Artikel saya kali ini berbicara tentang sejarah, ya saya tau klub kebanggaan saya memang kental dengan aroma sejarah, namun dalam rangka tugas Bahasa Indonesia yang diberikan Bu Hastri selaku guru mapel tersebut untuk mengisi liburan yang dihadiahi selama satu minggu akhirnya kami (saya dan 1 teman saya) bermaksud untuk memenuhi tugas tersebut.
Menurut saya tugas ini spesial (gak pake sayur), karena berhubungan dengan dunua jurnalistik, ya jurnalistik adalah hobi yang saya sangat cintai saat ini, selain senang memberikan berberapa artikel dengan berbagai macam tema, seperti olahraga terutama sepakbola, tentang politik dan lain lain, termasuk yang tentang tulisan kali ini mungkin akan menjadi salah satu tema kesukaan saya nanti.
Tugas ini sebenarnya sih berkelompok, namun karna saya memiliki pengalaman yang sangat tidak mengenakan bagi saya ketika menjalankan tugas kelompok interview seperti yang ini maka saya meminta maaf kepada Bu Hastri dan teman-teman kelompok saya, bukannya saya anti-sosial ya, hanya karna ketidak mampuan saya mengerjakan dengan cara kelompok di tema pelajaran interview ini yang membuat akhirnya saya hanya mengajak teman yang sering saya ajak sharing Panji (kelas sebelah) agar saya bisa lebih serius menjalankan tugas saya. Diharapkan sodara sodari mengerti.
 |
| I just feel free and more comfortable with my own way. |
Oke, kita mulai dari awal. Bisa dibilang persiapan saya cukup minim karna pada tanggal 5 april atau 2 hari sebelum hari-h pembuatan tugas ini saya baru mengerjakan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat suatu wawancara, yang saya maksud adalah pertanyaan dan baha lainnya handycam. menilik dari bahan tersebut, skema awal saya membuat interview ini supaya bisa terlihat lebih pro, hehe.. Namun karna keterbatasan barang dan kemampuan maka dengan waktu 1 hari saya putuskan untuk mengganti skema tersebut dengan hanya mengandalkan recorder hape Nokia C3-00 dan berberapa pertanyaan yang dinilai anti-mainstream dan diharapkan bisa benar-benar menambah pengetahuan pembaca yang gabisa pembaca dapatkan dari Wikipedia atau artikel yang berada di blog setema lain.
Malamnya sekitar jam setengah-delapan tanggal 6 April (H-1), saya memutuskan untuk mengajak Panji (yang dari siang-sore-malam hari itu paling rajin PING!!! di bbm saya dengan maksud membuat suatu argumen baru seperti biasa), Setelah mengalami tawar menawar yang panjangnya lebih dari jarak Bumi ke Bekasi, akhirnya Panji hanya menawarkan dirinya sebagai kerabat saya saja ketika ditanya ingin menyelesaikan tugas tersebut karena dirinya dengan kelompoknya yang awal sudah sepakat untuk melakukan tugas berkelompok. It's okay dude. Aku biasa sendiri, apalagi doi belom peka-peka *tepok nyamuk. Dan dihari yang sama Panji juga sepakat untuk perjanjian dengan saya yaitu "Besok kita ke museum PETA, jam 09.45 janjian di pertigaan Alfamart Bojongggede (orang bojong pasti tau), no ngaret kecuali gue, jadi sekarang lu tidur bro takut kesiangan, jangan lupa cuci muka, gosok gigi pake sabun mandi." *kalimat yang saya coret tidak benar-benar saya ucapkan kok.
Keesokan harinya tepatnya di hari-h sekitar jam setengah 5 pagi saya dibanguni oleh alarm jam weker yang kerasnya ampe buat penghuni rumah saya juga ikutan bangunn, dengan raut muka Zayn Malik abis ultah dilempar bahan pembuat martabak saya cuci muka, gosok gigi, ibadah subuh, lalu..... tidur lagi.
Bangun lagi sekitar jam 8 lalu siap siap sarapan, mandi dan cusss otw... ketempat tidur lagi. Haha engga langsug cuss ketempat janjian pastinya. Kerabat saya Panji diantar ibunya saat itu. Dan tanpa pikir panjang sekitar jam 10 kurang kami melakukan perjalanan ke museum PETA sembari mengejek manusia manusia dari negeri Indonesia yang belum tersentuh revolusi mentalnya pak Presiden yang sebenernya sampe saat ini sayapun belum merasakan salah satu bagian dari janjinya saat Pilpres yang menurut saya sangat menggugah hati itu. Ya saya mengejek manusia manusia yang mengaku memiliki SIM namun mindsetnya seperti orang yang ga lulus TK (ga ngerti aturan dasar), seperti kontraflow, supir angkot yang ngeterm sembarangan, rider yang ga sabar menghadapi macet sehingga buat kemacetan baru, rider yang mesra-mesraan dengan pacarnya, ah pokoknya mengeneskan banget deh.
