Thursday, 19 February 2015

Saya, Jack Watson dan Pengharapnya Mungkin Sedang Salah

Aktivitas transfer Liverpool pada musim panas kemarin cukup menarik, menjual sang megabintang Luis Suarez dan bek karismatik Daniel Agger, lalu 'menambal' penjualan tersebut dengan membeli pemain 'rata' disetiap posisi. 3 striker yaitu Rickie Lambert, Mario Balotelli  dan Divock Origi (dipinjamkan semusim ke Lille), lalu 3 gelandang yaitu Emre Can, Lazar Markovic dan Adam Lallana, sementara posisi bek merekrut Alberto Moreno, Javi Manquillo dan Dejan Lovren.

Khusus untuk Dejan Lovren, Rodgers dengan percaya diri membeli mahal sang bek yang saat itu dianggap sebagai salah satu bek terbaik di Liga Primer, mereka mendaratkan Lovren dengan mahar lebih dari £22 Juta atau sekitar 36% dari dana yang dikeluarkan untuk membeli 9 pemain baru tersebut. Ya memang tidak salah Rodgers membeli mahal sang bek. Berdasarkan statistik di bawah ini, secara kuantitas dan kualitas Rodgers tidak terlalu berjudi dengan harganya.

Lovren di Southampton (2013/14) - Squawka


Bahkan Jack Watson dalam kolomnya di Squawka mengatakan bahwa Lovren bersama Skrtel akan menjadi salah satu duet bek terbaik jika performa Lovren di Liverpool seperti ketika dirinya di Southampton.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya, memang Lovren di 12 laga awal Liga Primer selalu starting, namun sejak kekalahan memilukan dari Crystal Palace - sebagai kekalahan yang ke 6 diperiode tersebut, Rodgers langsung sadar lalu merotasi beknya dengan memasukan Kolo Toure sejak menit awal pertandingan dan menyimpan si manusia £22 Juta tadi di bench. Hasilnya lumayan, mencetak sebiji gol untuk kemenangan walaupun lebih berbau 'hoki' dari pada upaya pemain secara keseluruhan. Pertandingan v Stoke menjadi awal down-nya karir Lovren di Liverpool pada musim ini.

Setelah menempatkan Lovren di bench (vs Stoke City), Liverpool tidak pernah kalah dalam 3 laga (2 menang 1 imbang), tetapi dengan kepercayaannya Rodgers memberikan kesempatan Lovren langsung dipertandingan besar lawan MU, hasilnya Lovren bermain 90 menit dan rata-rata tiap 30 menit Liverpool kebobolan menjadikan hasil akhir 3-0 untuk sang rival abadi. Lovren kembali terlempar ke bench.

Sejak kekalahan lawan MU, Liverpool tak terkalahkan di 9 laga Liga Primer, disaat yang bersamaan Lovren tidak lagi menjadi pilihan utama setelah Rodgers memantapkan formasi 3 bek sejajar dan memasukan nama Emre Can (sejak Toure tugas di Timnas) dan Sakho sebagai pilihan utama. Lovren tidak memiliki tempat disana selain jika ada kebutuhan yang mendesak akibat absennya salah satu pemain di skema baru Rodgers tersebut.
Apa yang salah dari Dejan Lovren yang pada awal musim begitu menggebrak dengan mencetak gol debut non-resmi lawan Borrusia Dortmund? Mari kita lihat statistik Lovren pada musim ini di Liverpool.



Dejan Lovren (Liverpool - 2014/15)
Jelas terlihat bagaimana Lovren bermain sepanjang musim ini, sangat jauh diluar ekspetasi, dari 17 kali bertanding saja sudah membuat 6 kali kesalahan fatal yang berujung petaka untuk tim. Disitu hampir jelas jika konsentrasi pemain 26 tahun ini terlampau mudah goyah di Anfield. Padahal musim lalu di Southampton, Lovren begitu rapih dalam bermain sehingga hanya mencatatkan 1 kali error, itupun gol bunuh diri. Dan parahnya lagi, perentase upaya ambil bola dari musuh pun sangat kontras dibanding musimnya bersama Southampton, 100% sukses di Soton, 100% gagal di Liverpool.

