terakhir bercanda.

Pembeliannya pada musim panas kali ini cuma di posisi kiper yang sebelumnya ditinggal Petr Cech ke Arsenal, Asmir Begovic datang dari Stoke City.

Raportnya di pramusim sih lumayan, walaupun gak bagus bagus amat, 2 kali menang, 2 kali seri dan sekali kalah menjadi modal berharga untuk menghadapi kerasnya EPL musim depan dan tentu FA Community Shield 2 Agustus (hari ini).

2.  Manchester United

Dengan berat hati saya tempatkan tim ini diposisi 2, jangankan posisi 2, bertahan di Liga Primer aja saya masih berat hati buat dukung, tapi saya buat artikel ini dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme tinggi. Yap banyak alasan kenapa saya tempatka tim setan.... merah ini diposisi dibawah sang juara.

Pembelian musim panas kali ini mereka sangat luar biasa, dengan keuangan yang kuat dan efek lobby direktur klub mereka, Ed Woodward berhasil merekrut Memphis Depay di awal pramusim lalu Bastian Schweinstesadmvghsbdjvs (aduh namanya susah amat) dan Morgan Schdfghjjkl dalam tempo 1-2 hari, selanjutnya pembelian Mateo Darmian hingga yang terkini Sergio Romero dengan free transfer. Lengkap sih, cuma posisi bek tengah ini yang menjadi masalah serius United pada musim lalu belum ada tambalannya untuk musim depan.

Raport laga pramusim mereka cukup menjanjikan walaupun hasilnya tidak selalu menang, penampilan berberapa pilar baru yang dipadukan muka familiar cukup baik dengan hasil 3 kali menang dan sekali kalah, itupun di Final ICC 2015. Bahkan mereka sempat mengalahkan tim treble musim lalu. Mereka memiliki modal kuat untuk liga musim depan.

3. Arsenal

Bukan musim ini, Gun! Tiap awal musim mereka menargetkan juara, tengah musim turun target jadi 4 besar, akhir musim baru bangkit lagi buat incer posisi setinggi-tingginya ketika gelar juara udah hampir pasti ketangan klub lain. Begitulah Arsenal tiap musim.

Beda kaya MU dan sama kaya Chelsea, pembelian mereka hanya di posisi Kiper yaitu Petr Cech  yang akhirnya meminjamkan Wofghjkl Sczhsdny ke AS Roma. Mereka seperti lupa bahwa banyak posisi yg mesti ditambal apalagi badai cedera bulanan kerap menggangu target mereka sepanjang musim.

Pramusim mereka di Emirates Cup sangat mulus, sangat. Mereka membantai calon juara dari Prancis, Olympique Lyon dan mengalahkan tim nomor 2 terbaik Jerman, Wolfburg, Tapi semulus-mulusnya pramusim mereka kayaknya bakal sama kaya pramusim di tahun-tahun sebelumnya, gak bisa menjadi pijakan kuat untuk sejauh mana mereka bisa bertahan di posisi 4 besar.

4. Liverpool

Ciee... Yang belum bisa juara musim ini cie... Iye... Liverpool masih belum saya yakini bisa kuat musim ini, tapi dipastikan, untuk menempati posisi ini mereka wajib bisa meminimalisir kesalahan-kesalahan bodoh diawal musim dan terus kuat hingga Desember, lalu push pemain agar memaksimalkan sisa kompetisi.

Banyak faktor yang membuat mereka saya yakini masih sulit beratahan di 4 besar. Walaupun mereka mesti bongkar -pasang skuat akibat kekacauan musim lalu, mereka cukup kesulitan dari faktor pembelian, dari 7 pembelian untuk tim utama, 3 diantaranya adalah free-transfer. Pembelian mereka juga terkesan masih prematur, pemain-pemain muda yang belum benar-benar matang sehingga klub seperti hanya menargetkan 4 besar untuk Rodgers.

Dimanapun Posisi Liverpool, Fansnya bakal tetap lancang nge-chants seperti Liverpool akan juarai Liga
Ketika tim pesaing lain memilih untuk mengikuti turnamen seperti ICC 2015 atau Emirates Cup 2015, Bang Ipul, eh Liverpool malah asik jalan-jalan ke Asia, masalahnya sih gak ke Indonesia. Hasilnya mentok dikata 'cukup', rata-rata mereka hanya mencetak 1-2 gol ke gawang tim yang bisa dibilang jauh dari level mereka. Jadi gue masih belum yakin sama pijakan mereka untuk menempuh sukses musim 2015/16. Dengan prombaka dari sisi manajerial yang cukup signifikan juga bisa mengganjal langkah mereka, karnna nama-nama baru masih perlu beradaptasi dengan tekanan EPL.

Klasemen akhir:
5. Manchester City
6. Tottenham Hotspurs
7. Stoke City
8. Crystal Palace
9. Swansea City
10. Southampton
11. Newcastle
12. Aston Villa
13. Everton
14. West Ham
15. West Brom
16. Norwich City
17. Leicester City
18. Sunderland
19. Bournemouth
20. Watford

Thursday, 19 February 2015

Saya, Jack Watson dan Pengharapnya Mungkin Sedang Salah

Aktivitas transfer Liverpool pada musim panas kemarin cukup menarik, menjual sang megabintang Luis Suarez dan bek karismatik Daniel Agger, lalu 'menambal' penjualan tersebut dengan membeli pemain 'rata' disetiap posisi. 3 striker yaitu Rickie Lambert, Mario Balotelli  dan Divock Origi (dipinjamkan semusim ke Lille), lalu 3 gelandang yaitu Emre Can, Lazar Markovic dan Adam Lallana, sementara posisi bek merekrut Alberto Moreno, Javi Manquillo dan Dejan Lovren.

Khusus untuk Dejan Lovren, Rodgers dengan percaya diri membeli mahal sang bek yang saat itu dianggap sebagai salah satu bek terbaik di Liga Primer, mereka mendaratkan Lovren dengan mahar lebih dari £22 Juta atau sekitar 36% dari dana yang dikeluarkan untuk membeli 9 pemain baru tersebut. Ya memang tidak salah Rodgers membeli mahal sang bek. Berdasarkan statistik di bawah ini, secara kuantitas dan kualitas Rodgers tidak terlalu berjudi dengan harganya.

