Sunday, 26 April 2015

Ngaret

Singkat cerita pada suatu hari manusia tertampan seperumahan didaerah Kayumanis Bogor sedang ada suatu urusan dengan temannya, sayangnya dirinya justru ada urusan sama orang yang kalo urusan ngaret udah berstatus salah satu yang terbaik di dunia bahkan udah sempet dapet medali emas tetang orang yang paling terlambat se sekolahan. Malam sebelumnya kedua insan tersebut ngobrol untuk hari esok...

Supri Unyu: "An. Besok ya ke CFD..."

Gila ni anak, abis di ruqiah apaan. Tumben amat ngajak gue CFD, gue ajak makan aja kagak mau. Iya sih kagak mau soalnya gue yg minta di bayarin sama dia.

Gue: "Oke banget, lu mau CFD jam berapa?"

Supri Unyu: "Pagi dong, kita janjian di stasiun Bogor jam 6."

Dalem pikiran gue, emang agak gak asik juga sih ke CFD jam 6 soalnya gue udah feeling jam segitu belom termasuk ngaretnya. Tapi karna gue pikir juga jarang-jarang ini orang ngajak jalan dan KALI aja sifat dia emg berubah kalo pagi pagi.

Gue: "Yakin? Yaudeh deal nih."

Supri Unyu: "Oke."

Setelah itu kita berdua saling memberi ucapan salam malam yang manis. ENGGAKLAH. Akhirnya kita berdua tidur buat siap siap besok.

Paginya gue emang agak telat soalnya alarm hape emang sialan banget, gue udah volume full tapi masih aja kaga bisa bangunin gue. ITU ELU YANG BUDEG MALIH. Gue bangun jam 5.15. Abis itu gue nge WA itu orang...

"Eh bro sori gue bangunnya agak telat nih..."
"Bro.."
"Bro.."
"Jadi kagakk?"

Dibales setelah gue sikat gigi, cuci muka dan sembahyang. Itu jam 05.45

Supri Unyu: "Oh sori bro baru bales, gue udah siap siap nih."
Gue: "Anjir yaudeh gue otw."
Supri Unyu: "Oke"

Sialan emang gue belom sarapan belum masukin apa apa kemulut selain odol sama sikat gigi udah langsung berangkat ke St. Bogor. Yaudahlah demi temen dan kasih kesan pertama ke temen bahwa gue gak sengaret ke sekolah, gue rela kagak sarapan dulu...

30 menit kemudian gue udah sampe St. Bogor. Disitu udah telat 15 menit dan luar biasa gue masih jadi orang yg pertama dateng...

Gue: "Coy lu dimana?"
Gue: "Gue di St. Bogor nih, gue tggu di pintu keluar."

5 menit nunggu... Masih diliatin orang. (Mungkin gue kaya Algazali)
10 menit nunggu... Dideketin cewe. (Ni org mau minta tanda tangan kali)
15 menit nunggu... Dikasih recehan sama cewe. (Sialan)

Anjir kemana ni orang, rumah di Citayem jalan kayak dari Bekasi. Jam udah masuk jarum panjang ke angka 6 dan jarum pendek di tengah antara angka 6 dan 7 belom ada jejak kakinya juga. Dan gue masih nunggu setelah berberapa detik setelah ngeluh akhirnya ni org dateng juga.

Supri Unyu: "Mz..."
Gue: "Anjir kemana aja lu. Gue udah kayak orang mnta minta nunggu didepan pintu keluar kek gini."
Supri Unyu: "Sori mz gue sarapan dulu"
Gue: "SI KEHEDDD!"

-------------------------------------------------------------------------------------------
Gatau kenapa budaya ngaret generasi bangsa masih aja parah banget, masalahnya parahnya lebdari gue.

Ini cerita flash fiction yang berberapa bagian dan tema berdasarkan kejadian real gue. So semoga terhibur dan buat yang suka ngaret semoga sadar bahwa buat jadi sukses diawali dari disiplin waktu dan gak nyusahin orang. Apalagi kalo orang nunggu lama, orang penting dan orang yang pertama kali ketemu. Kesan pertama itu gak pernah hilang bro. Jadi kalo pertamanya udah ngaret udah deh gak dipercaya lagi.