Jadi apa masalahnya?

Pasti berberapa dari kalian pernah melihat dong tayangan Liverpool ketika duet Lovren dan Skrtel bekerja bersama? Keduanya terlihat sama sama panik dan seperti memiliki karakter bermain yang sama, artinya kedua pemain ini tidak mampu menutupi kelemahan satu sama lain. Oke mungkin berberapa dari kalian belum sadar atau tidak mendukung hipotesa saya tadi. Saya akan jabarkan.

Lovren memiliki perentase sukses duel heading yang sama sama baik dengan Skrtel, 72% berbanding Skrtel 70%. Lovren dengan rata-rata melakukan lebih dari 4 kali duel heading. sementara Skrtel rata-rata lebih dari 5 kali heading. Dan jika kita bandingkan dengan Sakho (55% sukses) dan Toure (42% sukses). Skrtel dan Lovren memiliki karakteristik dalam bertahan yang hampir selaras, memiliki kemampuan heading yang sama sama baik dan selalu mengandalkannya.

Sakho musim ini
Toure musim ini
  Itu samanya, sepele namun mendasar, bukan?

Skrtel musim ini


Memangnya salah ya pakai 2 pemain yang memiliki karakter sama dalam satu posisi di satu pertandingan?

Anda mempertanyakan itu ke saya, maka anda bisa bertanya pada seluruh pemerhati sepakbola FA atau suruh Fabio Capello atau Roy Hodgson mengaku bahwa Timnas Inggris tidak bisa memakai jasa Frank Lampard dan Steven Gerrard secara bersamaan dalam satu pertandingan. Kedua pangeran Inggris itu memiliki karakter bermain yang sama sehingga dalam istilah mereka bisa 'saling bertubrukan'. Alhasil, tim yang sama-sama mereka bela mesti susah payah untuk bermain berkembang.

Namun setelah melihat banyak kenyataan diatas Rodgers sepertinya belum ingin bertaruh memakai Lovren tanpa Skrtel dalam skuad. Padahal sudah jelas, memakai 2 playmaker sekaligus saja tim bisa hancur, apalagi 2 bek tengah berkarakter sama? Dijamin, lini belakang tim memberikan deretan kesalahan mendasar yang tak perlu yang tentunya sangat merugikan tim.

Argumen diatas menjelaskan bahwa segalanya memang bukan salah Lovren, Rodgers memiliki andil besar untuk memberikan perubahan penting dalam Lovren yang mungkin akan lebih berguna untuk klub. Sekali lagi, waktu akan terus berjalan dan periode yang akan menjawab ekspetasi maupun keraguan. Yang jelas, saat ini ekspetasi saya, Watson dan fans lain terhadapanya mungkin sedang salah.

Hehe... Sori boss

Sunday, 15 February 2015

Profil: Alexander Meier - Striker Klasik Raksasa

Akhir akhir ini kasta tertinggi sepakbola Jerman atau yang lebih beken disebut Bundesliga sedang panas oleh salah satu pesepakbola dari Waldstadion, homebase dari kontestan Bundesliga, Eintract Frankfurt.

Ya, salah satu klub papan tengah Bundesliga ini sedang berada dalam status aman untuk terus bertahan di Liga, ya setidaknya untuk musim ini. Dengan materi pemain yang cukup bernama dan bertalenta seperti ex-Chelsea Lucas Piazon, bintang Timnas Jepang Makoto Hasabe atau pemuda yang telah menjadi andalan Timnasnya seperti Haris Seferovic. Namun tercatat ada yang lebih melejit dari ketiga nama tersebut saat ini. Nama ini yang akan menjadi topik bahasan pada tulisan saya terkini.