Lovren di Southampton (2013/14) - Squawka


Bahkan Jack Watson dalam kolomnya di Squawka mengatakan bahwa Lovren bersama Skrtel akan menjadi salah satu duet bek terbaik jika performa Lovren di Liverpool seperti ketika dirinya di Southampton.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya, memang Lovren di 12 laga awal Liga Primer selalu starting, namun sejak kekalahan memilukan dari Crystal Palace - sebagai kekalahan yang ke 6 diperiode tersebut, Rodgers langsung sadar lalu merotasi beknya dengan memasukan Kolo Toure sejak menit awal pertandingan dan menyimpan si manusia £22 Juta tadi di bench. Hasilnya lumayan, mencetak sebiji gol untuk kemenangan walaupun lebih berbau 'hoki' dari pada upaya pemain secara keseluruhan. Pertandingan v Stoke menjadi awal down-nya karir Lovren di Liverpool pada musim ini.

Setelah menempatkan Lovren di bench (vs Stoke City), Liverpool tidak pernah kalah dalam 3 laga (2 menang 1 imbang), tetapi dengan kepercayaannya Rodgers memberikan kesempatan Lovren langsung dipertandingan besar lawan MU, hasilnya Lovren bermain 90 menit dan rata-rata tiap 30 menit Liverpool kebobolan menjadikan hasil akhir 3-0 untuk sang rival abadi. Lovren kembali terlempar ke bench.

Sejak kekalahan lawan MU, Liverpool tak terkalahkan di 9 laga Liga Primer, disaat yang bersamaan Lovren tidak lagi menjadi pilihan utama setelah Rodgers memantapkan formasi 3 bek sejajar dan memasukan nama Emre Can (sejak Toure tugas di Timnas) dan Sakho sebagai pilihan utama. Lovren tidak memiliki tempat disana selain jika ada kebutuhan yang mendesak akibat absennya salah satu pemain di skema baru Rodgers tersebut.
Apa yang salah dari Dejan Lovren yang pada awal musim begitu menggebrak dengan mencetak gol debut non-resmi lawan Borrusia Dortmund? Mari kita lihat statistik Lovren pada musim ini di Liverpool.



Dejan Lovren (Liverpool - 2014/15)
Jelas terlihat bagaimana Lovren bermain sepanjang musim ini, sangat jauh diluar ekspetasi, dari 17 kali bertanding saja sudah membuat 6 kali kesalahan fatal yang berujung petaka untuk tim. Disitu hampir jelas jika konsentrasi pemain 26 tahun ini terlampau mudah goyah di Anfield. Padahal musim lalu di Southampton, Lovren begitu rapih dalam bermain sehingga hanya mencatatkan 1 kali error, itupun gol bunuh diri. Dan parahnya lagi, perentase upaya ambil bola dari musuh pun sangat kontras dibanding musimnya bersama Southampton, 100% sukses di Soton, 100% gagal di Liverpool.

Jadi apa masalahnya?

Pasti berberapa dari kalian pernah melihat dong tayangan Liverpool ketika duet Lovren dan Skrtel bekerja bersama? Keduanya terlihat sama sama panik dan seperti memiliki karakter bermain yang sama, artinya kedua pemain ini tidak mampu menutupi kelemahan satu sama lain. Oke mungkin berberapa dari kalian belum sadar atau tidak mendukung hipotesa saya tadi. Saya akan jabarkan.

Lovren memiliki perentase sukses duel heading yang sama sama baik dengan Skrtel, 72% berbanding Skrtel 70%. Lovren dengan rata-rata melakukan lebih dari 4 kali duel heading. sementara Skrtel rata-rata lebih dari 5 kali heading. Dan jika kita bandingkan dengan Sakho (55% sukses) dan Toure (42% sukses). Skrtel dan Lovren memiliki karakteristik dalam bertahan yang hampir selaras, memiliki kemampuan heading yang sama sama baik dan selalu mengandalkannya.

Sakho musim ini
Toure musim ini
  Itu samanya, sepele namun mendasar, bukan?

Skrtel musim ini


Memangnya salah ya pakai 2 pemain yang memiliki karakter sama dalam satu posisi di satu pertandingan?

Anda mempertanyakan itu ke saya, maka anda bisa bertanya pada seluruh pemerhati sepakbola FA atau suruh Fabio Capello atau Roy Hodgson mengaku bahwa Timnas Inggris tidak bisa memakai jasa Frank Lampard dan Steven Gerrard secara bersamaan dalam satu pertandingan. Kedua pangeran Inggris itu memiliki karakter bermain yang sama sehingga dalam istilah mereka bisa 'saling bertubrukan'. Alhasil, tim yang sama-sama mereka bela mesti susah payah untuk bermain berkembang.

Namun setelah melihat banyak kenyataan diatas Rodgers sepertinya belum ingin bertaruh memakai Lovren tanpa Skrtel dalam skuad. Padahal sudah jelas, memakai 2 playmaker sekaligus saja tim bisa hancur, apalagi 2 bek tengah berkarakter sama? Dijamin, lini belakang tim memberikan deretan kesalahan mendasar yang tak perlu yang tentunya sangat merugikan tim.

Argumen diatas menjelaskan bahwa segalanya memang bukan salah Lovren, Rodgers memiliki andil besar untuk memberikan perubahan penting dalam Lovren yang mungkin akan lebih berguna untuk klub. Sekali lagi, waktu akan terus berjalan dan periode yang akan menjawab ekspetasi maupun keraguan. Yang jelas, saat ini ekspetasi saya, Watson dan fans lain terhadapanya mungkin sedang salah.

Hehe... Sori boss

Tuesday, 3 February 2015

No Signing, No Problem.

RESMI: Liverpool tidak mendatangkan satupun pemain (lagi) di jendela transfer musim dingin. Seperti yang mereka lakukan pada musim lalu.

Fakta diatas cukup mencengangkan karna kenyataan bahwa seharusnya Liverpool menambah amunisi baru setelah tampil cukup terseok seok dari awal musim sampai pertengahan musim kali ini. Cuma mencetak 29 angka dan berhak menduduki posisi atas PAPAN TENGAH klasemen 20 laga awal, cukup kontras dibanding musim lalu.