Minimal aja kalo terdesak beneran kalo kaya tiba tiba keretanya bannya bocor, di jalan macet ada anak pengajian pawai obor, kabarin dari jalan kalo bakal agak telat, walaupun memang harusnya bisa handle waktu dari rumah.

Gitu.

Friday, 24 April 2015

Ben Affleck dan Tugas Kebudayaan dan Peradaban.

Kembali lagi dalam blog usang ini yang ternyata sudah mulai menyebar ke satu sekolah, kesan pertama dari teman teman untuk postingan diary ada yang suka dari tata bahasanya yang katanya keren tapi lebih ngeselin, ada yang juga bilang ngefans dengan Tukiyem yang di diary tersebut menjadi salah satu aktor antagonis, berberapa teman juga ada yang ngasih masukan:
"Tulisannya bagus cuma kurang baku"
"Tulisannya keren cuma agak ngeselin"
"Tulisannya keren tapi gak sama penulisnya"
"Tulisannya keren tapi pembacanya lebih keren"
"Tulisannya ngeselin tapi penulisnya tampan nan rupawan(itu review saya sendiri)."

Mungkin kalian akan berpikir dalam postingan kali ini saya mau review kemampuan Ben yang katanya bakal jadi lawannya Superman ketika dirinya terpilih memerankan Batman. Engga ko, kali ini saya cuma sedikit ngomongin mukanya aja dan pintarnya saja.

Tema dalam postingan kali ini 'lagi lagi' yang berwawasan dan masuk dalam bahasan sekolah, ya akhir akhir ini sih saya emang jadikan blog ini menjadi salah satu ajang penghematan uang untuk biaya yang mestinya dipake ngeprint tugas atau untuk simpan tenaga yang mestiya dipake buat nulis tapi dipake buat terus ngejar doi HAHA *ketawa garing.

Banyak nulis berwawasan, gue kalo ngaca jadi suka dimiripin sama si Batman Ben Affleck, tapi lebih muda dikit.
Sebagai pelajar paling revolusioner saya juga mengingatkan untuk teman-teman agar mengikuti langkah serba hemat saya ini, sungguh ini cara yang menurut saya paling menyenangkan dan hemat dalam menyelesaikan tugas.

Tugas kali ini datang dari guru Sejarah saya yang kebetulan juga ikut bagian dalam postingan diary saya itu, kembali yang membuat bagi saya tugas menarik ini karna Pak Eko kasih lampu hijau sekaligus tantangan buat memberikan pandangan tentang "PERBEDAAN KEBUDAYAAN DAN PERADABAN SERTA HUBUNGANNYA.". Oke gak lama-lama kita langsung ke pembahasannya.

1. KebudayaanBudaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. - Wikipedia.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat, dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)
  3. C. Kluckhohn mengemukakan ada 7 unsur kebudayaan secara universal (universal categories of culture) yaitu:
    • bahasa
    • sistem pengetahuan
    • sistem tekhnologi, dan peralatan
    • sistem kesenian
    • sistem mata pencarian hidup
    • sistem religi
    • sistem kekerabatan, dan organisasi kemasyarakatan

Ciri – ciri Kebudayaan Secara Umum
1.Kebudayaan dipelajari
2.Kebudayaan diwariskan atau diteruskan
3.Kebudayaan hidup dalam masyarakat
4.Kebudayaan dikembangkan dan berubah
5.Kebudayaan itu terintegrasi

2. Peradaban
Secara umum peradaban adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju. Sedangkan Pengertian peradaban yang lebih luas adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subjektif. Istilah "peradaban" dalam bahasa inggris disebut civilization atau dalam bahasa asing lainnya peradaban sering disebutbescahaving (belanda) dan die zivilsation (jerman).

Istilah Peradaban ini sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita pada perkembangan dari kebudayaan dimana pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi. Ada beberapa pengertian peradaban yang didefinisikan oleh para ahli. Pengertian peradaban menurut definisi para ahli adalah sebagai berikut...

