Thursday, 19 February 2015

Saya, Jack Watson dan Pengharapnya Mungkin Sedang Salah

Aktivitas transfer Liverpool pada musim panas kemarin cukup menarik, menjual sang megabintang Luis Suarez dan bek karismatik Daniel Agger, lalu 'menambal' penjualan tersebut dengan membeli pemain 'rata' disetiap posisi. 3 striker yaitu Rickie Lambert, Mario Balotelli  dan Divock Origi (dipinjamkan semusim ke Lille), lalu 3 gelandang yaitu Emre Can, Lazar Markovic dan Adam Lallana, sementara posisi bek merekrut Alberto Moreno, Javi Manquillo dan Dejan Lovren.

Khusus untuk Dejan Lovren, Rodgers dengan percaya diri membeli mahal sang bek yang saat itu dianggap sebagai salah satu bek terbaik di Liga Primer, mereka mendaratkan Lovren dengan mahar lebih dari £22 Juta atau sekitar 36% dari dana yang dikeluarkan untuk membeli 9 pemain baru tersebut. Ya memang tidak salah Rodgers membeli mahal sang bek. Berdasarkan statistik di bawah ini, secara kuantitas dan kualitas Rodgers tidak terlalu berjudi dengan harganya.

Lovren di Southampton (2013/14) - Squawka


Bahkan Jack Watson dalam kolomnya di Squawka mengatakan bahwa Lovren bersama Skrtel akan menjadi salah satu duet bek terbaik jika performa Lovren di Liverpool seperti ketika dirinya di Southampton.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya, memang Lovren di 12 laga awal Liga Primer selalu starting, namun sejak kekalahan memilukan dari Crystal Palace - sebagai kekalahan yang ke 6 diperiode tersebut, Rodgers langsung sadar lalu merotasi beknya dengan memasukan Kolo Toure sejak menit awal pertandingan dan menyimpan si manusia £22 Juta tadi di bench. Hasilnya lumayan, mencetak sebiji gol untuk kemenangan walaupun lebih berbau 'hoki' dari pada upaya pemain secara keseluruhan. Pertandingan v Stoke menjadi awal down-nya karir Lovren di Liverpool pada musim ini.

Setelah menempatkan Lovren di bench (vs Stoke City), Liverpool tidak pernah kalah dalam 3 laga (2 menang 1 imbang), tetapi dengan kepercayaannya Rodgers memberikan kesempatan Lovren langsung dipertandingan besar lawan MU, hasilnya Lovren bermain 90 menit dan rata-rata tiap 30 menit Liverpool kebobolan menjadikan hasil akhir 3-0 untuk sang rival abadi. Lovren kembali terlempar ke bench.

Sejak kekalahan lawan MU, Liverpool tak terkalahkan di 9 laga Liga Primer, disaat yang bersamaan Lovren tidak lagi menjadi pilihan utama setelah Rodgers memantapkan formasi 3 bek sejajar dan memasukan nama Emre Can (sejak Toure tugas di Timnas) dan Sakho sebagai pilihan utama. Lovren tidak memiliki tempat disana selain jika ada kebutuhan yang mendesak akibat absennya salah satu pemain di skema baru Rodgers tersebut.
Apa yang salah dari Dejan Lovren yang pada awal musim begitu menggebrak dengan mencetak gol debut non-resmi lawan Borrusia Dortmund? Mari kita lihat statistik Lovren pada musim ini di Liverpool.



Dejan Lovren (Liverpool - 2014/15)
Jelas terlihat bagaimana Lovren bermain sepanjang musim ini, sangat jauh diluar ekspetasi, dari 17 kali bertanding saja sudah membuat 6 kali kesalahan fatal yang berujung petaka untuk tim. Disitu hampir jelas jika konsentrasi pemain 26 tahun ini terlampau mudah goyah di Anfield. Padahal musim lalu di Southampton, Lovren begitu rapih dalam bermain sehingga hanya mencatatkan 1 kali error, itupun gol bunuh diri. Dan parahnya lagi, perentase upaya ambil bola dari musuh pun sangat kontras dibanding musimnya bersama Southampton, 100% sukses di Soton, 100% gagal di Liverpool.

Jadi apa masalahnya?

Pasti berberapa dari kalian pernah melihat dong tayangan Liverpool ketika duet Lovren dan Skrtel bekerja bersama? Keduanya terlihat sama sama panik dan seperti memiliki karakter bermain yang sama, artinya kedua pemain ini tidak mampu menutupi kelemahan satu sama lain. Oke mungkin berberapa dari kalian belum sadar atau tidak mendukung hipotesa saya tadi. Saya akan jabarkan.

Lovren memiliki perentase sukses duel heading yang sama sama baik dengan Skrtel, 72% berbanding Skrtel 70%. Lovren dengan rata-rata melakukan lebih dari 4 kali duel heading. sementara Skrtel rata-rata lebih dari 5 kali heading. Dan jika kita bandingkan dengan Sakho (55% sukses) dan Toure (42% sukses). Skrtel dan Lovren memiliki karakteristik dalam bertahan yang hampir selaras, memiliki kemampuan heading yang sama sama baik dan selalu mengandalkannya.

Sakho musim ini
Toure musim ini
  Itu samanya, sepele namun mendasar, bukan?

Skrtel musim ini


Memangnya salah ya pakai 2 pemain yang memiliki karakter sama dalam satu posisi di satu pertandingan?

Anda mempertanyakan itu ke saya, maka anda bisa bertanya pada seluruh pemerhati sepakbola FA atau suruh Fabio Capello atau Roy Hodgson mengaku bahwa Timnas Inggris tidak bisa memakai jasa Frank Lampard dan Steven Gerrard secara bersamaan dalam satu pertandingan. Kedua pangeran Inggris itu memiliki karakter bermain yang sama sehingga dalam istilah mereka bisa 'saling bertubrukan'. Alhasil, tim yang sama-sama mereka bela mesti susah payah untuk bermain berkembang.

Namun setelah melihat banyak kenyataan diatas Rodgers sepertinya belum ingin bertaruh memakai Lovren tanpa Skrtel dalam skuad. Padahal sudah jelas, memakai 2 playmaker sekaligus saja tim bisa hancur, apalagi 2 bek tengah berkarakter sama? Dijamin, lini belakang tim memberikan deretan kesalahan mendasar yang tak perlu yang tentunya sangat merugikan tim.

Argumen diatas menjelaskan bahwa segalanya memang bukan salah Lovren, Rodgers memiliki andil besar untuk memberikan perubahan penting dalam Lovren yang mungkin akan lebih berguna untuk klub. Sekali lagi, waktu akan terus berjalan dan periode yang akan menjawab ekspetasi maupun keraguan. Yang jelas, saat ini ekspetasi saya, Watson dan fans lain terhadapanya mungkin sedang salah.

Hehe... Sori boss

0 comments:

Post a Comment