Itulah alasan pentingnya untuk Liverpool melakukan pergerakan pada jendela transfer musim dingin ini. Namun yang terjadi justru Liverpool cukup aktif dalam menjual pemain, winger Oussama Assaidi dan pemuda potensial Suso Fernandez jadi korban kebijakan manajemen. Oke kedua pemain tersebut memang dinilai tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Rodgers, namun apakah Rodgers tidak berpikir bahwa dirinya mesti mengganti kedua pemuda 'buangan'nya tersebut dengan wajah baru yang sesuai dengan ekspetasinya? Dengan keadaan tim yang awal musim mendatangkan 9 pemain dengan bandrol fantastis £100 Juta!

Yasudah, seperti halnya aku dan mantanku, kalau waktu bisa diulang kembali mungkin kamu gak akan aku biarkan disebut mantanku saat ini, namun waktu tidak bisa diulang, nasi yang diberi kecap dan di goreng telah menjadi nasi goreng dan tidak bisa menjadi padi seperti semula, winter transfer window telah ditutup, Liverpool gagal mendaratkan satupun pemain.

Oke, gue bukan tipe fans kacangan yang kalo situasi tim yang awalnya dibela seburuk ini langsung hopeless, sebagai fans gue ga kaya gitu namun sebagai cowo gue bukan tipe yang gampang nyerah, soalnya gue g... *Curhat lg gue timpuk lu an.

Yup. Dalam artian gue gaakan hilang harapan dengan gagalnya Liverpool di awal musim ini, justru gue yakin dengan starting XI yang gue susun dan perkirakan ini bakal membantu Liverpool kembali ke 4 besar (sesuai target awal) dan kembali duduk manis di Liga Champions. Yeaas! Ini adalah pemain dan formasi pilihan terbaik gue sejak gue perhatiin LFC dari awal musim sampe tulisan ini dibuat.





Dengan rasa tanggung jawab tinggi agar para reader ngerti, gue jelasin bagaimana formasi ini berjalan. Gue jelasin satu persatu peran di sektor pemain masing-masing.

1. Kiper, Simon Mignolet
Ah udahlah, ibarat lu minum air dibotol Aqua, tinggal buka tutup botol langsung srupppp... Pengisi posisi ini gampang banget ditebak! Apalagi pas Brad Jones cedera dan Mignolet kembali membuat kepercayaan seluruh pihak klub meningkat akibat performa aslinya kembali.

Jangan tersinggung buat fansnya Brad Jones atau Danny Ward bahwa kiper Belgia tersebut sampai saat ini belum mendapatkan pelapis ketat yang setidaknya dapat dipercaya penuh diajang lain atau ketika Mignolet kembali ke performa jeblok *paiit paiit*.

Selain itu gue juga mau komentarin tentang tipe bermainnya yang berkarakter kiper 'kekinian banget'. Ya, kemampuan seperti yang dimiliki berberapa kiper terbaik dieranya seperti Oliver Kahn, Pepe Reina dan Manuel Neuer, yaitu sebagai Ball-Playing-Keeper. Mereka yang gue sebutin punya kemampuan kaki yang luar biasa bagi kiper. Mignolet menjadi aset berharga milik Liverpool saat ini jadi sepantasnya manajemen berbijak dengan baik menanganinya.

2. Bek, Can - Skrtel - Sakho
Kalo posisi ini ya semi-heavy lah milihnya, apalagi kalo untuk pemilihan bek disektor Can, karna saat ini Liverpool bisa dibilang memiliki 2 bek yang baru saja menunjukan sinarnya, dan bisa dibilang telat bagus.

Yang gue maksud adalah duo muslim Sakho dan Toure. Kedua pemain ini sama-sama datang di musim lalu dan baru menunjukan sinarnya pada keduanya di Liverpool. Nah, sejak Rodgers memakai formasi 3 bek sejajar, mereka dengan berberapa penampilan apik di awal musim ini berhasil masuk sebagai pemain penting di lini depan, bahkan Sakho berhasil menggusur manusia £20 Juta, Dejan Lovren.

Lovren yang digadang-gadang sebagai pengganti Daniel Agger sebagai duet dengan Martin Skrtel. Namun dengan formasi 2 bek sentral Liverpool gagal total dimusim ini, lalu ketika memakai 3 bek sejajar dengan masih adanya Lovren sebagai starter Liverpool tidak tampil membaik. Akhirnya setelah masalah kedisiplinan Sakho dengan Rodgers kelar, Lovren perlahan-lahan tergusur dari skuat reguler main. Puncaknya ketika kekalahan 3-0 atas MU di Old Trafford.

Sementara Toure sih sebenarnya bagus, namun gue sebenernya kurang sreg gimana gitu, ya mungkin  faktor umur jadi pembeda dalam pemilihan gue. Kita punya masa depan Liverpool dalam diri Emre Can, si ganteng agak mirip gue yang berusia 20 tahun. Jelas Toure sudah kehilangan kelincahannya dan Can menang banyak soal reflek, apalagi sejak Toure absen akibat membela negaranya di Piala Afrika, kepercayaan diri Can dalam skuat semakin bertumbuh. Namun tetap pengalaman dan emosi masih susah untuk dikelabui Can atas Toure - seperti soal untuk mencari jalan terbaik dalam meredam serangan lawan dimana itulah yang menentukan seberapa besar skill dan dewasanya seorang bek.

Jadi, Rodgers patut bijak ketika kembalinya Toure ke skuat. Namun gue prefer Can karna jelas, selain ganteng dirinya juga belum punya masalah besar dalam bermain. Sementara Kolo mulai kehilangan fokus. Sekali lagi faktor U menjadi pembeda.

Posisi yang didiami Sakho cukup rentan serangan balik, apalagi jika Liverpool memakai Wing-back berkarakter lebih menyerang seperti Lallana, maka gue kira Sakho mesti lebih teliti dalam berganti posisi dengan cepat, dari posisi full back hingga ketika membantu menggalang pertahanan bersama Skrtel.

Tugas Skrtel sepertinya gampang-susah karna pekerjaannya sebagai pelindung gawang Mignolet yang terakhir atau biasa disebut tembok terakhir, namun mudahnya karna selain dirinya hanya fokus bertahan (doi masih sering maju dalam situasi bola mati untuk Liverpool), ia juga banyak dibantu oleh 2 bek lainnya.