Sesuai judul diatas, saya akan mencoba membahas Alexander Meier, nama yang akhir akhir ini sering diributkan oleh berberapa situs olahraga dalam tema Sepakbola Jerman.

Alexander Meier, sang striker bertalenta unik yang lahir di kota kecil Jerman, Buchholz pada tanggal 17 Januari 32 tahun silam. Ya saya katakan unik karna dirinya adalah seorang striker bertubuh raksasa dengan tinggi 196cm dan bobot 96kg! supaya dramatis saya ulangi lagi, 96kg pemirsa!

Tidak mengherankan seorang striker harus memiliki tubuh yang ideal untuk berlari cepat dan lincah, karna hal itu agar dapat membantu mereka untuk melewati lawan yang menjaganya, dan apalagi di sepakbola modern aspek tersebut adalah modal utama agar mendapat sukses diposisi sebagai lumbung gol utama klub. Namun siapa sangka jika seorang striker berbobot 96kg berhasil mematahkan seluruh prediksi dengan mencetak 14 gol dari 19 pertandingannya bersama Frankfurt sepanjang musim ini!



Mulai dari awal, ketika seorang Meier lahir di Buchholz - Jerman Barat, kota yang terpisah sejauh 320km dari Ibukota Berlin. Langsung ke kehidupan sepakbolanya. Karir juniornya dimulai dari klub lokal JSG Rosengarten (1988–1989), TuS Nenndorf (1989–1990), TSV Buchholz 08 (1990–1995) lalu Hamburger SV (1995–1998). Meier langsung mencoba peruntungan sejauh 32km ke salah satu klub sepakbola berbasis dekat Hamburg, St. Pauli - Saat itu Meier baru berusia 18 tahun.



Setelah 2 tahun mencicipi bermain bersama St. Pauli bakatnya langsung tercium tim scout dari rival sekota St. Pauli, Hamburg SV. Namun nasibnya tidak lebih baik ketimbang di St. Pauli. Di Hamburg, Meier lebih banyak bermain bersama tim muda atau yang bekennya disebut reserves Hamburg SV.
Tak menyerah dengan keadaan. Meier tidak bunuh diri, tidak juga bunuh karir sepakbolanya. Justru dirinya langsung memutuskan untuk pindah ke klub promosi Eintracht Frankfurt, disitulah awal karir sepakbolanya dimulai. Pada musim debutnya 2004/05 ia langsung bawa Frankfurt untuk promosi di Bundesliga,



Dari data diatas saya simpulkan, selain ketajaman dan kekuatan, Meier juga memiliki kedisiplinan yang tinggi! Bayangkan jika pemain sekekarnya bisa hanya tercatat 2 kali mendapatkan pengusiran dari lapangan dan nihil kartu merah langsung! Sangat membuktikan bahwa Meier pun menjadi salah satu pemain yang paling bisa diandalkan di Frankfurt.

Saya akui bahwa saya kekurangan referensi data visual untuk menilai pemain ini. Youtube yang biasanya saya jadikan acuan malah tidak ada, cuman ada video proses terjadi golnya, bukan penampilan 90 menitnya. Namun situs data terpercaya saya whoscored.com menilai bahwa Meier memiliki karakter bermain yang cukup positif dan dianggap pula sebagai salah satu striker komplet dikelasnya.



(+)Aerial Duels

Dengan postur menjulang dan badan yang kekar maka tidak salah jika koresponden whoscored menilai kekuatan terbaiknya berada dalam hal ini.

(+)Finishing

Saya setuju sekali dengan penilaian ini, sebagai salah satu modal utama sebagai striker. Untuk masalah kecepatan memang kalah, namun tunjangan dari pemain dibelakang striker untuk lakukan finishing setelah dibantu dibuka ruang tembaknya, itu bisa menutupi kelemahannya.

