Gue gak ngerti sebelumnya kenapa gue kepikiran buat tulisan yang satu ini, awalnya sih karna disuruh buat daftar sikap tidak terpuji dari dosen gue, eh malah jadi curhat kaya gini. Gue kasian ke dosen gue, bisa nangis doi baca tulisan merembet ke artikel kaya gini. Daripada mubazir, gue taro artikel ini di blog, resumannya gue tulis tangan buat dikasih ke dosen.
Sebenarnya, gue punya banyak
sikap tidak terpuji, mulai dari mudah emosi, terlalu mudah rewel, buruk dalam
hal mengatur keuangan, teliti dalam detail namun ceroboh secara umum, hingga
rajin tetapi hanya pada hal yang sepele, namun ada sikap tercela yang paling
umum gue lakukan adalah MAGER.
People jaman now (Manusia jaman
sekarang) memang memiliki karakter malas yang beragam, mager sendiri merupakan
kepanjangan dari ‘malas gerak’, sementara diluar sana masih ada kawan-kawan
yang menemani kata ‘malas’ seperti malas berpikir, malas baca, malas mandi
(karna kulit badan sulit menerima suhu air yang dingin) bahkan malas makan
hingga malas tidur merupakan contoh-contoh malas masa kini yang seringkali
menghiasi status-status facebook, whatsapp hingga snapgram yang tujuan aslinya
memperlihatkan kegiatan, malah tidak sedikit penggunanya yang mengupload
kemalasannya.
Bokap gue pernah mengatakan, gue ingat banget hari itu merupakan hari bersih-bersih rumah, sementara gue sendiri merupakan anak yang paling anti kamar sendiri kotor, hingga
terbawa sampai saat gue tinggal di kosan, saat itu bokap bilang “Kok
kamu jadi males beresin kamar sih?”, disitu gue curiga dan langsung gue menyadari bahwa malas gerak dalam hal sikap merupakan bahaya laten, kita tidak
akan menyadari seperti apa rajin kita, namun kita akan segera melihat ketika
momennya tiba, saat itu hari minggu suhu Kota Bogor yang menyejukkan, cuacanya
mendukung untuk tidur, ditambah handphone yang penuh dengan tulisan artikel
panditfooball memang sulit untuk ditinggali, sehingga gue lupa bergerak untuk
mendukung kegiatan bersih bersih di hari libur tersebut.
Ketika gue udah berada di kota
berbeda dengan kedua orang tua, ternyata sikap laten MAGER masih membayangi
hari gue, contohnya setelah mengerjakan tugas di malam hari gue shut down
laptop, gue tidak menunggu laptop mati namun gue langsung lemparkan badan ke
tempat tidur, namun nahas ternyata laptop gue tidak bisa mati karna ada file
yang harus gue klik untuk setuju di close, rasanya kasur gue udah melekat
erat di badan sehingga akibat MAGER tersebut tidak memungkinkan gue untuk membawa
kasur gue sembari bangkit meraih dan paksa shut down laptop tersebut, jadi
gue biarkan laptop tersebut menyala hingga pagi hari.
Untuk mengatasi sikap buruk
tersebut gue selalu mengingat wejangan dari kedua orang tua gue, beliau
mengatakan “Kamu di Semarang jangan males, tinggal Belajar sama urusin hidup
sendiri aja kok males.” Kata-kata tersebut walaupun tidak didukung dengan EBI,
namun cukup ampuh untuk melawan sikap MAGER tersebut, bagi gue orang tua
merupakan figur penting dan salah satu motivasi kenapa gue harus sukses dan
bahagiakan mereka. Sehingga gak aneh kalo kata-kata itu gue bikin jadi motivasi supaya sikap tidak terpuji gue itu ilang.