Sementara Can memiliki tugas yang relatif berat karna disini dia berusaha menjadi 2 figur, yaitu penyuplai bola dari samping, pemotong alur serangan samping juga sebagai bek yang bertahan. Semua tugasnya itu mesti memiliki totalitas yang tinggi jika tidak skema bertahan atau serangan balik yang diusung Rodgers diwaktu yang bersamaan bisa gagal.

3. Gelandang Sentral, Henderson - Lucas
Agak sulit memilih posisi ini, LFC punya Gerrard yang akan hengkang akhir musim dan Joe Allen yang cukup fenomenal. Namun yang paling realistis adalah memasukan nama Lucas dan yang pasti Henderson.

Mengganti Gerrard dalam skuat utama disisa musim ini agaknya layak dilakukan, hal tersebut agar bisa membuat tim terbiasa bermain apik walau tanpa seorang karismatik Gerrard yang resmi meninggalkan LFC pada akhir musim nanti, gue juga gak masukin Joe Allen disini, oshi gue belum jadi yang terbaik antara Lucas atau Henderson. Allen memang seorang yang fenomenal, visi operan yang luas, lugas dan tepat menjadi sisi fenomenalnya sejak didatangkan Rodgers 2012 lalu, namun konsistensi permainan serta masalah cedera bener bener ganggu oshi gue ini untuk menunjukan kemampuannya yang lebih baik lagi.

Henderson yang diplot sebagai kapten akan memegang peranan paling sibuk. Gue gadangkan dirinya bakal menjalani 3 posisi sekaligus! Yaitu sebagai cover posisi Lucas sebagai gelandang pengatur alur bola dari sektor pertahanan, cover posisi wingback kanan serta menjadi pemain pengatur tempo. Ya jelas, untuk mengatur tempo permainan adalah yang sangat sulit, tugas tersebut memerlukan kemampuan Allen dalam hal mengoper dan kelugasan dalam bermain seperti Gerrard. Namun dengan stamina yang dimiliki Hendo serta kemampuannya yang terus berkembang maka tugas ini bukan hal yang terlampau berat baginya.

Sementara Lucas seperti yang udah gue deskripsikan diatas bahwa tugasnya sebagai istilahnya jembatan antar lini sekaligus pemotong alur serangan pertama dalam skema serangan musuh. Kemampuan tekelnya dan uluran kaki Henderson bisa menjadi hal untuk memudahkan dirinya dalam melakukan tugas ini.

4. Gelandang Sayap, Lallana - Coutinho
Gue agak bertaruh ya dengan keputusan ini, memakai 2 gelandang sayap atau yang biasa disebut wing back bertipe menyerang seperti Lallana dan Cou. Tapi dengan cara Liverpool bermain yaitu menunjung tinggi pressing dan menyalakan alarm bertahan sejak lawan memegang bola di tengah lapangan namun tetap memiliki kecepatan atau agresifitas dalam menyerang maka gue nilai kedua pemain ini cocok abis!

Dalam foto formasi diatas cukup menjelaskan bahwa tugas Lallana adalah sebagai wingback yang membantu serangan serta membantu Lucas ketika Hendo sedang telat turun bantu Lucas ketika dalam situasi diserang balik. Sementara Coutinho dengan segala kemampuan dan lemahnya, doi hanya fokus nyerang dan akan sering swipe posisi dengan Henderson. Kadang doi bisa jadi gelandang dibelakang striker tunggal, sehingga Hendo yang bisa mengisi pos gelandang sayapnya. Enaknya punya seorang seperti Hendo begitu. Doi dengan hebatnya gak fokus dalam satu posisi, gatel buat terus bergerak mencari posisi yang bisa di back up gak salah kalo total assistnya sampai saat ini sudah sebanyak 6 assist. Kreatif!

Sebenernya Lallana bersaing ketat dengan Moreno yang akhir akhir ini juga mainnya mulai klop dan keliatan bagusnya. Namun dengan kekurangannya dalam hal transisi bermain takutnya doi sering kalah duel dan miss komunikasi sama Sakho. formnya belum terllau konsisten pula.

5. Striker, Sterling - Sturridge - Ibe
Posisi striker ini bisa dibilang posisi yang mesti banyak memiliki chemistry tinggi. Karna Rodgers memiliki 3 striker didepan dan skema akhir serangan Liverpool juga bagaimana ketiga pemain ini bekerja, bagaimana pula cara membongkar pertahanan lawan mereka mesti memiliki jawaban tersebut.

Tanpa adanya sang mantan indah, Luis Suarez maka praktis di lini depan, Sterling dan Ibe mesti membantu Sturridge dalam bermain, karna sesuai dengan kapabilitas, Sturridge tidak memiliki banyak kemampuan untuk seperti Suarez, yang dalam satu sisi bisa sebagai striker yang tajam namun dilain sisi bisa memberikan ruang untuk pemain lain. Sesuai pengalaman, Sturridge tidak terlalu bugar dalam melakukan kedua hal ini secara bersamaan. Cukup sebagai striker pencetak gol yang ditopang duet padunya Sterling dan Ibe. We have triple beast in the front!

Saturday, 31 January 2015

Dadah Me and Liverpool FC, Welcome Kata Farhan!

Halo pembaca blog yang abis kena sial gara-gara baca-baca di blog ini. Terhitung mulai akhir Januari ini atau tepatnya 31 januari 2015. Me and Liverpool FC berubah menjadi 'Kata Farhan'. YEAH! Tepuk tangan sodara sodara...

Alasannya karna selama ini gue merasa visitor yang-banyak-di-blog-ini (1 orang tiap harinya-itu gue sendiri) rata-rata mungkin tidak semuanya adalah Kopite atau nama lain fans Liverpool. Gue siap buat rangkaian kata-kata yang subjeknya gak stagnan tentang LFC, selama ini gue cukup kesulitan buat nulis karya gak penting gue karna berdasarkan tema blog ini adalah Liverpool FC, namun karna gue itu tipe orang yang cukup aktif berbaur dengan hal lain maka segalanya mulai berubah sejak Bekasi buat negara serikat. Haha no offense buat viewer dari Bekasi. Engga mulai hari ini berubah maksudnya.

Dan mau terimakasih buat viewer yang sudah menyempatkan diri berkunjung ke blog datar ini. Semoga diberi kebahagiaan selalu dan kejang kejang setelahnya. YNWA!