 |
| Sesosok Panji. |
Setelah kengenesan di sepanjang jalan akhirnya kami sampai ditempat yang menurut saya sangat strategis, dijantung kota Bogor, dengan bangunan kokoh TNI yang dipertegas kebenarannya dengan banyaknya monumen senjata yang dijajakan dibelakang pagar yang sangat gagah terlihat. Akhirnya kami sampai dipintu masuk paling tengah dari komplek tersebut, dididing bagian atas bangunan tersebut kami langsung mendapatkan angin segar mengenai kepastian bahwa kami tidak salah lokasi, ya disana langsung terpampang 'Musem PETA Bogor', sebelum masuk ke gerbang museum, kami disambut dengan banyaknya bis dan berberapa angkot yang sepertinya charter-an dari salah satu rombongan yang terlihat ramai (yaiyalah Malih namanya juga rombongan), usut punya usut yang saya lihat ternyata mereka adalah rombongan dari salah satu TK, soalnya sedikit lebih pendek dari saya *oke saya akui saya seukuran ideal anak kelas 5 SD. Setelah para adik adik di TK tersebut bubar kami rencananya ingin langsung melakukan wawancara untuk mendapatkan jawaban dari tugas tentang museum ini, namun ternyata setelah kami bertanya kepada salah satu penjaga mengatakan bahwa orang yang berwajib kami wawancarai masih melakukann tur dengan rombongan dari Dinas Perhubungan RI. Wow! Dinas Perhubungan, ternyata bukan hanya kalangan unyu, kalangan om-om gagah dan ayunya tante-tante dari Dishub juga tak kalah ingin eksis dan menambah pengetahuan di museum ini.
Akhirnya tidak sampai 30 menit saya menunggu, ternyata kami berdua sudah dipanggil menghadap kepala museum, bukan bukan karna tadi kami iseng di museum, ternyata kami langsung dihadapkan dengan kepala museum untuk melakukan wawanncara sederhana tersebut! Gokil! ini kami langsung ke kepala museumnya! Mana belum siap sepenuhnya dengan pertanyaan-pertanyaannya lagi! Ah karna kami sudah didesak dengan penjaganya untuk melakukan interview ini dengan berkata "Ayo kamu yang mau wawancara sudah ada kepala museumnya. Lebih cepat lebih baik" kata penjaga museum yang saya berikan hipotesa bahwa ia mungkin adalah pendukung Pak JK di Pilpres 2009, akhirnya kami dengan tampang polos seperti anak kecil usia 7 bulan yang ditanyain 'berapa nem SMP kamu?' terpaksa langsung melakukan interview yang kami kira awalnya akan berakhir konyol.
 |
| Tadinya pertanyaannya mau yang iniii-_- |
Kami datang dengan membawa recorder dan satu buah kamera hape saya (karna habis narsis di patung Pak Jendral Sudirman) mencoba seprofesional mungkin menunjukan bahwa kami adalah siswa SMA Negeri 1 Bojonggede yang terkenal karna over-pedenya, lalu kami langsung menghadapi Tentara yang terlihat gagah, sedikit serem (ampun pak) dan wibawa bernama Kapten Suroso, Pak Kapten ini ternyata adalah kepala museum PETA, beliau ternyata berasal dari TNI, padahal saya kira kami akan dihadapkan dengan kepala atau pemadu tur museum yang biasanya berkacamata dan berpakaian formal PNS. Kami berjalan dan langsung dihadapkan oleh Tentara yang sedang duduk dengan sedikit rasa kepayahan akibat memandu total 4 rombongan sebelum kami datang.