  • Arnold Toynbee : Arnol Toynbee dalam bukunya "The Disintegrations of Civilization" dalam Theories of Society, (New York, The Free Press, 1965), hal 1355 menyatakan peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi. Pengertian lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulan seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek). 
  • Albion Small : Menurut Albion Small Peradaban adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara itu, kebudayaan mengacu pada kemampuan manusia dalam mengendalikan alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Albion Small, yang mengatakan bahwa peradaban berhubungan dengan suatu perbaikan yang bersifat kualitatif dan menyangkut kondisi batin manusia, sedangkan kebudayaan mengacu pada suatu yang bersifat material, faktual, relefan, dan konkret. 
  • Bierens De Hann : Menurut pendapat Bierens De Hann yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian peradabadan yang memiliki arti bahwa peradaban adalah seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan teknik. Jadi, peradaban memiliki kegunaan praktis dalam hubungan kemasyarakatan. 
  • Huntington : Huntington memberikan pendapatatnya mengenai definisi peradaban bahwa pengertian peradaban adalah sebuah identitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi melalui dalam unsur-unsur obyektig umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. Berangkat pada definisi ini, maka masyarakat Amerika-khususnya Amerika Serikat dan Eropa yang sejauh ini disatukan oleh bahasa, budaya, dan agama dapat diklasifikasikan sebagai satu peradaban, yakni peradaban barat. 
  • Alfred Weber : Menurut definisi Alfred Weber yang mengatakan bahwa pengertian peradaban adalah mengacu pada pengetahuan praktis dan intelektual, serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang digunakan untuk mengendalikan alam. Adapun kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai, prinsip, normatif, dan ide yang bersifat unik. Aspek dari peradaban lebih bersifat kumulatif dan lebih siap untuk disebar, lebih rentan terhadap penilaian, dan lebih berkembang daripada aspek kebudayaan. Peradaban bersifat impersonal dan objektif, sedangkan kebudayaan bersifat personal, subjektif dan unik. 
  • Prof Dr. Koentjaraningrat : Peradaban adalah bagian-bagian yang halus dan indah seperti seni. Masyarakat yang telah maju dalam kebudayaan tertentu berarti memiliki peradaban yang tinggi. Istilah peradaban sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan dimana pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.
  • Oswald Spengler : Spengler berpendapat bahwa pengertian peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf tinggi atau kompleks. Terlebih lagi Spengler menyatakan bahwa peradaban adalah tingkat kebudayaan ketika telah mencapai taraf tinggi dan kompleks. Lebih lanjutnya lagi, Spengler menyatakan bahwa peradaban adalah tingkat kebudayaan ketika tidak lagi memiliki aspek produktif, beku, dan mengkristal. Adapun kebudayaan pada sesuatu yang hidup dan kreatif. 
Peradaban memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang berfungsi dalam memperjelas peradaban dan juga berfungsi dalam membedakan peradaban dan kebudayaan dimana kita tahu bahwa banyak dari kita yang menganggap bahwa peradaban dan kebudayaan sama, padahal peradaban dan kebudayaan tersebut adalah sangat berbeda. Maka dari itu, ciri-ciri peradaban sangat membantu dalam membedakan antara peradaban dan kebudayaan. Ciri-ciri umum sebuah peradaban adalah sebagai berikut.... 
  • Pembangunan kota-kota baru dengan tata ruang yang baik, indah, dan modern
  • Sistem pemerintahan yang tertip karena terdapat hukum dan peraturan. 
  • Berkembangnya beragam ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju seperti astronomi, kesehatan, bentuk tulisan, arsitektur, kesenian, ilmu ukur, keagamaan, dan lain-lainnya. 
  • Masyarakat dalam berbagai jenis pekerjaan, keahlian, dan strata sosial yang lebih kompleks.

Kesimpulan: Hubungan Kebudayaan dan Peradaban

Seperti salah satu bait artikel diatas mengatakan bahwa menilik dari fungsinya, kebudayaan dan peradaban itu sangat berbebeda. Hal tersebut di kuatkan dari potongan pengertian yang saya ambil dari salah satu ahli tentang kebudayaan

"Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa kebudayaan adalah segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri."

Sementara itu peradaban itu...