Tuesday, 28 October 2014

Mendedah Kelayakan (Andai) Klopp ke Liverpool

Oleh Dominico Zekhonya

Liverpool kembali menjalani masa muram yang beberapa tahun terakhir lekat dengan mereka. Setelah menjalani periode baik semusim lalu, kini mereka seperti lupa bagaimana caranya untuk mengulangi performa apik tersebut. Brendan Rodgers pun seperti kehilangan maginya. Jika musim lalu ia sukses menginspirasi anak asuhannya, tidak dengan musim ini. Berada di undakan ketiga Grup B Liga Champion--dalam tiga laga awal—dan tampil tak bagus-bagus amat di Liga Inggris, Rodgers mesti sadar bahwa posisinya terancam. Beberapa alternatif mungkin sedang dipertimbangkan oleh manajemen serta direksi. Nama Juergen Klopp pun menyeruak dan disebut sebagai salah satu kandidat juru racik anyar.


Dari segi taktik, Klopp adalah jaminan mutu. Meski kiprahnya belum teruji di liga mayor Eropa lainnya--karena baru Dortmund-lah klub terbesar yang ia tangani, sederet titel yang berhasil ia persembahkan bagi klub dari lembah Ruhr itu setidaknya menjadi justifikasi bahwa dirinya layak untuk berdiri di tepi lapangan Anfield, tentu saja di kubu Si Merah. Lima titel bergengsi, dua di antaranya juara Bundesliga, dan penghargaan individu sebagai Pelatih Terbaik Jerman pada 2011 dan 2012, merupakan rekam jejak sekaligus bekal bagi pria yang sempat menjadi pandit di salah satu televisi Jerman ini untuk meredam panasnya kursi manajer tim Merseyside Merah. Belum lagi, ia sempat membawa Dortmund mencatatkan 28 laga tanpa kalah pada 2011/2012. Impresif.

Klopp juga dikenal sebagai sosok yang adaptif terhadap situasi dan kondisi yang ia hadapi. Pada awal kedatangannya di Dortmund, eksbos Mainz ini sempat mencoba skema tiga bek. Sayangnya, skema tersebut tak begitu sukses. Ia kemudian memutuskan untuk mengubah formasi dengan empat bek sejajar, dua poros ganda, tiga gelandang serang, dan satu ujung tombak. Hasilnya? Seperti yang Anda bisa lihat di laman Wikipedia dirinya, ia sukses besar. Andaikata ia sukses meraih trofi Liga Champions musim 2012/2013 lalu, mungkin kini ia bisa pensiun dengan tenang atau mencoba melatih sebuah tim nasional.

Sesungguhnya, apa yang ia terapkan di Dortmund bukanlah hal baru mengingat sudah banyak tim lain yang sukses mengimplementasikan skema tersebut. Namun, intensitas yang ia tularkan kepada para pemainnya membuat skema milik Dortmund terlihat lebih mematikan dan memiliki daya rusak yang luar biasa. Meski pembawaannya dingin, ia amat andal dalam mengeluarkan kemampuan terbaik seluruh pemainnya.
“Ia mampu membuat kami semua menyadari bahwa jika ingin sukses, kami harus bekerja dan berusaha lebih keras ketimbang orang lain di lapangan. Tentu saja dengan berlari lebih banyak,” kata Robert Lewandowski, eksujung tombak Dortmund yang kini berseragam Bayern Munich itu satu ketika seperti dikutip dari Bild. “Hasrat yang kami miliki, semua kami kerahkan untuk kepentingan tim, dan Klopp-lah yang membuatnya demikian,” masih kata pemain timnas Polandia itu.
Borussia Dortmund's coach Juergen Klopp (rear) hugs Robert Lewandowski after losing their German Cup (DFB Pokal) final soccer match against Bayern Munich in Berlin May 17, 2014. REUTERS/Ina Fassbender (GERMANY - Tags: SPORT SOCCER) DFB RULES PROHIBIT USE IN MMS SERVICES VIA HANDHELD DEVICES UNTIL TWO HOURS AFTER A MATCH AND ANY USAGE ON INTERNET OR ONLINE MEDIA SIMULATING VIDEO FOOTAGE DURING THE MATCH.Borussia Dortmund's coach Juergen Klopp (rear) hugs Robert Lewandowski after losing their German Cup (DFB Pokal) …


Berbicara soal Lewandowski, terlepas dari kepergiannya yang tak memberi tambahan sesen pun dalam catatan buku pemasukan klub, ia merupakan satu dari sekian nama dalam daftar belanja sukses klub karena intuisi kelas satu pria religius ini. Selain Lewy, ada nama-nama asing yang juga mencuat di bawah arahan Klopp, antara lain: Neven Subotic, Mats Hummels, Lukasz Piszczek, Marco Reus, dan Sven Bender. Jangan pula lupakan pemain lincah dari Jepang, Shinji Kagawa, yang direkrut hanya dengan biaya 350.000 euro, tapi berhasil dilego dengan keuntungan 4.800%! Belakangan, pria jepun itu memutuskan kembali ke klub yang membesarkannya karena merana di Inggris bersama raksasa sakit, Manchester United.

Jika dibandingkan dengan manuver Rodgers selama di Liverpool, khususnya musim terakhir, Klopp tentu lebih unggul--dengan mengabaikan variabel absennya Liverpool di kompetisi antarklub paling bergengsi di tatanan Eropa yang membuat pemain-pemain bintang enggan merapat. Bagi para penggemar Liverpool, dosa terbesar pria Irlandia Utara itu adalah “hanya” mendatangkan pemain semodel Rickie Lambert dan Mario Balotelli untuk menggantikan peran Luis Suarez yang hengkang ke Liga Spanyol. Memboyong ekspemain Inter Milan dan AC Milan itu adalah repetisi dari apa yang dilakukan oleh Raja Liverpool, Kenny Dalglish, ketika mendatangkan Andy Carroll beberapa musim silam. Kehadiran Klopp di Liverpool tentu saja memicu peluang bagi pemain-pemain Dortmund untuk mengikuti jejak mentor mereka. Hal ini adalah efek domino yang diharapkan oleh mayoritas penggemar Liverpool.

