Timnas Spanyol si Juara Dunia 2010 ini menjadi salah satu kiblat sepakbola dunia pada masanya, bayangkan jika puluhan pemain terbaik dunia berkumpul dalam satu tim yang dikomandoi pelatih kawakan seperti mendiang Luis Aragones yang menghantarkan Spanyol juara Piala Eropa 2008 hingga Vicente del Bosque menjadi sorotan setelah membuat penampilan luar biasa di Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 lewat permainan cantik dan atraktif.
| Spanyol Si Raja Sepakbola 2010 |
Semua figur bekerja saat itu, mulai dari kiper yang memiliki kemampuan bukan sekedar menangkap dan menghentikan laju bola seperti Iker Casillas, Victor Valdes atau Pepe Reina, bek tangguh yang cerdik dan cepat seperti Carles Puyol, Sergio Ramos atau Gérard Pique, gelandang yang seolah olah memiliki otak yang berada di kaki-kakinya seperti Xavi, Xabi dan Iniesta hingga penyerang yang juga memiliki ketajaman dengan kemampuan serba bisa seperti Cecs Fabregas, David Villa atau Fernando Torres.
Sebelum kekecewaan pada Piala Dunia 2014 lalu, Spanyol serasa berada di atas angin menyusul bergabungnya sang pencetak gol terbaik nomor 3 di La Liga musim lalu bernama Diego Costa. Namun, realita berkata lain. Di Piala Dunia, Cerita seperti bertolak belakang. Costa gagal menampilkan permainan baik dan tidak mencetak sebiji gol pun untuk Timnas pilihannya di event 4 tahunan itu dan La Furia Roja yang berangkat dengan label juara bertahan pulang dengan label pecundang.
Ada berberapa hal yang menurut saya mempengaruhi penampilan Diego Costa selama ini di Timnas Spanyol. Salah satunya adalah ketidakcocokan taktik
![]() |
| Datang sebagai ancaman, pulang sebagai pecundang. |
Ada berberapa hal yang menurut saya mempengaruhi penampilan Diego Costa selama ini di Timnas Spanyol. Salah satunya adalah ketidakcocokan taktik
Timnas Spanyol dikenal memiliki deretan penyerang tajam yang sangat sukses dan cukup melegenda, sebut saja Marcos Senna, David Villa, Fernando Torres dan kini semua berpikir Diego Costa adalah kelanjutan dari mereka.
Namun, perbedaan mendasar dan salah satu yang paling riskan untuk seorang penyerang adalah cocok atau tidaknya taktik yang dimainkan oleh sang juru taktik. Rasanya untuk Vicente del Bosque, Diego Costa bukanlah penyerang yang diimpikannya.
| Ada yang salah dengan Costa? |
Atletico Madrid, klub yang membesarkan namanya hingga di panggil ke Timnas Spanyol saat itu dinilai memiliki permainan yang jauh dari kata Spanyol, mereka bermain ala Amerika Latin yang mengandalkan ketahanan tubuh untuk bermain sepakbola, Diego Costa begitu nyetel dengan permainan itu dan kinipun ia dilatih oleh juru taktik yang memainkan filosofi Non-Spanyol dan bermain di liga sekeras Liga Primer dan tampaknya dirinya tidak perlu banyak waktu untuk menyesuaikan diri disana.
| Perbedaaan tajam antara jersey merah dengan biru Ch*lsea |
Sementara di Timnas Spanyol yang memainkan sepakbola tiki-taka yang kental seakan bertolak belakang dengan kemampuan alami yang dimiliki Costa, David Villa memang seorang striker, namun kecepatan dan kejeniusannya dalam bermain bola adalah nilai plus yang belum dimiliki Diego Costa, Fernando Torres hampir sama dengan Costa, namun Torres adalah Spainard alami, dia mengerti sepakbola Spanyol walaupun dirinya tidak memiliki atribut segesit David Villa.
| El Nino and El Costa. Same but Different |
Solusi? Sepertinya menanggalkan Tiki-taka, taktik yang sudah terlalu kuno untuk tuntutan sepakbola jama sekarang adalah sebuah keharusan untuk menggapai mimpi terkini. Namun, sepertinya akan sulit bagi Vicente del Bosque (yang akan melepas masa kerjanya di Timnas Spanyol seusai Piala Eropa 2016) melakukan solusi yang terbilang tadi. Jadi, juara atau tinggalkan tiki taka?