"...sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita pada perkembangan dari kebudayaan dimana pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi."

Pernyataan diatas menguatkan pandangan saya bahwa yang dimaksud kebudayaan itu diciptakan oleh manusia untuk manusia yang turun temurun dari generasi ke generasi. Sementara peradaban adalah sesuatu yang terjadi setelah lahirnya kebudayaan tersebut, bisa menjadi tolak ukur agar terjadinya peradaban baru yang lebih kompleks dan lebih kualitatif dari kebudayaan sebelumnya.

Namun ternyata diluar kesimpulan saya diatas, perbedaan penggunaan kata 'Kebudayaan dan Peradaban' masih menjadi polemik diantara para ahli, dan atas dasar kepolosan saya hanya mencoba menyambungkan pendapat berberapa ahli diatas menjadi pandangan saya tentang hal ini. Untuk itu, kurang lebihnya mohon maaf, karna saya bukanlah seorang yang sempurna, sebelum berhasil membahagiakan orang tua, sukses dimasa depan, meyakinkan camer 'kelak' jika berhasil dapetin doi dan tentu saja yang mungkin bakal terjadi tidak lama 'Insha Allah' melihat Liverpool juara EPL. Amiin... *Oke Curhat

Itu aja,

Bahan:
http://betanokaz.blogspot.com/2013/05/perbedaan-kebudayaan-dan-peradaban.htmlhttp://gondang.blogspot.com/2013/12/kebudayaan-peradaban-manusia.htmlhttp://satria-kelayu.blogspot.com/2013/12/kebudayaan.htmlhttps://dienalj.wordpress.com/2013/03/19/pengertian-kebudayaan/http://www.lepank.com/2014/06/pengertian-kebudayaan-secara-umum.htmlhttp://www.artikelsiana.com/2015/02/pengertian-peradaban-ciri-ciri-para-ahli-peradaban.html

Wednesday, 8 April 2015

(Kurang) Satu Hari Bersama Kapten TNI Suroso - Jalan-Jalan Edukatif ke Museum PETA Bogor

Artikel saya kali ini berbicara tentang sejarah, ya saya tau klub kebanggaan saya memang kental dengan aroma sejarah, namun dalam rangka tugas Bahasa Indonesia yang diberikan Bu Hastri selaku guru mapel tersebut untuk mengisi liburan yang dihadiahi selama satu minggu akhirnya kami (saya dan 1 teman saya) bermaksud untuk memenuhi tugas tersebut.

Menurut saya tugas ini spesial (gak pake sayur), karena berhubungan dengan dunua jurnalistik, ya jurnalistik adalah hobi yang saya sangat cintai saat ini, selain senang memberikan berberapa artikel dengan berbagai macam tema, seperti olahraga terutama sepakbola, tentang politik dan lain lain, termasuk yang tentang tulisan kali ini mungkin akan menjadi salah satu tema kesukaan saya nanti.

Tugas ini sebenarnya sih berkelompok, namun karna saya memiliki pengalaman yang sangat tidak mengenakan bagi saya ketika menjalankan tugas kelompok interview seperti yang ini maka saya meminta maaf kepada Bu Hastri dan teman-teman kelompok saya, bukannya saya anti-sosial ya, hanya karna ketidak mampuan saya mengerjakan dengan cara kelompok di tema pelajaran interview ini yang membuat akhirnya saya hanya mengajak teman yang sering saya ajak sharing Panji (kelas sebelah) agar saya bisa lebih serius menjalankan tugas saya. Diharapkan sodara sodari mengerti.

I just feel free and more comfortable with my own way.
Oke, kita mulai dari awal. Bisa dibilang persiapan saya cukup minim karna pada tanggal 5 april atau 2 hari sebelum hari-h pembuatan tugas ini saya baru mengerjakan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu wawancara, yang saya maksud adalah pertanyaan dan baha lainnya handycam. menilik dari bahan tersebut, skema awal saya membuat interview ini supaya bisa terlihat lebih pro, hehe.. Namun karna keterbatasan barang dan kemampuan maka dengan waktu 1 hari saya putuskan untuk mengganti skema tersebut dengan hanya mengandalkan recorder hape Nokia C3-00 dan berberapa pertanyaan yang dinilai anti-mainstream dan diharapkan bisa benar-benar menambah pengetahuan pembaca yang gabisa pembaca dapatkan dari Wikipedia atau artikel yang berada di blog setema lain.