Baru saja ketika kami ingin memperkenalkan diri, justru kami yang langsung disuguhi pertanyaan "Ini adek darimana?" tukasnya dengan santai, "Kami siswa dari SMA Negeri 1 Bojonggede yang bermaksud ingin menyelesaikan tugas tentang interview pak" kata manusia berkacamata yang mukanya sedikit mirip Zayn Malik view dari belakang *itu saya ya. "Ini disuruh guru?" balasnya dengan nada penasaran, "Iya pak, tugasnya disuruh guru namun untuk gagasan pokok dari tugas ini adalah inisiatif kami sendiri," balas mantan pemilik jambul yang terkenal seantero sekolah itu *saya lagi. Harapan awal ketika saya ingin mengawali wawancara dari narasumber paling berkompeten di museum ini mengucapkan salam lalu langsung ke pertanyaan saya, namun ternyata saya malah langsung ditanya duluan "Kenapa kamu memilih museum ini?", lalu saya jawab "Karna supaya lebih menarik aja pak, ditambah saya adalah mantan siswa Sosial jadi saya memilih museum sebagai objek tugas wawancara ini pak.", lalu Pak Kapten mengganguk dan membalas "Siapa? YANG NANYA!?", "Baik pak bisa kita langsung ke pertanyaan saya?", pertanyaan santai dari si jomblo yang masih menunggu gebetannya peka *saya lagi, "Siap." jawab penuh kesiapan dari Pak Kapten. Akhirnya kami melakukan interview dengan berberapa pertanyaan yang keasliannya penuh dengan penuh tanggung jawab dan pastinya menarik, asli, anti-mainstream, anti karat, anti air. Oke itu embel embel produk jam tangan kali ya.
Farhan: "Apa yang menjadi latar belakang atau yang menjadi tujuan utama dibuatnya museum ini?"
Kapten Suroso: "Agar supaya kita semua sebagai generasi penerus bangsa bisa mengenang kembali kemudian mempelajari, bahkan lebih yaitu melestarikan nilai nilai perjuangan para pejuang tanah air kita."
Farhan: "Apa fungsi awal dari bangunan museum PETA ini?"
Kapten Suroso: "Dibangun pada tahun 1745 yang artinya sudah lebih dari 210 tahun berdiri yang saat itu didirikan oleh pemerintah penjajah Belanda, Museum ini dibuat sebagai tempat tinggal para pegawai dan para pengawal Gubernur Jendral Belanda yang kantornya berada di Istana Bogor. Setelah Belanda menyerah pada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, tempat ini diambil alih oleh Jepang sebagai tempat melatih dan mendidik calon calon tentaranya. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dipakai sebagai Zeni TNI AD, dan pada tahun 1995 satu unit bangunan yang terletak paling depan dari komplek Zeni ini dipakai sebagai museum PETA."
Farhan: "Apa saja koleksi-koleksi dari museum ini?"
Kapten Suroso: "Museum PETA ini menawarkan relief-relief yang berada dalam monumen-monumen disini, selain itu ada dua buah bangunan yang menjadi bagian dari museum ini yang isinya dapat dideskripsikan oleh diorama-diorama.
"Disana ada 14 diorama, diorama sendiri adalah salah satu koleksi atau wahana di museum ini yang memberikan deskripsi tentang kejadian pada masa lalu. Diorama pertama menggambarkan tentang pembentukan tentara PETA, diorama kedua tentang pendidikan tentara PETA, diorama ketiga tentang pemberontakan tentara PETA, lalu yang ke empat menggambarkan peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945, diorama selanjutnya peristiwa proses proklamasi, diorama lainnya menggambarkan keadaan ketika Indonesia telah merdeka yaitu tentang penolakan-penolakan yang ada di indoesia seperti Ambarawa dan sebagiannya, termasuk tentang pembentukan TNI, seperti pemilihan panglima TNI yang saat itu Panglima Jendral Sudirman yang terpilih, lalu perang-perang yang dikomandoi Jendral Sudirman. Itu ada total 14 buah diorama yang bisa kalian dan pengunjung lain bisa visualisasikann."
"Lalu Relief, banyak dari senjata, perlengkapan pertempuran, perlengkapan TNI kita yaitu teropong, tas magasin, pedang Katana, baju baju asli tentara Jepang dan TNI ketika masih dalam masa perjuangan."
Farhan: "Mengapa Kota Bogor menjadi tempat dibangunnya museum PETA?"
Kapten Suroso: "Karena memang tentara PETA itu dididiknya pertama kali di Bogor sehingga museum, monumen dan relevansinya di Bogor karena juga ditempat inilah tentara PETA itu ditumbuh kembangkan, dididik dan dibentuk untuk menjadi prajurit-prajurit tentara PETA yang menjadi cikal bakal TNI pada saat ini. Jadi, museum PETA sementara ini hanya di Bogor."
Farhan: "Apakah satu tema dengan Museum Perjuangan yang berada di jalan merdeka?"
Kapten Suroso: "Tidak, museum PETA ini temanya Nasional, artinya jenis perlawan dan perjuangannya secara keseluruhan sejak jaman tentara PETA hingga saat ini menjadi TNI, sehingga perjuangannya tidak hanya kedaerahan tetapi seluruh Indonesia, sementara museum perjuangan mengangkat sejarah yang ada di Kota Bogor saja."
Farhan: "Kepala Museum ini sempat berapa kali berganti?"