Salah satu nilai plus dari suami Ulla Sandrock itu adalah, ketimbang Rodgers yang lebih banyak diam dan memilih bicara diplomatis nan normatif ketika berada di hadapan awak media, Klopp lebih apa adanya, tanpa menanggalkan kesan dingin yang dimiliki. Gaya bicaranya yang sopan semakin khas dengan suara rendah nan berat yang amat pria. Ia gemar mengungkapkan gagasan-gagasan yang membanjiri kepalanya, hingga terkesan ekspresif. Terkadang, ia kerap mengeluarkan lelucon atau pun parodi yang mampu mengundang gelak tawa di ruang konferensi pers. Hal tersebut tentu menjadi modal penting untuk menghadapi pers Negeri Ratu Elizabeth yang dikenal kurang kerjaan.


Dari gaya berpakaian, ia bukan sosok pria yang peduli soal citra dan lebih memilih untuk tampil senyaman mungkin. Hal itu kemudian membuatnya dikenal sebagai manajer sepak bola yang bergaya sportif berbalut celana olahraga dan jaket hangat--meski belakangan mulai mengalah dengan mengenakan jas di kompetisi antarklub Eropa. Ulrich Hesse, salah seorang pewarta berita di Jerman, menyebutnya sebagai Bon Jovi di lapangan hijau. Konon, ia sempat memainkan beberapa lagu rock ketika merayakan kesuksesan tim pada 2011/2012 dalam sebuah penerbangan.
Dortmund's head coach Juergen Klopp waves to supporters after his team lost the German first division Bundesliga soccer match between 1.FC Cologne and BvB Borussia Dortmund in Cologne, Germany, Saturday, Oct. 18, 2014. (AP Photo/Frank Augstein)Dortmund's head coach Juergen Klopp waves to supporters after his team lost the German first division Bundesliga …


Aksinya di lapangan--ketika berteriak lantang memerintahkan para pemainnya untuk mundur--memancarkan keanggunan yang membalut ketegasan. Ia adalah jawaban dari pertanyaan atas asal-usul keberanian yang ditunjukkan oleh para pemain Dortmund ketika berlaga. Bagi pendukung Mainz dan Dortmund, ia adalah pujaan. Dari aspek apa pun, ia adalah sosok ideal bagi Liverpool. Keberhasilan Dortmund untuk kembali menjulang setelah hampir gulung tikar tak lepas dari andil pria yang tak berhasrat untuk menghabiskan seluruh hidupnya dengan menjadi manajer sepak bola. 

Jika pada 2008 ia memanjat pagar tribun untuk berpamitan kepada para penggemar Mainz, cara serupa mungkin akan ia ulang--sembari menyanyikan satu atau dua buah lagu rock--ketika berpamitan kepada para penggemar Dortmund sebelum melatih Liverpool (semoga saja).


Thursday, 25 September 2014

4 Rekrutan Terbaik Brendan Rodgers

Sudah lama saya gak isi blog sederhana ini. Curcol dikit nih, bisa dibilang akhir-akhir ini jadwal saya terbagi banyak banget, mulai dari tuntuan Duniawi, Dunia ngetik-ngetik gini, dll. Oiya, saya juga mau memperkenalkan Liverpool FC ( Indonesia Fans Club ), Fanspage yang saya kelola ini sudah mencapai 162 ribu page likers sampai post ini turun, dan mungkin adalah Fanspage Liverpool Fans Indonesia TERBESAR! *aplause* - Di fanspage tersebut saya juga sering penuhi gairah hobi seperti buat artikel atau analis sederhana tentang laga-per-laga Liverpool dan menjadi salah satu alasan kenapa saya kembali terjun ke dunia blog.


Setelah sekitar 2 bulan lebih gak ngomongin Liverpool, sebagai pembukaan kini kita ngomongin tentang Manajemen. Ada berberapa hal yang sangat dekat dengan kata 'Menejemen', yaitu: Uang, Transfer Pemain, Pemilik FSG, John W. Henry, CEO Ian Ayre dan Manajer Brendan Rodgers. Jika dijabarkan maka judul yang tepat untuk topik kita kali ini adalah '4 Pembelian Terbaik Brendan Rodgers'. Gak nyambung amat sih :|

Brendan Rodgers (41 tahun) adalah pelatih asal Irlandia Utara yang dinilai memiliki pengalaman segudang dalam hal memilah pemain-pemain berbakat, dan kabarnya salah satu potensi tersebut adalah alasan mengapa petinggi klub sangat mempercayai seorang Rodgers yang dimusim pertamanya memanajeri Liverpool yang hanya berhasil mengangkat klub di posisi 7 klasemen akhir Liga Primer Inggris musim 2012/13. Sampai post ini terpampang di blog saya, ada total 24 pemain yang berhasil Rodgers rekrut dan 9 diantaranya di rekrut pada musim ini.

Fabio BoriniRoma£10,400,00013 July 2012
Joe AllenSwansea£15,000,00010 August 2012
Oussama AssaidiHeerenveen£2,400,00017 August 2012
Nuri SahinReal MadridLoan25 August 2012
Samed YesilBayer Leverkusen£1,000,00030 August 2012
Daniel SturridgeChelsea£12,000,0002 January 2013
Philippe CoutinhoInter Milan£8,600,00030 January 2013
Luis AlbertoSevilla£6,800,00022 June 2013
Iago AspasCelta Vigo£7,500,00023 June 2013
Simon MignoletSunderland£10,000,00025 June 2013
Kolo ToureMan CityFree2 July 2013
Aly CissokhoValenciaLoan20 August 2013
Tiago IloriSporting CP£7,000,0002 September 2013
Mamadou SakhoPSG£15,000,0002 September 2013
Victor MosesChelseaLoan2 September 2013
Rickie LambertSouthampton£4,500,0002 June 2014
Adam LallanaSouthampton£25,000,0001 July 2014
Emre CanBayer Leverkusen£9,750,0003 July 2014
Lazar MarkovicBenfica£19,800,00015 July 2014
Dejan LovrenSouthampton£20,000,00027 July 2014
Divock OrigiLille£10,000,00029 July 2014
Javier ManquilloAtletico MadridLoan6 August 2014
Alberto MorenoSevilla£12,000,00016 August 2014
Mario BalotelliAC Milan£16,000,00025 August 2014

Dari data diatas, saya mengambil 4 pemain yang dinilai memiliki peran besar dalam pengangkatan performa Liverpool sejauh ini.