Malamnya sekitar jam setengah-delapan tanggal 6 April (H-1), saya memutuskan untuk mengajak Panji (yang dari siang-sore-malam hari itu paling rajin PING!!! di bbm saya dengan maksud membuat suatu argumen baru seperti biasa), Setelah mengalami tawar menawar yang panjangnya lebih dari jarak Bumi ke Bekasi, akhirnya Panji hanya menawarkan dirinya sebagai kerabat saya saja ketika ditanya ingin menyelesaikan tugas tersebut karena dirinya dengan kelompoknya yang awal sudah sepakat untuk melakukan tugas berkelompok. It's okay dude. Aku biasa sendiri, apalagi doi belom peka-peka *tepok nyamuk. Dan dihari yang sama Panji juga sepakat untuk perjanjian dengan saya yaitu "Besok kita ke museum PETA, jam 09.45 janjian di pertigaan Alfamart Bojongggede (orang bojong pasti tau), no ngaret kecuali gue, jadi sekarang lu tidur bro takut kesiangan, jangan lupa cuci muka, gosok gigi pake sabun mandi." *kalimat yang saya coret tidak benar-benar saya ucapkan kok.

Keesokan harinya tepatnya di hari-h sekitar jam setengah 5 pagi saya dibanguni oleh alarm jam weker yang kerasnya ampe buat penghuni rumah saya juga ikutan bangunn, dengan raut muka Zayn Malik abis ultah dilempar bahan pembuat martabak saya cuci muka, gosok gigi, ibadah subuh, lalu..... tidur lagi.

Bangun lagi sekitar jam 8 lalu siap siap sarapan, mandi dan cusss otw... ketempat tidur lagi. Haha engga langsug cuss ketempat janjian pastinya. Kerabat saya Panji diantar ibunya saat itu. Dan tanpa pikir panjang sekitar jam 10 kurang kami melakukan perjalanan ke museum PETA sembari mengejek manusia manusia dari negeri Indonesia yang belum tersentuh revolusi mentalnya pak Presiden yang sebenernya sampe saat ini sayapun belum merasakan salah satu bagian dari janjinya saat Pilpres yang menurut saya sangat menggugah hati itu. Ya saya mengejek manusia manusia yang mengaku memiliki SIM namun mindsetnya seperti orang yang ga lulus TK (ga ngerti aturan dasar), seperti kontraflow, supir angkot yang ngeterm sembarangan, rider yang ga sabar menghadapi macet sehingga buat kemacetan baru, rider yang mesra-mesraan dengan pacarnya, ah pokoknya mengeneskan banget deh.

Sesosok Panji.
Setelah kengenesan di sepanjang jalan akhirnya kami sampai ditempat yang menurut saya sangat strategis, dijantung kota Bogor, dengan bangunan kokoh TNI yang dipertegas kebenarannya dengan banyaknya monumen senjata yang dijajakan dibelakang pagar yang sangat gagah terlihat. Akhirnya kami sampai dipintu masuk paling tengah dari komplek tersebut, dididing bagian atas bangunan tersebut kami langsung mendapatkan angin segar mengenai kepastian bahwa kami tidak salah lokasi, ya disana langsung terpampang 'Musem PETA Bogor', sebelum masuk ke gerbang museum, kami disambut dengan banyaknya bis dan berberapa angkot yang sepertinya charter-an dari salah satu rombongan yang terlihat ramai (yaiyalah Malih namanya juga rombongan), usut punya usut yang saya lihat ternyata mereka adalah rombongan dari salah satu TK, soalnya sedikit lebih pendek dari saya *oke saya akui saya seukuran ideal anak kelas 5 SD. Setelah para adik adik di TK tersebut bubar kami rencananya ingin langsung melakukan wawancara untuk mendapatkan jawaban dari tugas tentang museum ini, namun ternyata setelah kami bertanya kepada salah satu penjaga mengatakan bahwa orang yang berwajib kami wawancarai masih melakukann tur dengan rombongan dari Dinas Perhubungan RI. Wow! Dinas Perhubungan, ternyata bukan hanya kalangan unyu, kalangan om-om gagah dan ayunya tante-tante dari Dishub juga tak kalah ingin eksis dan menambah pengetahuan di museum ini.