(+)Heading Attemps

196cm masbrooo

(+)Holding on to the ball

96kg masbrooo

(+)Longshoot

Well, sejalan dengan awal pemikiran saya bahwa dirinya bukanlah tipe yang suka meliuk-liuk. Meier bisa dibilang tipe striker klasik, ada kans lalu tembak.

(-)Passing

Jangan berkecil hati um, ahli passing bukanlah kebutuhan utama untuk menjadi seorang striker.

Sepakbola adalah salah satu cabang olahraga terunik, kita hampir mustahil untuk menumpas tuntas habis dari permainan yang ditemukan di China dan baru dikenal ketika dimainkan oleh buruh di Inggris ini. Sejarahnya sangat panjang dan penuh dengan warna-warni dari segala aspek. Salah satu warna sepakbola adalah seorang Alexander Meier, striker klasik yang sukses di kehidupan sepakbola modern. Semoga pemain sepertinya akan terus tersedia secara berkesinambungan sehingga warna dalam sepakbola tidak akan berkurang, sedikitpun.

Wednesday, 4 February 2015

Si Kampret Culun yang Masuk Forum Blogger - Jamban Blogger.

Sejak si Xeryz (Laptop kesayangan gue yang ribet aneudt namanya) kembali kepelukan, kini gue lebih aktif lagi blogging. Nah, buat supaya kehidupan blogging gue ga terlalu datar, gue gabung ke salah satu forum untuk para blogger, namanya Jamban Blogger.



Awal ketemu sih sebenernya udah lama, udah lama tau kemudian terlupakan - gilak mirip banget sama kisah gue sama si gebetan yang mungkin emang beneran lupa sama gue sekarang. Si anjer curhat lagi. Balik ke topik, nah si forum ini sempet gue lupain padahal waktu pertama tama denger udah buru buru pengen gabung, namun karna ya-lu-tau-ke-sibukan-gue-lah-stalk-gebetan akhirnya baru sejak 2 februari 2015 pukul 22.30 WIB, gue dengan username farhanmaulana RESMI bergabung dengan salah satu forum blogger ternama di tanah air.



Sedikit informasi buat kalian yang mungkin belum tau atau yang ingin bergabung. Jamban Blogger adalah salah satu forum yang menjadi wadah bagi para blogger untuk seorang user terdaftarnya mendapatkan informasi dan untuk TS (Thread Starter) agar dapat membagikan informasi yang tentunya kurang lebih bermanfaat.

Jamban Blogger didirikan pada tanggal 10 januari 2013 oleh Hena Wirasatya. Nah mas Hena ini juga punya blog, lucu juga sih kalo doi pendiri forum blogger tapi gapunya blog *tepok jidat*.  Blog mas Hena gue tandai warna biru di nama. Nah, sesuai dengan tema blog dan jargonnya 'fun with food' doi spesialis pengamat makanan atau yang suka wisata kuliner gitu, nah doi pengamat tapi bukan cuma diliatin doang, makanannya juga dicicipi lalu di deskripsikan rasanya, namun doi lebih dikenal luas sebagai comic.

Sebagai seorang blogger yang bener bener kampret bin culun yang bahkan masih bingung cara buat replies atau buat thread di forum begituan dengan demikian merasa perlu banget nih nimba ilmu ke master master disono. Kali aje dengan semakin membaiknya blog yang sejalan dengan arus visitornya gue bisa diangkat terbang kembali sebagai pangeran khayangan yang tentunya abis dapetin kamu oh gebetan.

Udah itu aja.

Tuesday, 3 February 2015

No Signing, No Problem.

RESMI: Liverpool tidak mendatangkan satupun pemain (lagi) di jendela transfer musim dingin. Seperti yang mereka lakukan pada musim lalu.

Fakta diatas cukup mencengangkan karna kenyataan bahwa seharusnya Liverpool menambah amunisi baru setelah tampil cukup terseok seok dari awal musim sampai pertengahan musim kali ini. Cuma mencetak 29 angka dan berhak menduduki posisi atas PAPAN TENGAH klasemen 20 laga awal, cukup kontras dibanding musim lalu.