1. Phillipe Coutinho

Philipe Coutinho (kanan) tanda tangani kontrak jangka panjang bersama CEO Ian Ayre

Salah satu bocah ajaib yang tersia-siakan oleh klub pendahulunya, kini Phillipe seakan menjadi idola baru para Liverpudlian dan tentunya para Kopite. Sempat berseragam tim-tim besar Eropa macam Internazionale dan Espanyol, kini The Magician terus membuat para pendukungnya tercengang akan aksi ajaib nan eksotis ala pemain Brazil.


Gol debut Phil untuk LFC, lawan Swansea City
Jangankan musim lalu dan musim ini, dimusim debutnya, Phil sudah memperlihatkan akan potensi besarnya sebagai pemegang No. 10, diboyong 'hanya' seharga £8,5 Juta -setelah berberapa media menggembor-gemborkan sampai £14 Juta adalah harga untuk dirinya- Si rambut kriting ini langsung bermain beringas dengan  mampu menciptakan tujuh assist dalam 13 penampilan di EPL, termasuk ketika ia menjadi pemain pengganti di laga debut menghadapi West Bromwich Albion. Jumlah assist Coutinho tidak terlalu jauh dari pencipta assist paling banyak di Liga Primer Inggris 2012/13, yaitu Juan Mata dengan catatan 12. Dari perbedaan itu, Coutinho sudah tampak istimewa dengan menciptakan lebih dari setengah total assist gelandang yang saat itu masih di Chelsea itu.


Selain assist, Coutinho juga mampu menyumbangkan gol. Total tiga gol berhasil ia cetak dalam 13 pertandingan. Bukan sebuah jumlah yang buruk mengingat ia seorang gelandang dan menjalani debutnya di Liga Primer Inggris saat itu.


Gol sensaional dalam laga 'semi-final' Liga Primer. Liverpool berhasil menang, cuma kalah di Final lawan tim papan bawah
Kini Phillipe terus menebar pesona khas Brazil yang dimiliki dirinya, Dengan bermain cepat, agresif dan cerdik, mungkin diusianya yang masih menginjak 22 tahun, sekitar 10 tahun kedepan, dirinya akan terus memberikan dampak positif untuk klub dan menjadi legenda di Anfield. Semoga


2. Daniel Sturridge

Daniel Sturridge tandatangani kontrak bersama CEO Ian Ayre
Salah satu pembelian cerdas Rodgers selanjutnya, penyerang asli Inggris yang juga terbuang sia-sia oleh klub pendahulunya kini menjadi salah satu goal-getter yang paling mematikan milik Timnas Tiga Singa sejak Michael Owen.

Sensation Dance, Sensation Goal. Keep it up Sturr!
Sturridge direkrut dari Chelsea seharga £12 Juta pada 2 Januari 2013, tepatnya sebelum perekrutan Coutinho di bulan yang sama. Mendapat musim yang sama hebatnya dengan Coutinho, Sturridge juga langsung membuat publik Anfield luluh dengan gol-demi-gol ia ciptakan, dan ketajaman dirinya ditambah dengan topangan striker macam Luis Suarez membuat mereka dikenal sebagai salah satu duet terbaik didunia sepanjang masa dengan sebutan 'SaS' pada musim lalu. Namun penampilan sensasionalnya sering sedikit terganggu akibat cedera yang terus menghinggapinya, but all over dirinya masih punya banyak kans untuk seperti Ian Rush atau God Fowler. We'll See...

3. Simon Mignolet

Simon Mignolet Sign for Liverpool
Awal musim 2013/14 yang dihadapi Simon Mignolet mungkin adalah salah satu beban, karna dirinya ditunjuk langsung oleh Brendan Rodgers sebagai kiper pengganti Pepe Reina yang hengkang ke Napoli pada musim itu, dan awal musim Mignolet langsung bermain konsisten dan membuat berberapa penyelamatan heroik seperti pertandingan debut Liga Primer melawan Stoke City.

Aksi Heroik Simon Mignolet vs Stoke City - Mengawalinya dengan indah
Namun, pertengahan musim dirinya terus ditekan untuk bermain konsisten setelah berberapa laga dirinya dinilai tidak bermain maksimal dan puncaknya pada akhir musim Liverpool kebobolan 50 gol -kebobolan terbanyak dalam peringkat 5 besar Liga Primer-. Inkonsistensi dirinya memang memberi nilai negatif, namun diluar itu semua, penampilan-penampilan heroik dirinya layak diberikan peringkat ketiga pada daftar ini. Seperti Jerzy Dudek, Tidak perlu selalu menjadi pahlawan, karna anda bisa menjadi pahlawan hanya ketika tim anda membutuhkan seorang pahlawan.- Farhan Maulana

4. Emre Can



Dini, sangat dini saya menilai penampilan pemuda ini, ya karna memang dirinyalah kandidat terkuat yang masuk dalam peringkat ini setelah Joe Allen, Alberto Moreno, Adam Lallana dan Mamadou Sakho. Banyak sisi yang membuat saya memilih dirinya mendapatkan peringkat disini, salah satunya adalah potensi masa depan dirinya di Anfield yang benar-benar saya percayai, kuncinya kekuatan dan konsistensi dalam bermain sangat bernilai



Pemuda berdarah Turki ini dianggap sebagai salah satu gelandang paling berpotensi di Eropa, cara dirinya bermain begitu kuat dan elegan. Dan poin plus lainnya adalah kedisiplinan yang diterapkan sepakbola Jerman telah menjadi bagian sukses Emre Can ketika didaratkan ke Anfield.

Sebagai seorang gelandang yang saat ini sering bertranformasi menjadi bek handal, dirinya lebih banyak menunjukan karakter seorang winger; mengejar bola, merebut bola, menggiring bola dan terus berlari hingga dirinya memiliki kesempatan untuk membantu tim mendapatkan skor.

Tak heran jika dirinyapun sering menjadi bulan-bulanan para pemain keras di Liga, dirinya banyak mendapatkan tekel keras ketika berlair dengan bola, namun seperti yang sudah saya bilang, pemain seharga £9,75 Juta ini sangat disiplin dan jujur, dengan kekuatannya, dirinya tak memaksakan jatuh dan tidak menyukai permainan kotor seperti diving. Can lebih suka terus berlari hingga sekitar 3/4 lapangan lalu mencoba mencari kans mengoper kepada petugas lain (striker) untuk memberikan assist. Sukses yang sangat bijaksana.