Akhirnya tidak sampai 30 menit saya menunggu, ternyata kami berdua sudah dipanggil menghadap kepala museum, bukan bukan karna tadi kami iseng di museum, ternyata kami langsung dihadapkan dengan kepala museum untuk melakukan wawanncara sederhana tersebut! Gokil! ini kami langsung ke kepala museumnya! Mana belum siap sepenuhnya dengan pertanyaan-pertanyaannya lagi! Ah  karna kami sudah didesak dengan penjaganya untuk melakukan interview ini dengan berkata "Ayo kamu yang mau wawancara sudah ada kepala museumnya. Lebih cepat lebih baik" kata penjaga museum yang saya berikan hipotesa bahwa ia mungkin adalah pendukung Pak JK di Pilpres 2009,  akhirnya kami dengan tampang polos seperti anak kecil usia 7 bulan yang ditanyain 'berapa nem SMP kamu?' terpaksa langsung melakukan interview yang kami kira awalnya akan berakhir konyol.

Tadinya pertanyaannya mau yang iniii-_-
Kami datang dengan membawa recorder dan satu buah kamera hape saya (karna habis narsis di patung Pak Jendral Sudirman) mencoba seprofesional mungkin menunjukan bahwa kami adalah siswa SMA Negeri 1 Bojonggede yang terkenal karna over-pedenya, lalu kami langsung menghadapi Tentara yang terlihat gagah, sedikit serem (ampun pak) dan wibawa bernama Kapten Suroso, Pak Kapten ini ternyata adalah kepala museum PETA, beliau ternyata berasal dari TNI, padahal saya kira kami akan dihadapkan dengan kepala atau pemadu tur museum yang biasanya berkacamata dan berpakaian formal PNS. Kami berjalan dan langsung dihadapkan oleh Tentara yang sedang duduk dengan sedikit rasa kepayahan akibat memandu total 4 rombongan sebelum kami datang.

Baru saja ketika kami ingin memperkenalkan diri, justru kami yang langsung disuguhi pertanyaan "Ini adek darimana?" tukasnya dengan santai, "Kami siswa dari SMA Negeri 1 Bojonggede yang bermaksud ingin menyelesaikan tugas tentang interview pak" kata manusia berkacamata yang mukanya sedikit mirip Zayn Malik view dari belakang *itu saya ya. "Ini disuruh guru?" balasnya dengan nada penasaran, "Iya pak, tugasnya disuruh guru namun untuk gagasan pokok dari tugas ini adalah inisiatif kami sendiri," balas mantan pemilik jambul yang terkenal seantero sekolah itu *saya lagi. Harapan awal ketika saya ingin mengawali wawancara dari narasumber paling berkompeten di museum ini mengucapkan salam lalu langsung ke pertanyaan saya, namun ternyata saya malah langsung ditanya duluan "Kenapa kamu memilih museum ini?", lalu saya jawab "Karna supaya lebih menarik aja pak, ditambah saya adalah mantan siswa Sosial jadi saya memilih museum sebagai objek tugas wawancara ini pak.", lalu Pak Kapten mengganguk dan membalas "Siapa? YANG NANYA!?", "Baik pak bisa kita langsung ke pertanyaan saya?", pertanyaan santai dari si jomblo yang masih menunggu gebetannya peka *saya lagi, "Siap." jawab penuh kesiapan dari Pak Kapten. Akhirnya kami melakukan interview dengan berberapa pertanyaan yang keasliannya penuh dengan penuh tanggung jawab dan pastinya menarik, asli, anti-mainstream, anti karat, anti air. Oke itu embel embel produk jam tangan kali ya.

Farhan: "Apa yang menjadi latar belakang atau yang menjadi tujuan utama dibuatnya museum ini?"