Kapten Suroso: "Museum peta ini diresmikan pada tahun 1995, kemudian yang megelola museum PETA ini adalah Yayasan PETA, jadi kepalanya itu diangkat oleh Yayasan, sampai pada tanggal 9 Agustus 2010 museum ini diserahkan pada pemerintah. Nah, pada saat diserahkan pada Dinas Sejarah TNI AD untuk dikelola, Dinas Sejarah sempat menunjuk 2 kali ditunjuk antara tahun 2010 sampai sekarang 2015, saya menjabat dari tahun 2012."
Farhan: "Bagaimana dengan antusiasme masyarakat terhadap museum PETA ini?"
Kapten Suroso: "Seperti yang bisa kita lihat cukup signifikan dan mencakup banyak kalangan SD, SMP, SMA bahkan Umum seperti hari ini dari KeMenHub yang barusan saya pandu selama 1,5 jam. cukup ramai, jadi utuk antusiasme cukup pada musuem PETA. Namun kami didominasi oleh kota lain seperti Tangerang, untuk dari Bogor sendiri masih kurang.
Farhan: Bagaimana dan dari mana saja pemasukan Museum?
Kapten Suroso: "Museum ini dikelola negara, museum ini dipelihara negara, idealnya tidak ada tiket dan realitanya memang tidak ada tiket, jadi untuk partisipasi dari pengunjung dalam rangka untuk membayar honor karyawan yang kerja disini, karna selain dari dinas, pemerintah dan TNI, kita juga mengangkat honor yang berjumlah 6 orang yang mesti dibayar di museum PETA ini, jadi kalau perawatan oleh pemeritah namun dalam kebersihan yang melakukan adalah para honorer karena tenaga kami belum mencukupi. Jadi pemasukan dari pengunjug hanya antisipasi pembayaran pegawai honorer yang berjumlah 6 orang itu saja." Tutupnya untuk mengakhiri sesi wawancara.
Setelah wawancara tersebut kami berdua juga sempat diasehati dengan sangat bijak oleh Pak Suroso, beliau mengatakan bahwa agar kita sebagai generasi penerus bangsa bisa selalu berada dalam jalur yang benar dan tidak belok kearah yang menyesatkan sehingga merugikan banyak orang.
"Saya minta kalian sebagai generasi muda agar menjauhi rokok karna itu menjadi cikal bakal dari sifat jahat lainnya, setelah rokok kamu bisa naik level dengan minum-minuman keras lalu puncaknya narkoba. Jauhi juga segala bentuk nafsu yang merugikan kalian dan keluarga kalian, contohnya jika kalian diajak berantem lebih baik kalian ngalah, karna mengalah bukan berarti kalah, lebih baik megalah dari pada membuat masalah. Lalu kalian bawa motor kan? Itu adalah fasilitas yang diberikan orang tua, jadi jagalah fasilitas itu dengan hati jangan dengan nafsu. Saya dengar ada kasus pembunuhan bertipe pengeroyokan dan bermotif dendam di daerah Cilebut baru baru ini (kebetulan deket rumah saya dan itu bener) itu adalah contoh yang mesti kalian antisipasi." Tutup beliau dengan penuh wibawa sebagai seorang pemimpin dari TNI AD Bogor.
Sungguh mengesankan di pengalaman jurnalis hari ini, awal kami yang kami kira Pak kepala Museumnya serem ternyata asik dan suportif! Yang awalnya wawancara ini menjadi konyol ternyata lebih konyol, engga ding ternyata jauh dari perkiraan dan harapan kami diawal, kami bisa mendapatkan banyak pelajaran formal maupun moral dalam satu hari, dalam formal kami bisa mendapatkan pengalaman lebih dari aktivitas jurnalis yang saya gemari akhir-akhir ini, jika biasanya saya hanya bergelut untuk menerjemahkan berita-berita dari sumber sekunder yang paling dekat dengan klub LFC (biasa saya post di FP), maka sekarang saya langsung menjadi pelaku wartawan yang membuat suatu artikel langsung dari sumber primer, yaitu orang yag paling berkompeten di bidang yang saya jadikan tema wawancara saya kali ini.
 |
| Parah Panji belum juga pose, hasil muka jadi abstrak |
Lalu pendidikan moralnya tentu nasihat yang diberikan oleh Panglima Kapten Suroso sekaligus sebagai Kepala Museum dengan kalimatnya: "Mengalah bukan berarti kalah, namun hanya untuk meghindari masalah.", jadi berlakulah bijak sejak dini agar tidak tersesat dikemudian hari. Sekian dari saya. Muhamad Farhan Maulana.
 |
| Terimakasih pak atas wawacaranya, jawabannya serta nasehatnya, semoga kami bisa terus amanah. - Pak Suroso (kiri), korban Pedofil (kanan) |