Itulah alasan pentingnya untuk Liverpool melakukan pergerakan pada jendela transfer musim dingin ini. Namun yang terjadi justru Liverpool cukup aktif dalam menjual pemain, winger Oussama Assaidi dan pemuda potensial Suso Fernandez jadi korban kebijakan manajemen. Oke kedua pemain tersebut memang dinilai tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Rodgers, namun apakah Rodgers tidak berpikir bahwa dirinya mesti mengganti kedua pemuda 'buangan'nya tersebut dengan wajah baru yang sesuai dengan ekspetasinya? Dengan keadaan tim yang awal musim mendatangkan 9 pemain dengan bandrol fantastis £100 Juta!

Yasudah, seperti halnya aku dan mantanku, kalau waktu bisa diulang kembali mungkin kamu gak akan aku biarkan disebut mantanku saat ini, namun waktu tidak bisa diulang, nasi yang diberi kecap dan di goreng telah menjadi nasi goreng dan tidak bisa menjadi padi seperti semula, winter transfer window telah ditutup, Liverpool gagal mendaratkan satupun pemain.

Oke, gue bukan tipe fans kacangan yang kalo situasi tim yang awalnya dibela seburuk ini langsung hopeless, sebagai fans gue ga kaya gitu namun sebagai cowo gue bukan tipe yang gampang nyerah, soalnya gue g... *Curhat lg gue timpuk lu an.

Yup. Dalam artian gue gaakan hilang harapan dengan gagalnya Liverpool di awal musim ini, justru gue yakin dengan starting XI yang gue susun dan perkirakan ini bakal membantu Liverpool kembali ke 4 besar (sesuai target awal) dan kembali duduk manis di Liga Champions. Yeaas! Ini adalah pemain dan formasi pilihan terbaik gue sejak gue perhatiin LFC dari awal musim sampe tulisan ini dibuat.





Dengan rasa tanggung jawab tinggi agar para reader ngerti, gue jelasin bagaimana formasi ini berjalan. Gue jelasin satu persatu peran di sektor pemain masing-masing.

1. Kiper, Simon Mignolet
Ah udahlah, ibarat lu minum air dibotol Aqua, tinggal buka tutup botol langsung srupppp... Pengisi posisi ini gampang banget ditebak! Apalagi pas Brad Jones cedera dan Mignolet kembali membuat kepercayaan seluruh pihak klub meningkat akibat performa aslinya kembali.

Jangan tersinggung buat fansnya Brad Jones atau Danny Ward bahwa kiper Belgia tersebut sampai saat ini belum mendapatkan pelapis ketat yang setidaknya dapat dipercaya penuh diajang lain atau ketika Mignolet kembali ke performa jeblok *paiit paiit*.

Selain itu gue juga mau komentarin tentang tipe bermainnya yang berkarakter kiper 'kekinian banget'. Ya, kemampuan seperti yang dimiliki berberapa kiper terbaik dieranya seperti Oliver Kahn, Pepe Reina dan Manuel Neuer, yaitu sebagai Ball-Playing-Keeper. Mereka yang gue sebutin punya kemampuan kaki yang luar biasa bagi kiper. Mignolet menjadi aset berharga milik Liverpool saat ini jadi sepantasnya manajemen berbijak dengan baik menanganinya.

2. Bek, Can - Skrtel - Sakho
Kalo posisi ini ya semi-heavy lah milihnya, apalagi kalo untuk pemilihan bek disektor Can, karna saat ini Liverpool bisa dibilang memiliki 2 bek yang baru saja menunjukan sinarnya, dan bisa dibilang telat bagus.