Kapten Suroso: "Agar supaya kita semua sebagai generasi penerus bangsa bisa mengenang kembali kemudian mempelajari, bahkan lebih yaitu melestarikan nilai nilai perjuangan para pejuang tanah air kita."

Farhan: "Apa fungsi awal dari bangunan museum PETA ini?"

Kapten Suroso: "Dibangun pada tahun 1745 yang artinya sudah lebih dari 210 tahun berdiri yang saat itu didirikan oleh pemerintah penjajah Belanda, Museum ini dibuat sebagai tempat tinggal para pegawai dan para pengawal Gubernur Jendral Belanda yang kantornya berada di Istana Bogor. Setelah Belanda menyerah pada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, tempat ini diambil alih oleh Jepang sebagai tempat melatih dan mendidik calon calon tentaranya. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dipakai sebagai Zeni TNI AD, dan pada tahun 1995 satu unit bangunan yang terletak paling depan dari komplek Zeni ini dipakai sebagai museum PETA."

Farhan: "Apa saja koleksi-koleksi dari museum ini?"

Kapten Suroso: "Museum PETA ini menawarkan relief-relief yang berada dalam monumen-monumen disini, selain itu ada dua buah bangunan yang menjadi bagian dari museum ini yang isinya dapat dideskripsikan oleh diorama-diorama.

"Disana ada 14 diorama, diorama sendiri adalah salah satu koleksi atau wahana di museum ini yang memberikan deskripsi tentang kejadian pada masa lalu. Diorama pertama menggambarkan tentang pembentukan tentara PETA, diorama kedua tentang pendidikan tentara PETA, diorama ketiga tentang pemberontakan tentara PETA, lalu yang ke empat menggambarkan peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945, diorama selanjutnya peristiwa proses proklamasi, diorama lainnya menggambarkan keadaan ketika Indonesia telah merdeka yaitu tentang penolakan-penolakan yang ada di indoesia seperti Ambarawa dan sebagiannya, termasuk tentang pembentukan TNI, seperti pemilihan panglima TNI yang saat itu Panglima Jendral Sudirman yang terpilih, lalu perang-perang yang dikomandoi Jendral Sudirman. Itu ada total 14 buah diorama yang bisa kalian dan pengunjung lain bisa visualisasikann."

"Lalu Relief, banyak dari senjata, perlengkapan pertempuran, perlengkapan TNI kita yaitu teropong, tas magasin, pedang Katana, baju baju asli tentara Jepang dan TNI ketika masih dalam masa perjuangan."

Farhan: "Mengapa Kota Bogor menjadi tempat dibangunnya museum PETA?"
Kapten Suroso: "Karena memang tentara PETA itu dididiknya pertama kali di Bogor sehingga museum, monumen dan relevansinya di Bogor karena juga ditempat inilah tentara PETA itu ditumbuh kembangkan, dididik dan dibentuk untuk menjadi prajurit-prajurit tentara PETA yang menjadi cikal bakal TNI pada saat ini. Jadi, museum PETA sementara ini hanya di Bogor."

Farhan: "Apakah satu tema dengan Museum Perjuangan yang berada di jalan merdeka?"

Kapten Suroso: "Tidak, museum PETA ini temanya Nasional, artinya jenis perlawan dan perjuangannya secara keseluruhan sejak jaman tentara PETA  hingga saat ini menjadi TNI, sehingga perjuangannya tidak hanya kedaerahan tetapi seluruh Indonesia, sementara museum perjuangan mengangkat sejarah yang ada di Kota Bogor saja."

Farhan: "Kepala Museum ini sempat berapa kali berganti?"

Kapten Suroso: "Museum peta ini diresmikan pada tahun 1995, kemudian yang megelola museum PETA ini adalah Yayasan PETA, jadi kepalanya itu diangkat oleh Yayasan, sampai pada tanggal 9 Agustus 2010 museum ini diserahkan pada pemerintah. Nah, pada saat diserahkan pada Dinas Sejarah TNI AD untuk dikelola, Dinas Sejarah sempat menunjuk 2 kali ditunjuk antara tahun 2010 sampai sekarang 2015, saya menjabat dari tahun 2012."

Farhan: "Bagaimana dengan antusiasme masyarakat terhadap museum PETA ini?"