Thursday, 3 July 2014

Adam Lallana - John Barnes Jilid 2

Pertama-tama, saya mau ngucapin selamat datang Adam Lallana di 'Tanah Kejayaan' Anfield. Semoga pada musim perdananya bisa memberikan kejayaan lagi untuk Liverpool dan membuat The Kop mencintai anda!

Welcome to ours family Lallana!

Kali ini saya mau membahas pemain baru kita ini, dari mulai perjalanan hidup, karir hingga cerita ketika dirinya sampai di Anfield serta harapan yang mungkin kita bisa capai bersamanya selama dirinya berada di Liverpool.

Si pemain baru kita ini mempunyai nama lengkap Adaaaaaaaaaaaaammmmm.... Hehe becanda, nama lengkapnya Adam Lallana. Pemain ganteng ini lahir di Hertfordshire, tepatnya di St. Albans pada tanggal 10 Mei 1988. Namun ketika masih berumur 5 tahun, Lallana pindah ke Bournemouth dan belajar formal di Corpus Christi School dan dilanjutkan ke St Peter's Catholic Comprehensive School ketika sudah remaja. Seperti Ayahnya, sejak kecil Lallana adalah fans dari rival sekota Liverpool, Everton.

Karir sepakbola juniornya diawali dengan berlatih di klub lokal Bournemouth Centre of Exellence, dimana potensinya saat itu langsung tercium oleh pemandu bakat asal Southampton yang memang sedang populer saat itu. Lallana bergabung dengan Saints Academy pada umur 12 tahun. Pihak Southampton membayar biaya kompensasi pembelian sebesar £3000 kepada Bournemouth, £5000 untuk kompensasi lolos ke Akademi The Saint dan ditambah £10.000 untuk kompensasi ketika dirinya diberi kontrak professional oleh Soton. Kabarnya, Bournemouth mendapat jatah 25% hasil dari penjualan Lallana ke Liverpool dari Southampton.


Lallana ketika di Bournemouth

Lallana bergabung dengan tim utama Soton pada Juli 2006 dan mendapat debutnya pada tanggal 23 Agustus 2006 pada kemenangan 5-2 atas Yeovil Town di League One. Semenjak itu Lallana justru kehilangan tempat di skuad utama Soton dan akhirnya pada tanggal 9 Oktober 2007 ia kembali bergabung ke klub masa kecilnya Bournemouth dalam status pinjaman selama sebulan penuh.



Lallana ketika peminjaman di Bournemouth

Kurang dari 1 tahun kemudian ketika dirinya dipinjamkan ke Bournemouth tepatnya tanggal 28 April 2008, Lallana membuat gol pertamanya sepanjang karir professionalnya lawan West Bromwich Albion di pertandingan krusial Liga Championship.



Gol debut Lallana lawan West Brom

Pada 29 Agustus 2008 ia mendapat kontrak 3 tahun bersama Soton, dan semenjak saat itu dirinya menjadi pemain reguler di tim utama Soton dibawah asuhan manajer Jan Poortvliet yang sayangnya dipecat pada tanggal 23 Januari 2009 ketika kompetisi Championship masih berlangsung.

Pada musim 2012/13, seiring lolosnya Southampton ke Liga Primer Inggris, Lallana pertama kali mengemban ban kapten pada laga pembuka lawan juara Liga Primer musim sebelumnya Manchester City dengan kekalahan 3-2, semenjak saat itu ban kapten terus melekat di lengan kirinya. Lallana mencetak gol pertamanya di Liga Primer ketika klubnya menderita kekalahan 4-1 lawan West Ham United. 



Debut Liga Primer dan Ban Kapten Lallana vs Manchester City
Pada 24 Desember 2013, Adam Lallana menikahi tunangannya Emily Jubb setelah mereka bersama sejak 7 tahun lamanya. Lallana akhirnya resmi dipanggil ayah ketika anak pertamanya yang bernama Arthur lahir pada tanggal 26 Spetember 2012 (Budaya Inggris ya...)


Adam Lallana dan Emily Jubb
Adam Lallana dan Arthur
Selain kehidupan sepakbola, paras tampan yang dimiliki Lallana juga membuat dirinya dilirik oleh perusahaan baju yang cukup terkemuka di Dunia 'French Connection' asal Inggris.

Duh Lallana, kegantengannya nambah 18++ deh

Kembali ke karir sepakbolanya. Kampanye Lallana di Liga Primer musim 2013/14 diawali dengan gol luar biasanya ketika melewati 4 pemain Hull City dari jarak sekitar 30 yard sebelum menceploskan bola ke gawang kiper Hull, Steve Harper.




Setelah gol tersebut, Lallana terus menampilkan performa cemerlang di Liga Primer sehingga membantu klubnya The Saint berada di posisi 9 klasemen akhir EPL dan juga membuat namanya pada 18 April 2014 tercantum dari 6 kandidat peraih 'PFA Player of the Year', selain itu Lallana juga masuk dalam 'PFA Team of The Year' bersama rekan setimnya Luke Shaw yang kini bergabung dengan Manchester United. Lallana juga mendapat penghargaan internal dari klub berupa 'Player and Fans: Player of the year".



Adam Lallana PFA Player of The Year Nominee

Akhirnya, Lallana melanjutkan perjalanan karir ambisiusnya ke Liverpool FC pada tanggal 1 Juli 2014 dan memakai kembali kostum bernomor 20 kesayangannya sejak berada di Southampton. Biaya transfer diperkirakan memakan biaya £25 Juta - termasuk £6,25 Juta untuk klub masa kecilnya Bournemouth.



Peresmian Transfer Adam Lallana di Melwood

Kini Lallana menjadi pemain kedua yang resmi berseragam Liverpool, setelah rekan setimnya Ricky Lambert juga telah diresmikan sebagai punggawa baru Reds untuk musim depan. Semoga anda sukses di Tanah Kejayaan, Lallana!



Statistik Karir
ClubSeasonLeagueFA CupLeague CupOtherTotal
AppsGoalsAppsGoalsAppsGoalsAppsGoalsAppsGoals
Southampton2006–071000100020
2007–0851000051
Bournemouth (loan)2007–083000001040
Total3000001040
Southampton2008–094010031432
2009–1044155122525620
2010–113683221004111
2011–12411121314613
2012–133030000303
2013–1438931104210
Total235481351255226560