Yang gue maksud adalah duo muslim Sakho dan Toure. Kedua pemain ini sama-sama datang di musim lalu dan baru menunjukan sinarnya pada keduanya di Liverpool. Nah, sejak Rodgers memakai formasi 3 bek sejajar, mereka dengan berberapa penampilan apik di awal musim ini berhasil masuk sebagai pemain penting di lini depan, bahkan Sakho berhasil menggusur manusia £20 Juta, Dejan Lovren.

Lovren yang digadang-gadang sebagai pengganti Daniel Agger sebagai duet dengan Martin Skrtel. Namun dengan formasi 2 bek sentral Liverpool gagal total dimusim ini, lalu ketika memakai 3 bek sejajar dengan masih adanya Lovren sebagai starter Liverpool tidak tampil membaik. Akhirnya setelah masalah kedisiplinan Sakho dengan Rodgers kelar, Lovren perlahan-lahan tergusur dari skuat reguler main. Puncaknya ketika kekalahan 3-0 atas MU di Old Trafford.

Sementara Toure sih sebenarnya bagus, namun gue sebenernya kurang sreg gimana gitu, ya mungkin  faktor umur jadi pembeda dalam pemilihan gue. Kita punya masa depan Liverpool dalam diri Emre Can, si ganteng agak mirip gue yang berusia 20 tahun. Jelas Toure sudah kehilangan kelincahannya dan Can menang banyak soal reflek, apalagi sejak Toure absen akibat membela negaranya di Piala Afrika, kepercayaan diri Can dalam skuat semakin bertumbuh. Namun tetap pengalaman dan emosi masih susah untuk dikelabui Can atas Toure - seperti soal untuk mencari jalan terbaik dalam meredam serangan lawan dimana itulah yang menentukan seberapa besar skill dan dewasanya seorang bek.

Jadi, Rodgers patut bijak ketika kembalinya Toure ke skuat. Namun gue prefer Can karna jelas, selain ganteng dirinya juga belum punya masalah besar dalam bermain. Sementara Kolo mulai kehilangan fokus. Sekali lagi faktor U menjadi pembeda.

Posisi yang didiami Sakho cukup rentan serangan balik, apalagi jika Liverpool memakai Wing-back berkarakter lebih menyerang seperti Lallana, maka gue kira Sakho mesti lebih teliti dalam berganti posisi dengan cepat, dari posisi full back hingga ketika membantu menggalang pertahanan bersama Skrtel.

Tugas Skrtel sepertinya gampang-susah karna pekerjaannya sebagai pelindung gawang Mignolet yang terakhir atau biasa disebut tembok terakhir, namun mudahnya karna selain dirinya hanya fokus bertahan (doi masih sering maju dalam situasi bola mati untuk Liverpool), ia juga banyak dibantu oleh 2 bek lainnya.

Sementara Can memiliki tugas yang relatif berat karna disini dia berusaha menjadi 2 figur, yaitu penyuplai bola dari samping, pemotong alur serangan samping juga sebagai bek yang bertahan. Semua tugasnya itu mesti memiliki totalitas yang tinggi jika tidak skema bertahan atau serangan balik yang diusung Rodgers diwaktu yang bersamaan bisa gagal.

3. Gelandang Sentral, Henderson - Lucas
Agak sulit memilih posisi ini, LFC punya Gerrard yang akan hengkang akhir musim dan Joe Allen yang cukup fenomenal. Namun yang paling realistis adalah memasukan nama Lucas dan yang pasti Henderson.

Mengganti Gerrard dalam skuat utama disisa musim ini agaknya layak dilakukan, hal tersebut agar bisa membuat tim terbiasa bermain apik walau tanpa seorang karismatik Gerrard yang resmi meninggalkan LFC pada akhir musim nanti, gue juga gak masukin Joe Allen disini, oshi gue belum jadi yang terbaik antara Lucas atau Henderson. Allen memang seorang yang fenomenal, visi operan yang luas, lugas dan tepat menjadi sisi fenomenalnya sejak didatangkan Rodgers 2012 lalu, namun konsistensi permainan serta masalah cedera bener bener ganggu oshi gue ini untuk menunjukan kemampuannya yang lebih baik lagi.