Kapten Suroso: "Seperti yang bisa kita lihat cukup signifikan dan mencakup banyak kalangan SD, SMP, SMA bahkan Umum seperti hari ini dari KeMenHub yang barusan saya pandu selama 1,5 jam. cukup ramai, jadi utuk antusiasme cukup pada musuem PETA. Namun kami didominasi oleh kota lain seperti Tangerang, untuk dari Bogor sendiri masih kurang.

Farhan: Bagaimana dan dari mana saja pemasukan Museum?

Kapten Suroso: "Museum ini dikelola negara, museum ini dipelihara negara, idealnya tidak ada tiket dan realitanya memang tidak ada tiket, jadi untuk partisipasi dari pengunjung dalam rangka untuk membayar honor karyawan yang kerja disini, karna selain dari dinas, pemerintah dan TNI, kita juga mengangkat honor yang berjumlah 6 orang yang mesti dibayar di museum PETA ini, jadi kalau perawatan oleh pemeritah namun dalam kebersihan yang melakukan adalah para honorer karena tenaga kami belum mencukupi. Jadi pemasukan dari pengunjug hanya antisipasi pembayaran pegawai honorer yang berjumlah 6 orang itu saja." Tutupnya untuk mengakhiri sesi wawancara.

Setelah wawancara tersebut kami berdua juga sempat diasehati dengan sangat bijak oleh Pak Suroso, beliau mengatakan bahwa agar kita sebagai generasi penerus bangsa bisa selalu berada dalam jalur yang benar dan tidak belok kearah yang menyesatkan sehingga merugikan banyak orang.


"Saya minta kalian sebagai generasi muda agar menjauhi rokok karna itu menjadi cikal bakal dari sifat jahat lainnya, setelah rokok kamu bisa naik level dengan minum-minuman keras lalu puncaknya narkoba. Jauhi juga segala bentuk nafsu yang merugikan kalian dan keluarga kalian, contohnya jika kalian diajak berantem lebih baik kalian ngalah, karna mengalah bukan berarti kalah, lebih baik megalah dari pada membuat masalah. Lalu kalian bawa motor kan? Itu adalah fasilitas yang diberikan orang tua, jadi jagalah fasilitas itu dengan hati jangan dengan nafsu. Saya dengar ada kasus pembunuhan bertipe pengeroyokan dan bermotif dendam di daerah Cilebut baru baru ini (kebetulan deket rumah saya dan itu bener) itu adalah contoh yang mesti kalian antisipasi." Tutup beliau dengan penuh wibawa sebagai seorang pemimpin dari TNI AD Bogor.

Sungguh mengesankan di pengalaman jurnalis hari ini, awal kami yang kami kira Pak kepala Museumnya serem ternyata asik dan suportif! Yang awalnya wawancara ini menjadi konyol ternyata lebih konyol, engga ding ternyata jauh dari perkiraan dan harapan kami diawal, kami bisa mendapatkan banyak pelajaran formal maupun moral dalam satu hari, dalam formal kami bisa mendapatkan pengalaman lebih dari aktivitas jurnalis yang saya gemari akhir-akhir ini, jika biasanya saya hanya bergelut untuk menerjemahkan berita-berita dari sumber sekunder yang paling dekat dengan klub LFC (biasa saya post di FP), maka sekarang saya langsung menjadi pelaku wartawan yang membuat suatu artikel langsung dari sumber primer, yaitu orang yag paling berkompeten di bidang yang saya jadikan tema wawancara saya kali ini.

Parah Panji belum juga pose, hasil muka jadi abstrak
Lalu pendidikan moralnya tentu nasihat yang diberikan oleh Panglima Kapten Suroso sekaligus sebagai Kepala Museum dengan kalimatnya: "Mengalah bukan berarti kalah, namun hanya untuk meghindari masalah.", jadi berlakulah bijak sejak dini agar tidak tersesat dikemudian hari. Sekian dari saya. Muhamad Farhan Maulana.

Terimakasih pak atas wawacaranya, jawabannya serta nasehatnya, semoga kami bisa terus amanah. - Pak Suroso (kiri), korban Pedofil (kanan)