Henderson yang diplot sebagai kapten akan memegang peranan paling sibuk. Gue gadangkan dirinya bakal menjalani 3 posisi sekaligus! Yaitu sebagai cover posisi Lucas sebagai gelandang pengatur alur bola dari sektor pertahanan, cover posisi wingback kanan serta menjadi pemain pengatur tempo. Ya jelas, untuk mengatur tempo permainan adalah yang sangat sulit, tugas tersebut memerlukan kemampuan Allen dalam hal mengoper dan kelugasan dalam bermain seperti Gerrard. Namun dengan stamina yang dimiliki Hendo serta kemampuannya yang terus berkembang maka tugas ini bukan hal yang terlampau berat baginya.

Sementara Lucas seperti yang udah gue deskripsikan diatas bahwa tugasnya sebagai istilahnya jembatan antar lini sekaligus pemotong alur serangan pertama dalam skema serangan musuh. Kemampuan tekelnya dan uluran kaki Henderson bisa menjadi hal untuk memudahkan dirinya dalam melakukan tugas ini.

4. Gelandang Sayap, Lallana - Coutinho
Gue agak bertaruh ya dengan keputusan ini, memakai 2 gelandang sayap atau yang biasa disebut wing back bertipe menyerang seperti Lallana dan Cou. Tapi dengan cara Liverpool bermain yaitu menunjung tinggi pressing dan menyalakan alarm bertahan sejak lawan memegang bola di tengah lapangan namun tetap memiliki kecepatan atau agresifitas dalam menyerang maka gue nilai kedua pemain ini cocok abis!

Dalam foto formasi diatas cukup menjelaskan bahwa tugas Lallana adalah sebagai wingback yang membantu serangan serta membantu Lucas ketika Hendo sedang telat turun bantu Lucas ketika dalam situasi diserang balik. Sementara Coutinho dengan segala kemampuan dan lemahnya, doi hanya fokus nyerang dan akan sering swipe posisi dengan Henderson. Kadang doi bisa jadi gelandang dibelakang striker tunggal, sehingga Hendo yang bisa mengisi pos gelandang sayapnya. Enaknya punya seorang seperti Hendo begitu. Doi dengan hebatnya gak fokus dalam satu posisi, gatel buat terus bergerak mencari posisi yang bisa di back up gak salah kalo total assistnya sampai saat ini sudah sebanyak 6 assist. Kreatif!

Sebenernya Lallana bersaing ketat dengan Moreno yang akhir akhir ini juga mainnya mulai klop dan keliatan bagusnya. Namun dengan kekurangannya dalam hal transisi bermain takutnya doi sering kalah duel dan miss komunikasi sama Sakho. formnya belum terllau konsisten pula.

5. Striker, Sterling - Sturridge - Ibe
Posisi striker ini bisa dibilang posisi yang mesti banyak memiliki chemistry tinggi. Karna Rodgers memiliki 3 striker didepan dan skema akhir serangan Liverpool juga bagaimana ketiga pemain ini bekerja, bagaimana pula cara membongkar pertahanan lawan mereka mesti memiliki jawaban tersebut.

Tanpa adanya sang mantan indah, Luis Suarez maka praktis di lini depan, Sterling dan Ibe mesti membantu Sturridge dalam bermain, karna sesuai dengan kapabilitas, Sturridge tidak memiliki banyak kemampuan untuk seperti Suarez, yang dalam satu sisi bisa sebagai striker yang tajam namun dilain sisi bisa memberikan ruang untuk pemain lain. Sesuai pengalaman, Sturridge tidak terlalu bugar dalam melakukan kedua hal ini secara bersamaan. Cukup sebagai striker pencetak gol yang ditopang duet padunya Sterling dan Ibe. We have triple beast in the front!